Home Catatan Pojok Bung Red Pemilu dan Seliweran Uang adalah Disfungsi Untuk Kembali Modal Masa Depan

Pemilu dan Seliweran Uang adalah Disfungsi Untuk Kembali Modal Masa Depan

258
0

Catatan Pojok Bung Red

Pembaca yang budiman !

Pemilihan umum atau disingkat Pemilu adalah ruang untuk memilih seseorang untuk mengisi jabatan politik tertentu. Bisa bermacam-macam, mulai dari jabatan presiden atau eksekutif, gubernur, bupati sampai kepala desa dan jabatan wakil rakyat atau legislatif.

Sedangkan kampanye pemilu merupakan usaha untuk mempengaruhi rakyat secara persuasif dengan tidak memaksa. Sekali lagi “tidak memaksa”, dengan melakukan kegiatan retorika, komunikasi massa, lobi dan kegiatan-kegiatan lainnya memaparkan visi, misi, program. Dan seterusnya.

Sebenarnya agitasi dan propaganda di negara demokrasi sangat dikecam, namun dalam kampanye pemilihan umum, teknik agitasi dan teknik propaganda banyak juga dipakai oleh para kandidat atau politikus selaku komunikator politik kepada para pemilih atau konstituen.

Menurut Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilu, Kampanye Pemilu adalah kegiatan Peserta Pemilu atau pihak lain yang ditunjuk oleh peserta pemilu untuk meyakinkan pemilih dengan menawarkan visi, misi, program dan/atau citra diri peserta pemilu.

Jika diamati sungguh-sungguh, masih banyak pekerjaan rumah pemilu di negeri ini.

Tidak jarang kampanye pemilu yang dilakukan oleh peserta pemilu justeru jauh dari harapan fungsi kampanye di atas. Bahkan cara maupun bentuk kampanye peserta pemilu terus mendapat sorotan tajam karena telah menjauh dari keadaban, baik secara etika maupun estetika.

Hari ini peserta pemilu lebih menonjolkan pajangan-pajangan seperti baliho, umbul-umbul, poster dan sejenisnya. Cara tersebut memang dapat memuat citra, baik citra partai maupun citraan personal. Namun pertunjukan pajangan demikian sesungguhnya tidak memuat visi-misi peserta pemilu secara utuh – apalagi soal integritas peserta pemilu. Tidak !

Lebih parah lagi, isi pesan kampanye umumnya bernada motto yang sangat bombastis dengan rayuan “pulau kelapa” ter-amat subur. Kehilangan makna.! Sebaliknya lebih banyak horeee, disusul unjuk pesona.

Selain lebih parah, jauh lebih buruk lagi, kampanye pemilu justeru diyakini bergeser menjadi ajang ter-empuk untuk membagi-bagi sumbangan, lomba memberikan anflop berisi uang, ajang mentransfer rupiah ke nomor-nomor rekening yayasan, dst – singkat kata lomba kekayaan, adu pamer gula-gila politik. Kebanyakan gula, lupa bahwa bangsa ini menjadi cacingan.!

Tidak sadar, pemilu dalam konteks seperti ini sesungguhnya telah rusak, di-rusak-an sebelum pemilu tuntas diselenggarakan.

Pemilu tidak lagi menjadi sekolah demokrasi bagi masyarakat, tetapi di-gerus habis-habisan, hingga menjadi pasar pertunjukan harta, uang dan lain-lain. Itulah Disfungsi Pemilu.

Tanda- tanda apakah itu?. Itulah Disfungsi Pemilu.

Tidak sadar bahwa pemilu telah rusak, telah di-rusak-an oleh pelaku-pelaku pemilu itu sendiri di hadapan masyarakat, bangsa, negara dan Pancasila untuk bumi Indonesia ini.

Jika demikian, apalagi yang mau diharapkan?.

Mengharapkan masa depan bangsa maju dan beradab?. Mengharapkan masa depan bangsa berisikan perubahan?. Mengharapkan masa depan rakyat berisi penegakan hukum?. Mengharapkan rakyat sejahtera?. Mengharapkan kemajuan dan keseimbangan peradaban?. Mengharapkan kebenaran dan keadilan dapat menjadi ciri masa depan sebuah bangsa?.

Harapan Telah Sia-Sia !

Pertama, jangan banyak berharap. Harapan telah sia-sia !.

Sebab, jauh sebelum sebuah bangsa berharap ini atau berharap itu, peristiwa demi peristiwa sesungguhnya telah menjadi pratanda ‘apa yang akan terjadi di masa-masa mendatang’!.

Apa yang ditanam hari ini, itulah yang akan dituai masa depan. Apa yang terjadi pada proses pemilu, itulah yang akan terjadi usai pemilu.

Baca juga : https://larantuka.com/2019/09/politik-kekuasaan-bingkai-sinterklas-menidurkan-kesadaran-rakyat/

Jika kerusakan yang ditanam (kerusakan pemilu), maka kerusakan pula lah yang akan dituai di masa depan – pasca pemlu.

Seliweran rupiah atau pameran bagi-bagi harta dan uang pada ajang pemilu, sesungguhnya menandakan pula bahwa akan begitu banyak uang negara ataupun harta rakyat di-gerus nantinya usai terpilih. Tentang pundi-pundi yang terkuras, tekor bersama sebuah Pemilu.

Maka tidak heran, Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui berbagai pedoman dan penegasan aturan main kepada masyarakat, memberikan peringatan sangat tegas dan sangat keras agar “Waspada Politik Uang, Awas Politik Harta” dalam Pemilihan Umum.

Negara memberi peringatan dan rambu-rambu bukannya tanpa alasan dan bukan pula tanpa kebenaran.

Negara ini telah menjadi saksi nyata dan jaminan mutlak bahwa pemilu yang tidak dijalankan atau keluar dari rel-nya, pemilu yang berubah menjadi ajang siraman anflop dan lain-lain, berikutnya adalah bencana.!

Bencana dimana uang rakyat dan dompet-dompet anggaran belanja negara dikuras habis melalui berbagai modus perbuatan atas nama kekuasaan guna menutup pundi-pundi pejabat usai terpilih- setelah tekor banyak pada masa pemilu .

Pemilu memakan ongkos, terkuras banyak, berikutnya giliran “pengembalian modal”.  

Siapa yang salah?. Bukan salah bunda mengandung !

Pemilu dan Seliweran Uang adalah Disfungsi Untuk Kembali Modal Masa Depan !

Catatan Pojok Bung Red