Home Artikel Diselamatkan Renha Rosary

Diselamatkan Renha Rosary

210
0

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR, Bandung. Anggota LBI dan ISBI.

Tahun 2000 saya belajar teologi sistematik interkultural pada Fakultas Teologi Katholieke Universiteit Nijmegen, Netherlands. Tahun 2001 seorang imam muda dari kongregasi SSCC, juga ikut belajar teologi pada fakultas yang sama. Kami tinggal sama-sama di sebuah kolese yang disebut Nijmegen College yang terletak di Heemraadstraat 6, Brakenstein, Nijmegen. Pastor muda itu tidak lain adalah Romo Fransiskus Dedi Riberu SSCC. Kami semua biasa memanggilnya Romo Dedi Riberu. Beberapa tahun sebelum ia ditahbiskan menjadi imam, ia adalah salah satu mahasiswa saya pada Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Tetapi di Nijmegen, kami sama-sama berstatus sebagai mahasiswa S2. Pada saat itulah, apalagi kami tinggal pada Dormitory yang sama, maka kami sering ngobrol bersama-sama. Dan kami mengobrolkan tentang bermacam-macam hal.

Pada suatu hari kami ngobrol tentang kampung halaman kami masing-masing. Kebetulan kami berasal dari Pulau Flores. Hanya saya berasal dari Manggarai, yang terletak di ujung barat, sedangkan Romo Dedi berasal dari Flores Timur, persisnya dari Kota Larantuka, yang terletak di ujung timur. Nah saya ingat, pada saat itulah ia mulai menceritakan tentang kampung kecilnya di tepi laut yang terletak di kota Larantuka. Kota itu sendiri terletak di kaki sebuah gunung api purba, Illemandiri. Entah mengapa, cerita kami kemudian berfokus pada bencana alam banjir bandang yang terjadi pada tahun 1979 yang menimpa kota Larantuka. Peristiwa itu sendiri akhirnya dikenal dengan sebutan tragedi 27 Februari 1979. “Dua tujuh malam Rabu, Februari bulan itu. Tujuh sembilan yang kelabu, tak dapat kulupakan.” Begitulah kira-kira awal syair sebuah lagu pop yang pada masa itu mencoba mengisahkan peristiwa itu dalam sebuah syair lagu yang indah.

Rupanya peristiwa itu sangat berbekas dalam ingatan Romo Dedi, karena pada saat ia menceritakannya saya bahkan bisa merasakan bahwa memang dia sangat tersentuh. Tampak seperti ada sesuatu yang ia ingat dari peristiwa itu, sebab ia sangat emosional saat ia mengisahkannya kembali kepada saya. Sangat terasa bahwa ia tidak hanya mengisahkan kembali sebuah kisah di masa silam, melainkan seperti sedang menghadirkan lagi sekarang dan di sini sebuah trauma, sebuah tragedi. Entahlah mengapa. Pada tahap ini saya belum bisa memahami mengapa ia tampak seperti begitu terhanyut dalam alur ceritanya.

Saya sendiri pada waktu peristiwa itu terjadi sedang duduk di bangku kelas 1 SMA pada Seminari Pius XII Kisol. Peristiwa itu terjadi cukup jauh dari tempat kami. Hanya yang jelas bahwa peristiwa itu terjadi pada masa musim hujan, alias dureng (bahasa Manggarai), yaitu hujan yang berkepanjangan pada akhir bulan Februari.

Lalu Romo Dedi bertanya kepada saya: “Apa yang bapa tahu dan ingat tentang peristiwa itu?” Sejenak saya berpikir: “Saya hanya ingat cerita beberapa guru kami tentang kota Larantuka yang luluh lantak karena diterjang banjir bandang yang mahadahsyat.” Kemudian saya tambahkan: “Saya juga tahu beberapa hal dari laporan majalah HIDUP dan DIAN tentang kejadian yang mengerikan itu.”

Saat saya menyinggung nama kedua Majalah itu, khususnya menyinggung nama majalah HIDUP, Romo Dedi pun bertanya lebih lanjut kepada saya: “Apakah bapa baca juga di HIDUP tentang dua anak kecil yang ditemukan dalam keadaan selamat sedang terapung-apung jauh dari pantai di atas sebuah kasur?” Sekilas saya mencoba mengingat detail berita di HIDUP itu dulu, sebab sudah berlalu sangat lama, 1979 dan 2000. Dan samar-samar saya mengingatnya juga: “Ya, saya ingat. Dua anak kecil. Adik dan kakak. Selamat oleh Kasur. Katanya juga ada penampakan sosok perempuan penyelamat yang menyelamatkan mereka di atas kasur itu.”

Saat saya sudah selesai mengemukakan sepenggal ingatan saya itu, Romo Dedi pun dengan cepat mengatakan: “Bapa, mungkin bapa tidak percaya ya.” Kemudian Romo Dedi terdiam sejenak. “Anak itu tidak lain adalah saya dan adik saya.” Mendengar pengakuan itu saya sontak terkejut dan mundur dari kursi dan meja tempat kami duduk. Hal itu terjadi karena saya merasa sedang berhadapan langsung dengan sebuah peristiwa mukjizat, yang memang sudah terjadi di masa silam, tetapi si subjek pengalaman itu, saat ini ada di depan mata saya, berhadapan langsung dengan saya, dan sedang bercerita kepada saya tentang hal itu. Saya merasa sedang berhadapan langsung dengan sebuah peristiwa mukjizat. Betapa tidak, di tengah banjir bandang yang menerjang di malam hari itu, konon dengan bunyi gemuruh yang sangat dahsyat dan mencengkam, ada dua anak kecil yang selamat di atas sebuah sekoci berupa kasur, yang dijaga seorang perempuan. Melihat reaksi saya seperti itu, Romo Dedi bertanya: “Mengapa Bapa begitu?” “Ya karena saya berhadapan dengan sebuah legenda hidup.” Terdiam sejenak. “Ya, ini sungguh-sungguh mengagumkan. Saya sangat terharu karena saya seperti sedang berhadapan langsung dengan sebuah bukti mukjizat.

Kemudian dengan nada haru dan penuh keyakinan, romo Dedi mengatakan kepada saya bahwa “Sosok Perempuan Penolong itu tidak lain adalah Bunda Maria, Renha Rosary.” Saya tidak bisa dan juga tidak mau menyanggahnya. Jelas itu adalah sebuah mukjizat. Sebuah kejadian ajaib. Dan berkat aksi drama penyelamatan itu, kedua anak itu pun selamat. Kakaknya, yaitu romo Dedi, sudah menjadi imam dari kongregasi SSCC. Dan ternyata anak yang satu lagi adalah adik perempuan Romo Dedi. Dan pada saat kami bercerita di Nijmegen, sang adik sedang menempuh pendidikan rohani untuk menjadi seorang biarawati. Kalau tidak salah saat itu ia mau menjadi seorang biarawati di Ordo para Dominikan.

Peristiwa itu konon sontak mengagetkan seluruh kota Larantuka. Mereka, setidaknya yang beragama Katolik, sudah lama yakin dan percaya bahwa kota mereka memiliki seorang pelindung, yaitu Bunda Maria, Ratu Rosari, atau yang lebih dikenal di sana dalam versi bahasa Portugis, Renha Rosari. Saya sangat yakin, juga berdasarkan kesaksian dari romo Dedi sendiri, peristiwa itu semakin memperkuat kepercayaan dan keyakinan mereka, apalagi ada sebuah Kapela yang memang dibaktikan kepada sang Bunda Ratu Rosari yang, secara sangat ajaib selamat dari terjangan banjir bandang tersebut. Secara alamiah seharusnya kapela itu ikut ambruk dan terhanyut. Tetapi tidak sama sekali. Ia tetap tegak berdiri di sana hingga sekarang. Diam-diam dalam hati saya berkata bahwa malam itu, sejenak sang Bunda meninggalkan Kapelanya dan menunjukkan aksinya sebagai bukti bahwa ia memang menjadi pelindung warga dan kota Larantuka, sebab ia bertindak menyelamatkan yang kecil, hina-dina, dan tidak berdaya sama sekali. Luar biasa. Terima kasih banyak Romo Dedi, atas sharing ingatan yang sangat mengagumkan dan meneguhkan itu.

Oh ya, Romo Dedi sendiri sekarang, menjadi pastor Paroki di Paroki Santo Gabriel, Sumber Sari Bandung. Ia menjadi pastor paroki setelah sekian lama ia mengabdi di rumah formasi SSCC, baik di Bandung, maupun di Yogya, bahkan sampai ke Hawaii dan California, Amerika Serikat. Dan sang adik sendiri, kemudian meninggalkan biara dan menjadi awam dan hidup berkeluarga dan tinggal di kota asalnya, Larantuka.

Disalin dari Facebook Go Tuan atas ijin penulis.