Home Berita TPDI : Segera Copot Kepala BOP Manggarai Barat, Shana Fatinah

TPDI : Segera Copot Kepala BOP Manggarai Barat, Shana Fatinah

617
0

LN Focus Indonesia News – Tim Pembela Demokrasi Indonesia melalui Koordinator Petrus Selestinus, SH mendesak segera dicopot Kepala BOP Manggarai Barat, Shana Fatinah.

Konfirmasi Redaksi LN Focus Indonesia News (07/05/2019), Petrus Selestinus, SH menegaskan sebagaimana diturunkan oleh TPDI, konsep Wisata Halal BOP Manggarai Barat, merupakan bentuk lain dari konsep Hotel Syariah yang sudah dibatalkan oleh Pemerintah.

Menurut TPDI, warga masyarakat Manggarai Barat Provinsi Nenggara Timur sangat paham  bagaimana menghormati dan memberi tempat yang layak bagi saudara-saudaranya yang Muslim atau tamu-tamunya yang Muslim, juga sebaliknya saudara-saudara yang Muslim di Manggarai Barat sangat tahu bagaimana menghormati kultur saudara-saudaranya orang Manggarai Barat.

Kondisi demikian, lanjut dia, sudah menjadi kultur bersama yaitu saling menghargai perbedaan tanpa harus diatur dengan berbagai regulasi dan kebijakan yang hanya mengejar keuntungan materi semata-mata tanpa memperhatikan persoalan keberagaman kebudayaan daerah yang saat ini sangat diperlukan untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia sebaga investasi untuk membangun masa depan dan peradaban bangsa demi terwujudnya tujuan nasional.

Baca : https://larantuka.com/2019/05/wisata-halal-manggarai-barat-bentuk-lain-dari-konsep-hotel-syariah/

Ditambahkan, Kepala Badan Otoritas Pariwisata (BOP) Kabupaten Manggarai Barat, Shana Fatina harus segera dicopot dari jabatannya dan sebelumnya harus mencabut konsep Wisata Halal dimaksud disertai permintaan maaf kepada masyarakat Manggarai Barat dan Pemerintah Provinsi NTT, karena konsep Wisata Halal ini tidak ada pijakan hukumnya, bahkan berbasis pada hukum syariah yang sulit diterapkan di Manggarai Barat dan Provinsi NTT pada umumnya yang kultur dan agamanya berbeda.

Apalagi pada saat yang bersamaan Pemerintah Daerah NTT sedang membangun Kepariwisataan NTT yang berbasis pada ekowisata yang mengedepankan aspek kearifan lokal, konservasi alam, pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal, seperti Bangunan Hotel bergaya rumah adat, reseptions dan duta wisata harus berpakaian sarung tenun khas NTT, sapaan pembuka disesuaikan dengan tradisi setempat, tamu disuguhi sirih pinang dan tembako dll. yang tentu saja gaya khas NTT. (Tim/Red)