Home Artikel Dimensi-Dimensi Politik Kematian (Eja) Marsel Petu

Dimensi-Dimensi Politik Kematian (Eja) Marsel Petu

1628
0

Oleh Anthony Tonggo*

Misteri Penyebab Kematian
Seri -1 : Analisa Politik:

ADA dua pertanyaan penting yang harus dijawab dalam kematian Eja Marsel Petu yang sedang menjabat sebagai Bupati Ende periode kedua (2019-2024). Pertama, Apa penyebab kematian beliau. Kedua, Bagaimana masa depan Ende bila kematian Eja Marsel tidak terungkap secara resmi yang memiliki tingkat akurasi tinggi?
*

Penyebab Kematian: Pernyataan “Jalanan”

SEJAK hari pertama (26/5/2019), hingga kini, publik sudah dirangsek dengan opini tunggal, bahwa Eja Marsel meninggal karena serangan jantung. Boleh dibilang 100 persen suara publik mengakui itu.

Pertanyaannya: Dari manakah kebenaran itu datang bahwa Eja Marsel meninggal karena serangan jantung?

Sebuah kebenaran tentu memiliki metodologi tersendiri. Dia harus menenuhi persyaratan: 1. Siapa/badan resmi dan kompeten yang mengeluarkan pernyataan itu?, 2. Kapan dan di mana diagnosa itu berlangsung, 3. Dengan cara/alat/metode apa diagnosa itu, 4. Dll.

Untuk menujukkan kebenaran proses diagnosa itu, maka sebuah pernyataan publik harus dikeluarkan secara lisan maupun tulisan oleh sebuah badan/pejabat resmi dan kompeten.

Apakah penyebab kematian Eja Marsel karena serangan jantung itu sudah melalui proses-proses itu?

Setelah terjatuh di rumah seseorang, Eja Marsel dibawa ke RS Siloam Kupang. Apakah ada bukti pengumuman dari rumah sakit itu dan oleh sebuah tim dokter ahli di bidangnya? Pernahkah Anda mendengar dan melihat Kepala Rumah Sakit Siloam Kupang atau Tim Dokternya yang mengumumkan penyebab kematian Eja Marsel? Pernahkah Anda membaca pernyataan resmi dari pihak RS Siloam Kupang di media massa?

Saya tidak mau bicara soal diagnosa penyebab kematian yang menjadi pekerjaan inti dari kesimpulan penyebab kematian Eja Marsel, sedangkan pernyataan resmi dari RS Siloam Kupang saja tidak ada.

Saya mengajak Anda untuk membuka kembali lembaran berita viral soal kematian Eja Marsel! Tidak satu pun media yang menulis soal pernyataan resmi dari RS Siloam Kupang.

Berita di sejumlah media, penyebab kematian Eja Marsel karena serangan jantung adalah pendapat wartawan, misalnya di Sindonews.com, 26/5/2019, 16.21 WIB. Di semua media tidak pernah ada berita yang mengutip pernyataan langsung pihak RS Siloam Kupang, misalnya siapa, apa jabatannya, dan apa omongannya. Unsur-unsur itu hilang sama sekali dari media.

Jika semua unsur (5W+1H) ini hilang, maka yang ada adalah pendapat wartawan sendiri. Jadi, wartawan itu ngarang. Padahal dalam kode etik pers, wartawan tidak boleh menulis berita berdasarkan pendapatnya, tapi berdasarkan fakta yang terjadi.

Pernyataan yang sama juga datang dari Staf Ahli Bidang Politik & Pemerintahan NTT, Samuel Pakereng (Kompas.com, 26/5/2019, 06.50 WIB). Betapa pun menterengnya jabatan Samuel Pakereng di propinsi NTT, namun dalam konteks pernyataan penyebab kematian seseorang, suara seorang Samuel Pakereng tidak bisa diakui kebenarannya, karena tidak kompeten dalam medis.

Dominikus Mere pun membuat pernyataan yang sama, bahwa Eja Marsel terkena serangan jantung (Tribunnews.com, 26/5/2019, 02.10). Meski Domi Mere adalah seorang dokter dan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi NTT, namun kapasitas beliau pun lemah untuk pernyataan itu. Mengapa? Domi Mere berbicara sebagai keluarga almarhum Eja Marsel, beliau adalah dokter gigi dan S2 Manajemen Rumah Sakit, tidak sedang menangani Marsel Petu sebagai pasien di RS Siloam, serta Domi Mere bukanlah pejabat di RS Siloam, maka kompetensi Domi Mere untuk pernyataan itu sangat lemah. Tidak kompeten.

Kabag Humas Kabupaten Ende, Gebby Dala, mengatakan bahwa pihaknya belum tahu persis penyebab kematian Eja Marsel Petu (Detiknews, https://m.detik.com, 26/5/2019, 10.40 WIB). Jadi, seorang yang paling bertanggungjawab untuk menjelaskan ke masyarakat Ende saja mengaku tidak tahu penyebab kematian Eja Marsel, bagaimana dengan masyarakat Ende yang sudah yakin bahwa bupati mereka terkena serangan jantung?

Entah sengaja ataupun tidak, Wikipedia justru memuat informasi kematian Eja Marsel Petu tanpa dilengkapi keterangan penyebab kematiannya, padahal keterangan what, when, who, where, dan how sudah lengkap, namun why-nya hilang.

Karena pernyataan penyebab kematian Eja Marsel itu tidak melalui badan dan pejabat resmi yang berkompeten, maka dalam konteks hukum dan politik, semua pernyataan tentang penyebab kematian Eja Marsel itu adalah pernyataan jalanan. Pernyataan-pernyataan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, sebenarnya status penyebab kematian Eja Marsel masih kosong. Misterius. Masuk dalam kotak pandora.
*

Tugas Polisi: Pecahkan Misteri!

DALAM keadaan misterius itu, muncullah dua orang pendekar hukum asal NTT, yaitu Petrus Selestinus, SH, dari Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) dan Leksi Kumpul, SH. Mereka berdua menyerukan agar polisi segera melakukan otopsi atas jasad Marsel Petu untuk mengungkapkan penyebab kematiannya. Bagi mereka, meninggalnya Eja Marsel itu adalah meninggal yang tidak wajar, dengan indikasi awalnya adalah almarhum Marsel Petu pun sudah dinyatakan lolos tes kesehatan calon kepala daerah pada pilkada 2018 lalu oleh KPU yang bekerjasama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Kematian manusia dipengaruhi: 1. Mekanisme alami (yaitu habisnya sel-sel tubuh yang terpakai selama hidup), 2. Mekanisme intervensi (yaitu bunuh diri, dibunuh, dan kecelakaan), dan 3. Kelalaian (yaitu alpa melakukan pertahanan diri dengan pola hidup sehat, sehingga tubuh mudah diserang penyakit dan virus).

Dilihat dari tinggi dan beratnya yang masih padat dan tegap, almarhum Eja Marsel tidak sedang kehabisan sel. Kehabisan sel itu ditandai dengan pengempesan dan pengeroposan otot, tulang, dll., sedangkan Eja Marsel masih padat, berisi, dan tegap.

Soal kelalaian dalam gaya hidup sehat, ketika beliau dinyatakan lolos menjadi calon bupati Ende pada pilkada 2018, itu berarti untuk menopang hidupnya hingga 2018, beliau belum lalai memperhatikan kesehatannya.

Kalau dua faktor tadi sudah tidak terdapat pada Eja Marsel, berarti beliau meninggal karena faktor intervensi, yaitu bunuh diri, dibunuh, atau kecelakaan. Di sinilah polisi NTT harus masuk untuk mengungkapkannya: Apakah Eja Marsel bunuh diri atau dibunuh? Polisilah yang harus bertanggungjawab untuk pecahkan misteri itu.

Secara politis, KPUD Ende dan IDI NTT harus ikut kebakaran jenggot atas pernyataan jalanan bahwa Eja Marsel meninggal karena serangan jantung. Bagaimana mungkin KPUD Ende dan IDI NTT tidak kebakaran jenggot?

Isu serangan jantung atas kematian Eja Marsel adalah sebuah pukulan maut sudah dilayangkan keras tepat di jantung KPUD Ende dan IDI NTT. Kedua instansi inilah yang dinilai tidak becus dalam menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan para calon kepala daerah. Mana mungkin orang yang bermasalah dengan kesehatan kok diloloskan untuk menjadi peserta pilkada?

Ada reaksi yang harus segera ditunjukkan oleh KPUD Ende dan IDI NTT:

1. Buktikan rekam medis dan rekam pleno KPUD Ende bahwa Eja Marsel (dan semua bakal calon kepala daerah Ende waktu itu, termasuk saya) itu layak untuk ikut pilkada Ende 2018. Ingat, kami waktu itu hanya terima pemberitahuan bahwa kami lolos tes kesehatan dan psikologi, tapi tidak ada transparansi soal hasil pemeriksaannya. Jadi, tes kesehatan dan psikologi itu tertutup, jauh dari kerangka demokrasi yang mengharuskan transparan.

2. Ikut mendorong Polda NTT untuk mengungkapkan misteri kematian Eja Marsel Petu.

Bila KPUD Ende dan IDI NTT diam saja, itu sama dengan membenarkan bahwa Eja Marsel Petu sudah diloloskan menjadi calon bupati Ende pada pilkada 2018 meski tidak sehat. Berarti konspirasi jahat telah terjadi di sana waktu itu.

Pertanyaannya adalah: Apa akibat yang serius bagi pembangunan kabupaten Ende bila misteri kematian Eja Marsel tidak terungkap tabirnya? Nantikan Seri-2 dari analisa ini…! (*)

Penulis : Anthony Tonggo, Alumnus FISIPOL UGM, Asal Ende, tinggal di Yogyakarta