Home Berita Rangkuman Sementara Dari Malang Tentang Mahasiswa Ngada Yang Dianiaya

Rangkuman Sementara Dari Malang Tentang Mahasiswa Ngada Yang Dianiaya

737
0

Menurut Ibu Kandung Korban, para pelaku yang menyekap dan menganiaya korban adalah sesama Mahasiswa. Kasus ini sedang dalam penanganan Polresta Malang. Sejauh ini baru 3 pelaku yang sudah ditetapkan sebagai Tersangka dan ditahan. Sebagian pelaku lain masih terus diburu pihak Polri”.

LN Focus Indonesia News – Mahasiswa Universitas Tribuana Tungga Dewi Malang, Semester III, Jurusan Arsitek, Alexandro Reynaldi Vincent Witu Tena alias Kevin Tena (20 th) asal Kelurahan Mataloko, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Flores-NTT, yang tengah dirawat intensif di Kota Malang atas aksi kekerasan dan penyekapan, kini sudah bertemu Ibu kandungnya, Senza Tena, yang tiba di Kota Malang pada tanggal 26 September 2019.

Wawancara langsung redaksi LN Focus Indonesia News melalui sambungan telepon dengan ibu kandung korban yang sudah berada di Kota Malang (26/09/2019), sejumlah informasi akurat berhasil diketahui setelah beberapa jam ibu kandung korban melihat dan mendengar langsung kesaksian puteranya Alexandro Reynaldi Vincent Witu Tena alias Kelvin.

Baca juga : https://larantuka.com/2019/09/aniaya-mahasiswa-di-kos-tlogomas-malang-keluarga-minta-polresta-ringkus-total/

Berikut sejumlah data rangkuman redaksi Ln Focus Indonesia News – larantuka.com melalui Ibu Kandung Korban.

Alexandro Reynaldi Vincent Witu Tena alias Kevin Tena disekap dan dikeroyok tragis oleh para pelaku hanya dengan alasan karena korban perna mengedit seragam organisasi bela diri PSHT disaat si korban alias Kelvin masih duduk di semester I mahasiswa kampus Universitas Tribuana Tungga Dewi Malang. Saat ini atau pada saat kejadian, Kelvin adalah mahasiswa semester III di kampus yang sama.

Foto Korban Kevin Tena, diambil dari akun media social. Foto korban bersama saudari kandungnya saat masih sehat

Foto edit yang dibuat si korban lalu dipostingnya pada dinding akun media sociall milik korban, tidak merusak apapun dalam tampilan seragam PSHT atau Pencak Silat Setia Hati, termasuk logo dan symbol-symbol PSHT tetap utuh sebagaimana keasliannya.

Korban juga tidak menempel wajah pihak lain diatas baju seragam persilatan tersebut, sebaliknya hanya menempatkan wajahnya sendiri karena kesukaannya terhadap PSHT sebagai salah satu pilihan kegiatan extra kampus di Universitas Tribuana Tungga Dewi Malang. Korban sendiri sebenarnya tertarik dengan cabang persilatan PSHT dan berkeinginan untuk bergabung masuksebagai anggota PSHT, mengikuti kegiatan extra bela diri PSHT di Kampus Tribuana Malang.

Kisah edit foto ini tidak perna ditanggapi sejak pasca pengeditan dimana korban masih duduk di semester I, namun musibah penyekapan dan penganiayaan tragis dengan modus alasan karena tidak puas atas pengeditan tersebut baru terjadi saat korban sudah duduk di semester III Kampus Tribuana Malang, yakni pada tanggal 22 September 2019, atau satu tahun setelahnya.  

Baca : https://larantuka.com/2019/09/video-brutal-premanisme-keroyok-kelvin-mahasiswa-ngada-di-kota-malang/

“Kondisi Kevin saat ini masih dalam perawatan di rumah, dalam wilayah Kota Malang. Pada bagian belakang tubuh anak saya terdapat memar dan luka-luka bekas pukulan keras dan tendangan. Selain dipukul dengan kaki dan tangan, dia juga dipukul dengan menggunakan benda-benda keras dan juga dipukul dengan kayu. Bagian belakang badan Kevin kebiruan, memar dan masih ada bengkak. Sementara untuk proses hukum, Kevin sudah diambil visum saat kasus dilaporkan ke pihak Polri di Malang”, ungkap Ibu Kandung Korban, Senza Tena.

Menurut Ibu Kandung Korban, para pelaku yang menyekap dan menganiaya korban adalah sesama Mahasiswa. Kasus ini sedang dalam penanganan Polresta Malang. Sejauh ini baru 3 orang pelaku yang sudah ditetapkan sebagai Tersangka dan ditahan. Sebagian pelaku lain masih terus diburu pihak Polri”.

Saat berita ini diturunkan Redaksi media ini sedang mencoba konfirmasi Humas Polresta Malang Provinsi Jawa Timur melalui koresponden website Polresta Malang guna mendapatkan materi pers terkait penanganan dan perkembangan kasus termasuk kepastian langkah Polri atas sebagian besar pelaku yang belum ditangkap dan masih berkeliaran bebas.

Ibu Kandung korban, Senza Tena meminta dukungan dari berbagai pihak agar semua pelaku penyekapan dan pengeroyokan sadis yang menganiaya puteranya segera menyerahkan diri dan ataupun diringkus oleh pihak Polri guna para pelaku mempertanggungjawabkan perbujatan keji mereka secara hukum. (Tim/Red)