Home Catatan Pojok Bung Red Pemilu Untuk Mencari Abdi Negara, Maka Negara Mencari Rupa Bukan Rupiah

Pemilu Untuk Mencari Abdi Negara, Maka Negara Mencari Rupa Bukan Rupiah

116
0

Catatan Pojok Bung Red

Memang tidak ada manusia yang sempurna, maka waspada sinterklas politik adalah salah satu cara untuk menolong bangsa ini.

Tidak jarang gaduh sejuta pendapat terisi di kolom nusantara ketika manusia bicara tentang uang, duit, fulus, money.

Mata uang Indonesia namanya Rupiah. Memang sangat tersohor, menembus bait nyanyian setiap negeri. Tidak luput bait-bait pemilu.

Makna Pemilu juga nyaris tersandera total oleh cara pikir dan cara tindak pemilu menyerupai pesta tebaran rupiah.

Makna sakral pemilu untuk masa depan character para Abdi Negara, sangat terancam oleh cara pikir dan pola tindak yang kata orang ‘pemilu adalah musimnya dompet tiba.

Baca juga : https://larantuka.com/2019/09/politik-uang-cermin-politisi-kepribadian-ganda/

Pemilu sebagai pameran fulus (duit) dari dongeng terminologi cost politik bablas, lalu menjadi pusat perhatian, merangsak maju hingga menjadi (seolah-olah) fondasi gerak sebuah pemilu.

Hampir lupa ditegaskan kembali bahwa Pemilu sesungguhnya untuk Menata Negara, maka Negara Mencari Rupa Bukan mencari Rupiah.

Mengapa negara mencari rupa, bukan rupiah?.

Negara telah memproduksi dan menyediakan Triliunan Rupiah Anggaran untuk dikelola manusia (abdi negara) dalam agenda pembangunan bangsa, berisikan masyarakat banyak.

Maka sangat gelap dan konyol jadinya, jika negara dengan tumpukan rupiah (duit), negara yang memiliki sejagat harta kekayaan, negara yang berisikan aneka kekayaan alam ini menggelar pemilu hanya untuk menyaksikan pameran dompet yang juga tertatih-tatih, bahkan pinjam sana, pinjam sini dibalik ketidaktahuan masyarakat banyak.

Negara sesungguhnya tengah mencari abdi-abdi negara dalam wujud RUPA manusia. Bukan lagi-lagi mencari Rupiah.

Kita hampir tenggelam ke dasar penggelapan yang sesungguhnya di hadapan pemilu itu.

Pemilu adalah durasi waktu dimana negara mendesak masyarakat untuk segera mencari dan menemukan manusia-manusia unggul untuk dipekerjakan sebagai abdi negara di kebun tumpukan uang dan harta kekayaan negara bagi masyarakat.

Tidak heran kan, dipastikan tidak ada sinterklas politik ketika terpilih sebagai abdi negara masih ngotot menjadi sang sinterklas yang mau membagi-bagi uang dan harta kekayaan milik pribadi kepada masyarakat .

Malah sebaliknya duduk manis menikmati bonus laba jabatan, bahkan bersulamkan korupsi di dalamnya. Padat dengan pengembalian pundi-pundi yang telah terkuras bersama pemilu.

Jika demikian, layak kah rakyat bertekuk lutut pada seliweran rupiah yang hanya senilai pemanis madu?. Awas susu dan coklat jadi tai kucing belakangan.

Kiranya pemilu rakyat di negeri ini akan terus bercharacter unggul, selaras jati diri bangsa Indonesia mencari rupa para abdi negara.

Sebaliknya, jika kelak pemilu adalah kontes adu dompet, maka kita wajib sepakat cost politik harusnya digelorakan, menyusup masuk hingga menyuap masyarakat pemilik suara.

Jika itu pemilu kita, maka menyuap di musim pemilu adalah keharusan. Cost politik bukan lagi hal kebablasan. Sebab pemilu ialah expo kekayaan, rupiah dan amunisi pragmatis lainnya.

Jika tidak demikian defenisi dan tujuan pemilu dalam negeri ini, maka hanya ada satu kata yaitu : Tolak dan Lawan seluruh bentuk Penyuapan Suara Masyarakat, termasuk gula-gula ala sinterklas politik yang hadirnya pun searah naluri musiman.

Untuk itu semua, tidak banyak pilihan. Membiasakan yang benar atau Membenarkan yang biasa !

Pemilu Untuk Mencari Abdi Negara, Maka Negara Indonesia Mencari Rupa Bukan Rupiah !

Memang tidak ada manusia yang sempurna, maka waspada sinterklas politik adalah salah satu cara untuk menolong bangsa ini.

Catatan Pojok Bung Red