Home Artikel Merawat Tarian, Merawat Waibalun, Menuju Indonesia Unggul

Merawat Tarian, Merawat Waibalun, Menuju Indonesia Unggul

527
0
Muda mudi Waibalun harus teguh menjaga keluhuran martabat sebuah hubungan yang berpuncak pada pernikahan yang agung dan mulia.

Dua malam di Waibalun (18 dan 19 Agustus 2019), alunan musik tradisional menggema dari sebuah panggung yang bercorak merah putih yang juga dibubuhi dua perahu nelayan tradisional lengkap dengan pukat dan dayungnya. Warga Waibalun mengepung panggung sambil bertepuk tangan, memperhatikan generasi muda mereka di atas panggung, sesekali berteriak riuh mendukung jagoan mereka.

Gadis-gadis dan remaja laki-laki bergantian menari, menghentakkan tangan dan kaki seirama dengan tabuhan gendang dan gesekan biola yang mengiring dari sebuah kelompok orkes musik tradisional bernama Jong Kudi. Tarian Sole yang sering dulu sering digelar untuk memeriahkan sebuah hajatan kampung; wadah bertemu dan bercandanya kawula muda, dan tarian Muro Ae dan Bajo yang menjadi tarian wajib di hajatan pernikahan orang Waibalun malam ini digelar di sebuah panggung. Adakah ada hajatan kampung atau pernikahan di sana?

Ternyata tidak. Tarian-tarian itu memang sengaja dipentaskan dan dilombakan dalam rangkaian perayaan Peringatan Proklamasi Kemerdekaan ke 74 Republik Indonesia tingkat Kelurahan Waibalun di Waibalun, Larantuka – Flores Timur, NTT. Acara ini pun hanyalah salah satu dari aneka lomba yang digagas panitia tahun ini.

Didimus Parera, ketua panitia Perayaan Peringatan Proklamasi Kemerdekaan ke 74 Republik Indonesia tingkat Kelurahan Waibalun mengungkapkan bahwa kegiatan ini selaras dengan tema perayaan tahun ini yakni Merawat Waibalun Menuju Indonesia Unggul.

“Lomba Sole, Soka (tarian-red) Adat Muroae dn Soka Bajo merupakan salah satu dari sekian kemasan lomba yang dirancang panitia untuk generasi mileneal muda mudi atau kemamu kebarek Waibalun dalam rangka merawat ingatan untuk melawan lupa akan nilai-nilai luhur warisan leluhur yang teraktualisasi dalam pelaksanaan soka adat itu sendiri yakni nilai penghargaan atau penghormatan, cinta dan kasih sayang,” jelasnya.

Menarikan tarian adat tentunya berbeda dengan tarian moderen ataupun kontemporer. Ada suasana kebatinan yang sangat terasa ketika tarian itu diragakan, menurutnya. “Ketika  membawakan soka ini pada momentnya, di sana ada senyum dan tawa bahagai yang membuncah, ada pula derai air mata dan isak tangis sesenggukan yang lahir dari rasa haru yang mendalam. Pada titik ini soka ini tidak sekedar sebuah lengggak-lenggok lahiriah tanpa makna melainkan sebuah perpaduan nilai rasa yang menyatu dengan jiwa dan raga sang penarinya” tuturnya.

Juri dan warga Waibalun yang sangat antuasias dengan lomba ini.

Disinggung alasan utama untuk mengadakan lomba ini, Bang Didi –demikian sapaan akrabnya- menjelaskan bahwa ada kerisauan dan kegelisahan tersendiri yang dirasakan kaum muda tentang hal-hal yang bergubungan dengan pelestarian nilai adat dan budaya di Waibalun. “Fakta terkini dalam pelaksanaan soka adat ini menghadirkan sebuah kerisauan pada kalangan generasi muda penerus Waibalun. Untuk kaum orang tua milenial, orang lebih mementingkan keasyikan dan kesenangan pribadi semisal bermain kartu daripada berdiri dan mengambil bagian secara sadar dalam soka adat yang harus ia lakukan,” kritiknya.  

“Untuk ibu-ibu milenial, semisal pengenaan busana saat melaksanaman soka adat (kwatek) sering terabaikan. Terpenting dari itu, tata aturan dalam melaksanakan soka adat ini semisal kepada opu siapa selen (gerakan melambaikan selendang sebagai bentuk penghormatan-red) pertama diberikan dan seterusnya. Masih begitu kabur bagi para orangtua mileneal sekarang ini,” sambungnya.

Lalu, mengapa usia remaja yang dipilih sebagai salah satu kriteria pesertanya? “Usia mereka adalah usia yang sudah cukup dewasa dan mapan, paling tidak dalam pola pikir dan tindakan, dan sebentar lagi masuk ke jenjang perkawinan dan soka ini hanya bisa dilakukan apabila meja lein bolak hala, (pernikahan yang dilakukan bukan karena pengantin wanita sudah terlanjur hamil-red),” jelasnya.

“Oleh karena itu muda mudi Waibalun harus teguh menjaga keluhuran martabat sebuah hubungan yang berpuncak pada kawe maen, (pernikahan yang agung dan mulia-red)” simpulnya.

Pesan di atas hanyalah sebuah tujuan kecil dari keseluruhan tema yang hendak dicapai. Secara umum, Bang Didi berharap generasi muda penerus Waibalun harus maju seiring kemajuan zaman sambil memperkokoh diri dengan nilai-nilai luhur warisan leluhur lewotanah yang membentengi dirinya dari dampak modernisasi yang menghadirkan abrasi nilai-nilai hidup dalam kebersamaan.