Home Catatan Pojok Bung Red Politik Kekuasaan Bingkai Sinterklas Menidurkan Kesadaran Rakyat

Politik Kekuasaan Bingkai Sinterklas Menidurkan Kesadaran Rakyat

451
0

Catatan Pojok Bung Red***  

Wikipedia menulis, Politik Kekuasaan atau Machtpolitik dalam kamus Jerman merupakan bentuk hubungan internasional ketika entitas berdaulat melindungi kepentingannya sendiri dengan mengancam entitas lain melalui agresi militer, ekonomi ataupun politik.

Jauh sebelumnya istilah ini dijadikan judul buku Martin Wight tahun 1979 dan merupakan buku paling berpengaruh ke-18 sejak Perang Dunia II menurut Times Literary Supplement.

Politik kekuasaan sebenarnya adalah cara memahami dunia hubungan internasional. Negara-negara bersaing memperebutkan sumber daya dunia. Suatu Negara beruntung jika memiliki kemampuan untuk mengacaukan negara lain.

Politik jenis ini mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan lain ataupun komunitas internasional.

Teknik-teknik politik kekuasaan meliputi banyak hal termasuk operasi rahasia, shock and awe serta peperangan asimetris.  

Dalam arti praktis, istilah politik kekuasaan mencakup arti, cara maupun gerakan untuk menggerakan sesuatu dan orang-orang guna memenangkan kepentingan pribadi maupun kelompok dan golongan diatas dari kepentingan besar lainnya. Kira-kira demikian !

Berikutnya,Sinterklas dalam Kamus Besar Indonesia menulis sebagai tokoh suci (dalam agama Kristen) yang konon sangat sayang dan selalu memberi hadiah kepada anak-anak pada hari-hari penting, terutama pada ulang tahunnya tanggal 6 Desember – perayaan memperingati hari ulang tahun Sinterklas, tanggal 6 Desember.  

Sinterklas biasanya hadir pada hari Natal. Pria berjanggut putih, bertopi kuncung dengan mengendarai kereta kencana datang menyambangi siapa saja, khususnya anak-anak untuk memberikan hadiah.

Tentang Politik Kekuasaan dalam Bingkai Sinterklas.

Jelang diselenggarakannya sebuah Pemilihan Umum maupun Pemilihan Kepala Daerah misalnya, menjadi rahasia umum, ingin tampil di arena Pilkada, menu pilihan politik tidak jarang mendesak para pelaku politik – sesekali bisa juga ‘policik” mendadak menjadikan diri sinterklas. Seolah-olah.

Bingkai Sinterklas berdatangan, perseorangan maupun bergerombol, menemui orang-orang miskin yang terpinggirkan. Melancarkan gerakan memberi hadiah, gula-gula dan seterusnya di muka Pemilu.

Bedanya, kalau sinterklas dalam kisah jelang Natal maupun saat Natal memberikan hadiah tanpa pamrih dengan menyampaikan pesan-pesan menciptakan kedamaian, mengajak perubahan mental, mengajak kerja keras dan ataupun mengawasi jalannya Bangsa untuk tetap bermartabat dan berkualitas – sebaliknya, sinterklas politik memberi hadiah dengan segudang pamrih.

Pilih saya. Saya Pahlawan. Pahlawan Ekonomi dan Pahlawan seterusnya. Blak-blakan menyebut ‘bakal nyalon. Ya, datang hanya untuk bertarung. Itulah beda Sinterklas Politik dengan Sinterklas Natal.

Sinterklas Politik hanya datang pada momen suksesi pemilu tiba. Hanya untuk nyalon. Jika kalah menghilang. Jika menang menikmati jabatan dan seterusnya.

Ya, begitulah. Rakyat miskin menjadi komoditas politik dalam harga lembaran rupiah, sekantong sembako. Sudah terbeli, sudah terlunasi – anda sudah berhasil dimanipulasi. Selebihnya menunggu hari pemungutan tiba. Kemenangan itu datang. Game is Over.

Sekali dalam lima tahun rakyat-rakyat miskin disambangi sinterklas-sinterklas politik.

Lima tahun sebelumnya atau lima tahun sesudahnya adalah persembunyian’ dalam segala kemewahan dan tidak ada sepintas pun niat menemui si miskin yang bertebaran di mana-mana.

Mari Kupas Bersama

Jika Politik berbingkai Sinterklas, bukan Sinterklas Natal, ketika terpilih masih Sinterklas kah?.

Tidak. Tidak satu pun Sinterklas Politik yang berfoya-foya di gerbang Pemilihan Umum ketika sudah terpilih mau berbagi harta mereka, mau berbagi uang dan gelimpangan kekayaan mereka kepada masyarakat.

Yang terjadi malah sebaliknya, berpacu memanen gaji dari uang-uang rakyat, uang negara, tutup pundi-pundi yang sudah terkuras, menikmati bonus maupun laba pendapatan saat berkuasa.

Ini mirip dengan teori Mancing Boros Mania. Memancing dengan pola boros menggelontorkan umpan-umpan manis. Buang umpan guna dikukus ikannya, digoreng dan dilahap hingga kenyang.   

Politik merebut kekuasaan dengan bingkai sinterklas, atau ala sinterklas dalam dimensi seperti ini sebenarnya sedang tidak bergerak untuk menunjukan jati diri yang sesungguhnya di hadapan kebutuhan Bangsa yang menenkankan politik harus mengutamakan parade nilai berkualitas untuk turut mendorong pemajuan bangsa dalam payung Revolusi Mental dengan melibatkan seluruh stake holder bangsa pro pencerahan masyarakat.

Bingkai Sinterklas dalam panggung politik praktis sesungguhnya mau menguburkan hal-hal seperti itu, lalu menggantkannya dengan pola-pola pragmatis hingga menina-bobo rakyat. Kesadaran memilih akan terbungkus gula-gula Pemilu.

Sinterklas politik bisa merupakan monster ganas untuk menidurkan kesadaran memilih pada segmen terbawah, segmen rakyat.

Sinterklasi politik adalah wujud nyata politik yang tidak berambisi untuk menjadi terang dan kompas kehidupan masyarakat mengarungi masa depan Bangsa untuk lebih bermartabat, lebih berkualitas.

Sebaliknya potensial mengajak rakyat memilih sesuai kado gula-gula menuju Tempat Pemungutan Suara.

Kita koma di poin ini untuk catatan pojok Bung Red berikutnya.

Meski sesungguhnya politik terpanggil untuk mengentaskan berbagai problematika pembangunan bangsa dan masyarakat, termasuk politik harusnya untuk memangkas politik kekuasaan berbingkai sinterklas di muka Pemilihan Umum. Apapun namanya, termasuk Pemilukada.

Waspada lah pada Sinterklas Pemilu jika Bangsa ini mau maju ke depan. Waspada terhadap sinterklas pemilu adalah simbol perlawanan. Sebab rakyat dihabisi dengan gula-gula Pemilu.

Politik harus menjunjung martabat demokrasi bangsa dengan mengutamakan pendidikan rakyat memilih bibit, bebet dan bobot untuk karya pengembalaan masa depan bangsa melalui tangan-tangan seluruh kader Bangsa yang maju dalam perhelatan Pemimpin di berbagai tingkatan***.    

“Politik Kekuasaan Bingkai Sinterklas Menidurkan Kesadaran Rakyat”

Catatan Pojok Bung Red