Home Catatan Pojok Bung Red DPRD Ende Bertemu Menu Tabrak Rakyat, Dukung Mendukung Perilaku Busuk

DPRD Ende Bertemu Menu Tabrak Rakyat, Dukung Mendukung Perilaku Busuk

283
0

Catatan Pojok Bung Red

“Wajib didesak Pilih Menu Sehat !+

Pasca tersiarnya kabar penggunaan uang negara nyaris mencapai Rp. 1 Milyar atau persisnya pasca terungkap melalui lansiran sosial, Rp. 700 juta uang rakyat ludes terpakai oleh Lembaga DPRD Kabupaten Ende dalam kurun waktu satu bulan usai pelantikan, publik dan netizen daerah melayangkan berbagai pesan, kritik dan litania panjang.

Itu semua dialamatkan ke Lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Ende yang beralamat kantor di Jalan El Tari Kota Ende, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Catatan Pojok Bung Red berangkat dari “Persimpangan Pertama DPRD Kabupaten Ende Berpotensi Boros Pakai Uang Rakyat.

Menyusul tambahan sepatah kata “Persimpangan Pertama Lembaran Dua Potensi Pemborosan Rupiah DPRD Ende.Mengapa dari 30 kursi wakil rakyat, semuanya jalan?. Atau tentang atas nama”, bukan Panja tetapi Panjar?

Mari kita keliling-keliling sedikit

Lembaga Kajian Kebijakan Independen, PARA Syndicate perna menurunkan survey terukur, menilai citra Dewan Perwakilan Rakyat di mata masyarakat sudah sangat buruk dan tidak ada yang bisa dibanggakan.

Bahkan karya perwakilan rakyat termasuk karya partai politik yang sesungguhnya untuk dibanggakan oleh masyarakat, dinilai sangat merosot, turut ingkar jati diri dalam membangun bangsa.

Baca juga : https://larantuka.com/2019/09/persimpangan-pertama-dprd-ende-berpotensi-budayakan-boros-pakai-uang-rakyat/

Ya, langkah pemetaan suara publik harus terus dilakukan. Di Kabupaten Ende pun ada fenomena mendekati satu milyar rupiah ludes terpakai, mencengangkan, karena baru sebulan dilantik!.

Data terminal lain, Survei Litbang Kompas rilis per 23 September 2019 menunjukkan, sebanyak 62,4% responden menilai Dewan Perwakilan Rakyat memiliki citra yang buruk.

Responden yang menilai citra DPR baik hanya 24,8%. Responden yang menjawab tidak tahu dan tidak menjawab masing-masing sebesar 11,5% dan 1,3%.

Selain itu, responden juga merasa langkah di lembaga dewan juga tidak mewakili aspirasi masyarakat.

Kita sepakat, responden dalam survey Kompas tidak hanya mengenal DPR RI, tetapi juga mengenal Lembaga Dewan semua tingkatan, baik DPR RI, DPRD tingkat provinsi maupun kabupaten.

Jawaban responden dapat dinalar, sebagai seruan akumulatif atas berbagai pemandangan buruk yang terus menerus dipertontonkan di hadapan masyarakat dan bangsa ini.

Kompas memastikan survei yang dilakukan pihak Kompas hanya ber margin error kurang lebih 4,3%.

Lebih lanjut, perihal citra Lembaga Dewan di mata publik, Kompasiana melalui sebuah prolog menulis : Apa yang Anda bayangkan jika mendengar kata DPR?. Mungkin sama dengan yang saya bayangkan. !

Korupsi, skandal mesum, tingkat kehadiran rendah, tidur saat sidang paripurna, jalan-jalan, menuntut fasilitas dan masih banyak lagi.

Begitu buruknya penilaian terhadap lembaga legislatif disebabkan oleh perilaku para anggota nya.

Persepsi negatif bukan tanpa dasar. Satu per satu fakta terkuak termasuk perilaku sikap seolah saling dukung-mendukung antara satu perilaku buruk dengan perilaku buruk lainnya.

DPRD Ende dan Menu Tabrak Pesan Rakyat, Dukung Mendukung Perilaku Busuk

Penegasan menu seperti ini patut dilayangkan kepada seluruh wakil rakyat, tidak hanya DPRD Kabupaten Ende.

Walaupun penegasan demi penegasan masyarakat maupun oleh berbagai elemen bangsa, bisa saja berhenti dan habis untuk dibaca. Masuk telinga kanan, jalan keluarnya melalui ventilasi kiri. !

Tetapi perlu juga diyakini tentang penegasan moral. Sebuah penegasan moral tidak menuntut untuk dipakai. Jiwa penegasan harus terus mengembara seperti udara bebas yang terus memberikan kesegaran bagi peradaban. Tanpa menunggu di-undang, tanpa harus memaksa untuk dipakai.

Hanya memang, jika hembusan udara bebas tidak lagi dihirup oleh manusia, maka berikutnya hanya ada beberapa kata, yakni resiko kematian dan kehidupan pun tamat. Game is over. Tanpa pengecualian.  

Menu menabrak pesan-pesan rakyat dalam konteks pilihan bebas segenap makluk politik di negeri ini memang cukup digandrungi para politisi.

Hitung-hitung sudah ada alasan baku untuk dilontarkan (coppy-paste) ketika ber-adu pendapat dengan masyarakat. Ya, itulah namanya politik, itulah seni berpolitik, itulah system. ! Jadi, tabrak saja !

Baca : https://larantuka.com/2019/09/lembaran-dua-potensi-boros-dprd-ende-bingkai-tim-18-vs-12/

Rakyat memesan ‘jangan boros pakai uang-uang kami yang dititipkan di Kas Negara, di Kas Daerah dan lain-lain, ya tabrak saja!. Itulah politik – itulah system.

Rakyat berpesan ‘jadilah wakil-wakil rakyat sebagai barisan pelopor keberlanjutan perjuangan Reformasi Bangsa, ya tabrak buang saja!. Itulah politik – itulah system.

Rakyat berpesan ‘wujudkan penghematan pemakaian uang negara, ya tabrak saja!. Itulah politik – itulah system. Dan seterusnya, panjang kali lebar sama dengan luas, seluas samudera.

Rentetan dongeng tabrak menabrak menjadi salah satu menu yang memastikan diri selalu hadir setiap abad, termasuk abad ini dan abad nanti.

Apakah DPRD Ende juga akan turut terlibat dalam rentetan tabrak-menabrak itu, tentu fakta pengabdian tugas yang menjawab.

Dukung Mendukung Perilaku Busuk

Itulah politik – itulah system. Ya, dukung saja !.

Ini menarik.

Seringkali alpa dikoreksi, bahwa politik maupun system tidak dirancang untuk mengaplikasi dukung mendukung perilaku busuk.

Pancasila sebagai fondasi politik negeri ini, Pancasila sebagai dasar system di Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak sekalipun menurunkan nilai dan ajaran dukung mendukung perilaku busuk sebagai bagian dari politik mengisi kemerdekaan bangsa, atau sebagai system untuk mensejahterakan rakyat.

Hanya Garuda yang hanya tertera di dada, lupa masuk bergabung ke dalam nurani, menyatu dengan jiwa dan raga, maka banyak tertulis nasib politik dan takdir system berisikan dukung mendukung saja, termasuk mendukung perilaku busuk. !. Amankan, ya aman kan ! Perintah.

DPRD Ende dengan 30 orang Anggota Perwakilan Rakyat, sesungguhnya tidak bisa luput dari menu, sekali lagi menu, dukung mendukung itu. Namanya saja menu dalam kehidupan fana ini ! Dukung mendukung perilaku busuk,..?. Tentu fakta pengabdian tugas yang menjawab.

Kita menunggu, apakah usai 700 juta rupiah terpakai, DPRD Ende menuju babak baru yang juga mencengangkan, cetar dan membahana di hadapan masyarakat ?. Fakta yang akan berbicara.

Jangan alpa mengawasi.  

DPRD Ende Bertemu Menu Tabrak Rakyat, Dukung Mendukung Perilaku Busuk.

Wajib didesak, harus pilih menu sehat !

Catatan Pojok Bung Red