Home Artikel Pemimpin Otoriter Tipikal Boss Cenderung Korup

Pemimpin Otoriter Tipikal Boss Cenderung Korup

300
0

Oleh : Kondradus Y. Klau

Pernahkah Anda mendengar kata Otoriter? Pemimpin ororiter? Kepemimpinan otoriter?. Kira-kira apa yang muncul di benak anda saat mendengar kata otoriter. Diskriminasi? Ketidakadilan? Kesewenang-wenangan? Atau penyalahgunaan kekuasaan ? Atau lainnya?.

Gambaran umum dalam dunia kerja ada satu masalah yang lazim terjadi, yaitu kesulitan untuk menjalin kerjasama dengan pemimpin tipikal ketua/atasan/bos karena atasan yang bersikap Otoriter. Padahal siapa pun orangnya (bawahan) tentu mengharapkan memiliki atasan yang bersikap fine and wise. Namun kenyataan sering terjadi sebaliknya.

Akibatnya, kita banyak kali mendengar keluhan seorang bawahan tentang atasan yang otoriter. Kelanjutannya, bawahan berpotensi besar mengalami tekanan batin. Di mana pun anda bekerja mungkin anda bertemu atasan/pemimpin galak, ditambah lagi sikapnya yang kurang menghargai pendapat bawahan. Biasanya atasan seperti ini menganggap bawahan selalu jadi pihak yang salah dalam setiap situasi.

Mereka memperlakukan anak buahnya bagai babu. Bahkan dia sangat menikmati kedudukannya sebagai Big-Boss. Mulutnya suka menyuruh, memerintah dan sama sekali tidak suka beragumentasi. Baginya, kata-katanya adalah titah. Dan wajib dipatuhi. Kepemimpinan Otoriter (Boss, Ketua) Kepemimpinan otoriter merupakan gaya kepemimpinan yang paling tua dikenal dunia.

Gaya kepemimpinan ini menempatkan kekuasaan di tangan satu orang atau sekelompok kecil orang yang di antara mereka tetap ada seorang yang paling berkuasa (Boss). Pemimpin bertindak sebagai penguasa tunggal. Orang-orang yang dipimpin yang jumlahnya lebih banyak, merupakan pihak yang dikuasai, yang disebut bawahan atau anak buah.

Kedudukan bawahan semata-mata sebagai pelaksana keputusan, perintah, dan bahkan kehendak pimpinan. Pemimpin memandang dirinya lebih, dalam segala hal dibandingkan dengan bawahannya. Kemampuan bawahan selalu dipandang rendah sehingga dianggap tidak mampu berbuat sesuatu tanpa perintah. Perintah pemimpin sebagai atasan tidak boleh dibantah, karena dipandang sebagai satu-satunya yang paling benar.

Pemimpin sebagai penguasa merupakan penentu nasib bawahannya. Oleh karena itu tidak ada pilihan lain, selain harus tunduk dan patuh di bawah kekuasaan sang pemimpin. Kekuasaan pimpinan digunakan untuk menekan bawahan, dengan mempergunakan sanksi atau hukuman sebagai alat utama. Pemimpin menilai kesuksesannya dari segi timbulnya rasa takut dan kepatuhan yang bersifat kaku. Kepemimpinan dengan gaya otoriter banyak ditemui dalam pemerintahan Kerajaan Absolut, sehingga ucapan raja berlaku sebagai undang-undang atau ketentuan hukum yang mengikat.

Di samping itu sering pula terlihat gaya dalam kepemimpinan pemerintahan diktator sebagaimana terjadi di masa Nazi Jerman dengan Hitler sebagai pemimpin yang otoriter. Kelemahan Pemimpin Otoriter Seotoriter apapun seorang atasan, selalu ada cara untuk menghadapinya. Tergantung bagaimana cara kita merespon.

Umumnya, sikap otoriter atasan lahir karena dia membutuhkan pengakuan dari lingkungan bahwa dirinya memiliki kekuasaan. Setiap orang pasti miliki kelebihan dan kekurangan. Demikian pula seorang atasan tentu miliki juga kelemahan.

Oleh karena itu, jangan takut dengan atasan otoriter, yang mengaku dirinya Big-Boss. Ada pepatah “No body perfect”, tiada orang yang sempurna. Maka kita boleh mengatakan “Tidak ada bos yang ideal”, bukan?

Kepemimpinan yang berkarakter figur- sentris (person-centered), ketua, bos memberi kekuasaan pada seorang pemimpin sebagai penentu akhir suatu keputusan. Padahal orang yang menjadi pemimpin (ketua, koordinator, manajer, bos, dan sejenisnya) belum tentu orang yang paling jujur, paling pandai, dan paling bijak, sekalipun paling populer di dalam organisasi atau masyarakat. Apalagi, manusia pada dasarnya lemah terhadap godaan harta-takhta-cinta, khususnya mereka yang “masih mengutamakan kenikmatan dan hidup duniawinya”.

Menurut Harsono (2010), Kepemimpinan yang terlalu berpusat pada individu (kepemimpinan ketua, bos) secara intrinsik cukup banyak mengandung nilai otoriterisme dan feodalisme, lebih dekat ke oligarkhi dan patriarkhi, lebih mudah korup, semakin jauh dari kejujuran dan keadilan, semakin jauh dari kehidupan yang beradab. Semakin intensif dan ekstensif praktik paradigma kepemimpinan, semakin sulit mewujudkan kehidupan yang lebih beradab.

Penyebabnya, pikiran benar dan sangat kritis saja –yang sangat mungkin dirasakan sebagai “pukulan mematikan dan memalukan” oleh penganut paradigma kepemimpinan ketua– sudah dicegah penyebarannya agar tidak menjadi gerakan nyata yang mengubah total status quo dari kemakmuran yang timpang dan eksploitatif.

Kelemahan ini menjadi sebuah bahaya laten. Berikut bahaya laten dari atasan otoriter dengan kesenangan menyandang predikat ketua, big-boss : 1) Selalu berpikiran paling benar. Atasan otoriter menganggap orang lain tidak sebanding pemikiran dengannya. Karena itu, ia cenderung menilai pemikirannya selalu benar daripada bawahan. 2) Selalu ingin dimintai persetujuan. Atasan otoriter menginginkan dia diposisikan pada tempat pertama untuk dimintai persetujuan. Tanpa persetujuannya keputusan dan tindakan bawahan akan dianggap salah. Setiap perubahan sistem dan prosedur harus atas ijinnya.

3) Anti Konfrontasi. Bos yang otoriter biasanya tidak suka bertele-tele. Dia tidak ingin bawahan menyampaikan permasalahan yang menimbulkan konfrontasi. 4) Atasan otoriter selalu menganggap bawahan bisa melakukan apa pun keinginannya. Bawahan dalam hal ini tidak boleh pernah mengatakan tidak bisa. 5) Big-Boss menuntut selalu dihargai, dihormati, dan bila perlu disembah layak raja. Para otoriter adalah orang yang biasanya selalu ingin dihargai. Mereka haus akan sanjungan dan kehormatan. 6) Anti kritik. Atasan/bos/ketua yang otoriter biasanya anti kritik. Bagi pemimpin seperti ini kritik dianggap hinaan dan cercaan. Pihak yang memberi kritikan dianggap musuh/lawan.

7) Atasan otoriter cenderung berperilaku korup. Big-Boss tidak suka dikritik, dia tidak suka diselidiki dan diamati. Pengawasan yang kurang terhadapnya membuat dia cenderung berlaku korup. Big-Boss yang demikian akan memanfaatkan kelengangan pengawasan bawahan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya bagi pribadi dan atau keluarganya. Cara untuk menghadapi atasan, bos, ketua, pemimpin tipe ini adalah menyiapkan alternatif kepemimpinan berupa kepemimpinan pendapat.

Tujuannya adalah untuk menemukan atasan, bos, pemimpin yang rendah hati, baik dan mendengarkan, yang selalu berprinsip bahwa unsur paling pokok dari pembuatan keputusan adalah pendapat atau argumen yang paling masuk akal (logis, rasional) dan diterima hati nurani (jujur, etis). Setiap pendapat terlebih dahulu diuji dengan kaidah-kaidah logika maupun dengan uji kejujuran. Semoga bermanfaat.

Pemimpin Otoriter Tipikal Boss Cenderung Korup?

Penulis : Kondradus Y. Klau, Pemerhati Pendidikan, Sosial, dan Demokrasi; Alumnus Sekolah Demokrasi Belu Angkatan III.