Home Profil In Memoriam Eja Marsel Petu, Sang Model Generasi Modern Ende

In Memoriam Eja Marsel Petu, Sang Model Generasi Modern Ende

433
0

Oleh : Anthony Tonggo

KALAU Anda seorang sosiolog, maka Anda pasti tahu bagaimana karakter generasi modern Ende. Secara sederhana, modern bagi orang Ende adalah selain dari definisi universal (yaitu penguasaan konomi dan iptek), juga kepegawaian, perkotaan, sekolah. Siapa yang sekolah, pegawai, dan tinggal di kota, maka dia disebut modern.

Salah satu ciri generasi yang menamakan dirinya modern Ende adalah dengan tidak lagi menggunakan hal-hal yang akrab dengan masyarakat desa dan era doeloe Ende. Salah satu yang paling menonjol di kalangan generasi baru Ende adalah penguasaan kebudayaan Ende yang rapuh, mulai dari berbahasa Ende/Lio yang baik dan benar hingga tata sosial serta adat.

Contoh kecil saja! Bahasa Lio yang asli itu “ngelo” sebagai kata seru, dan bahasa Ende bilang “ngezo/ngerho”. Namun ciri generasi modern Ende bilang “ngero”.

Dilihat dari latar belakang, Eja Marsel Petu adalah generasi baru perkotaan Ende modern. Dia lahir dari rahim seorang ayah (Piet Petu) yang asal Bhoafeo dan PNS serta tinggal di kota Ende. Ibunya (No’o Tina) pun dari Bhoafeo. Jadi, Eja Marsel adalah generasi baru Ende modern.

Namun apakah Eja Marsel memiliki ciri yang tidak menguasai budaya Ende seperti kebanyakan generasi modern Ende lainnya?
*

Menguasai Budaya Ende

SAYA mengenal generasi baru Ende cukup luas. Mereka lahir dan besar di kota, tapi penguasaan atas budaya Ende (termasuk berbahasa Ende/Lio) sangat terbatas. Diantara yang tidak menguasai itu, saya temukan sosok Eja Marsel Petu adalah generasi baru perkotaan modern Ende yang fasih dengan budaya Ende (termasuk berbahasa Ende yang baik dan benar).

Berikut contoh-contoh kecil interaksi saya dengan Eja Marsel di masa mahasiswa dalam konteks budaya Ende!

Ketika di Malang, Eja Marsel punya anggota keluarga dekat dari ayahnya, yaitu Yohana Kune/Yo, Edeltrudis Nona/Udis, Paul Rangga, Poli Sule, dan Lori. Di luar nama itu, saya termasuk dalam lingkaran itu. Mengapa?

Kami berdua ternyata dari rumah sudah dibekali dongeng dari orangtua dan kakek-nenek kami masing-masing. Ternyata kami berdua itu panggil ‘Eja’. Di masa kecil, kami sama-sama tahu bahwa orangtua dan kakek-nenek kami saling berkunjung.

Setelah kami menyusuri asal-usul, ternyata kami dari asal yang sama, yaitu dari Rheda, sebuah kampung di bukit, dulunya termasuk dalam administrasi Desa Mbotutenda, yaitu antara Nangaba dan Ma’ukaro. Meski dalam hidup kami baru 1-2 kali ke kampung itu, tapi kami tahu bahwa nenek-moyang kami dari kampung itu.

Setelah tahu, Eja Marsel sepakat, bahwa kami harus buat ‘name’. Dalam budaya Ende, ‘name’ adalah sapaan yang sama untuk beberapa orang yang merasa punya kesamaan beberapa hal dalam hidup. Akhirnya kami sepakat untuk menyapa dengan sebutan “Rheda”. Jadi, nama ‘Anton’, Marsel, Paul, Yo, Udis, Lori itu sudah diganti ddngan “Rheda”. Kata itu sangat efektif dan magis untuk menyatukan bathin diantara kami.

Bahasa Ende/Lio itu memiliki tingkatannya, sama seperti bahasa Jawa yang ada ngoko, kromo, kromo madyo, dan kromo hinggil. Bahasa Ende pun ada bahasa mbana-raza, bahasa z(rh)oka, dll. Di puncak tertingginya itu sudah padat dengan sastra dan filsafat.

Yang umum dikuasai generasi baru modern Ende adalah bahasa mbana-raz(rh)a. Eja Marsel menguasai sampai bahasa z(rh)oka dan tingkat tertinggi. Itu yang tidak ditemukan dalam diri generasi baru modern Ende.

Bahkan, dalam pengamatan saya, ketidakfasihan berbudaya (termasuk berbahasa) Ende-Lio di kalangan generasi modern Ende-Lio kini sudah melanda hingga ke pelosok desa di Ende-Lio. Beberapa mahasiswa asal Ende yang saya temukan ternyata penguasaan budaya Ende-nya buruk sekali. Banyak bahasa Ende yang saya ungkapkan ternyata mereka tidak tahu, sehingga mereka gagal memahami pembicaraan saya.

Makanya, saya tidak heran jika selama Eja Marsel jadi bupati Ende, beliau cukup menonjolkan dimensi kebudayaan dalam membangun Ende.

Model Generasi Baru Ende

AKUI atau tidak, sebenarnya budaya Ende-Lio itu dalam posisi terancam punah di tengah globalisasi dunia. Westernisasi, jawanisasi, jakartanisasi sudah melanda masyarakat Ende cukup serius. Gaya bicara, gaya kuliner, gaya fashion, gaya pikir sudah meninggalkan identitas Ende-Lio.

Secara material, memang tidak ada yang perlu kita kuatir dengan peristiwa itu, tapi secara bathiniah, kasus seperti itu akan membawa dampak serius terhadap kebahagiaan (ketenangan bathin) manusia Ende-Lio.

Di tengah keramaian, orang mengalami apa yang disebut dengan alienasi, yaitu merasa asing dengan kenyataan hidup. Tidak sebagai Ende-Lio, tapi tidak juga sebagai Jakarta, Eropa. Budayawan YB Mangunwijaya menyebutnya sebagai manusia putri-duyun mendamba. Mau modern tidak bisa, tapi mau tradisional pun tidak.

Kata Romo Mangun, kita ibarat sepotong badan naikkan ke becak (pelan), yang sepotongnya dinaikkan ke sedan. Sedan larinya cepat, sedang becak lambat, maka pinggang kitalah yang patah. Lihatlah kepatahan perilaku, gaya bicara, gaya pikir, gaya tindak masyarakat Ende-Lio kita. Banyak yang aneh kan? Itulah generasi ‘patah pinggang’ kita.

Meski sebagian besar usia saya dihabiskan di perantauan, namun di masa kanak-kanak hingga remajaku dihabiskan di Ende. Saya beruntung lahir dari kedua orangtua yang sama-sama berasal dari keluarga penjaga budaya suku Kekawi’i dan Woz(rh)owaru, sehingga sejak kecil saya sudah akrab dengan kebudayaan Ende yang asli. Bahkan ketila pulang libur (1994), saya didaulat keluarga untuk jadi juru bicara ‘bou-nua’ (arisan kampung) salah satu saudara saya. Setidak-tidaknya, saya masih dianggap memahami kebudayaan Ende.
Dengan modal itu, saya dapat menilai bahwa Eja Marsel Petu adalah contoh anak pegawai dan bermukim di kota Ende (dan pernah lama di Jawa) yang sangat menguasai budaya Ende-Lio dengan baik.

Kita harus segera mulai menata kehidupan kita agar setiap anak Ende (yang di kota maupun di desa) haruslah dibekali dengan budaya Ende yang kuat dan benar.

Tidaklah berlebihan bila saya mengatakan bahwa Eja Marsel Petu adalah model generasi modern Ende yang baik. Beliau sudah menunjukkan dirinya sebagai anak pegawai dan kota, tapi paripurna dalam berbudaya Ende-Lio.

Bila bahasa Ende ada dalam muatan lokal (mulok), maka layaklah sosok Eja Marsel Petu menjadi tokoh yang dijadikan contohnya. Atau kita monumenkan dalam bentuk lain, supaya menjadi inspirasi bagi generasi baru dan modern Ende-Lio dalam berbudaya Ende-Lio.

Eja Marsel, terima kasih atas kekeluargaan kita selama ini. Terima kasih, Eja sudah menjadi sosok generasi baru Ende yang betul-betul Endenis. Semoga teladan budayamu bisa menjadi contoh bagi setiap generasi baru Ende-Lio.

Selamat jalan, Eja ndoa! Semoga Eja diterima di surga…! (*)

Jogja, 27/5/2019, Antonius Tonggo