Home Surat Terbuka Surat Terbuka Untuk Rocky Gerung “Soal Cara Memilih”

Surat Terbuka Untuk Rocky Gerung “Soal Cara Memilih”

848
0
Anthony Tonggo, Alumnus Fisipol UGM

Oleh : Anthony Tonggo

Habis Politik Akal Sehat, Terbitlah Politik Jiwa Sehat

Mas Rocky yang saya hormati…!

Saya senang sekali melihat sepak-terjang Mas Rocky di Pilpres kali ini dengan wacana “Politik Akal Sehat” itu. Memang, saya juga sudah lama bosan dengan fenomena pemilihan pimimpin kita yang didominasi pertimbangan SARA, uang, dan jabatan. Ketika Mas Rocky muncul dengan membawa wacana “Politik Akal Sehat”, saya pikir inilah saatnya peradaban memilih kita mulai bisa naik kelas.

Namun, ketika melihat praktiknya terletak pada kritik Mas Rocky terhadap penampilan 4 tahun Jokowi memimpin negeri kita ini yang tidak sesuai dengan harapan Mas (mungkin kita semua), lantas menyerukan 2019 ganti presiden, tanpa diikutkan dengan tahapan analisis perbandingan potensi dan kompetensi antara Jokowi dan Prabowo, saya menjadi kecewa dengan konsep “Politik Akal Sehat”. Saya menganggap bahwa wacana itu sebagai wacana sampah belaka. Bagi saya, “Politik Akal Sehat” yang dioperasikan lewat menganjurkan agar “berhentikan Jokowi” tanpa menjawab pertanyaan “Apakah Prabowo dijamin lebih bagus dari Jokowi?”, berarti akalnya Mas Rocky belum sehat juga.

Mari saya tunjukkan cara kerja akal yang sehat, Mas!

Mas Rocky yang saya hormati…!

Sebelum tahun 2005, dibanding Jokowi, kita di negeri ini cuma mengenal nama Prabowo Subianto. Jokowi belum dikenal. Ketika menyebut nama Prabowo, ingatan publik langsung tertuju pada identitas ini! Prabowo adalah seorang perwira tinggi TNI yang dipecat karena terlibat dalam penculikan aktivis 1998, beliau adalah menantu seorang penguasa Orde Baru (Soeharto), anak seorang begawan ekonomi (Professor Soemitro), bercerai dengan Titik Soeharto pada pasca-1998, seorang yang lari ke Yordania, pengusaha, penggemar kuda, pendiri dan Ketua Umum Gerindra, lalu aktif berpolitik mengincar kekuasaan hingga hari ini.

Pengenalan identitas semacam ini hanya standar normal hingga minus (dipecat dari TNI dan cerai). Sisanya adalah netral. Poin plus (kelebihan) Prabowo tidak dikenal.

Setelah 2005, ketika Jokowi menjadi wali kota Solo, publik Indonesia mulai mengenal Joko Widodo (Jokowi). Setiap menyebut nama Jokowi, ingatan publik langsung tertuju kepada seorang wali kota Solo yang pernah menjadi Wali Kota Terbaik Dunia, seorang yang sederhana, rendah hati, mumpuni dalam memimpin publik, anti-KKN.

Selain sisi yang normatif normal, pengenalan seperti itu muncul juga sisi positipnya, yaitu “orang baik” yang “prestasi”.

Memasuki pilkada DKI 2012, Prabowo dan Gerindra pun terpikat denga sosok Jokowi yang dikenal publik dengan prestasi dan baik, tanpa sisi negatipnya. Prabowo dan Gerindra pun menjadi promotor untuk mengorbitkan Jokowi hingga parpol-parpol lain pun ikut membentuk dalam satu koalisi untuk mendukung Jokowi menjadi calon gubernur DKI. Saat itulah Prabowo dan Gerindra memuja habis-habisan Jokowi hingga akhirnya Jokowi terpilih menjadi gubernur DKI. Inilah bukti nyata bahwa sesungguhnya di mata Prabowo dan Gerindra, Jokowi itu “orang baik yang prestasi”.

Sampai di situ, citra Prabowo tetap saja seperti biasa (netral dan minus, tanpa sisi positip yang dikenal publik).

Ketika pilpres 2014, Prabowo berhadapan dengan Jokowi sebagai sama-sama capres. Sejak itulah, Jokowi tetap dengan citra “netral” dan “positip” di mata pendukungnya, tapi jelek di mata kubu Prabowo/Gerindra, sedangkan Prabowo juga tetap dengan citra “netral” di mata pendukungnya dan “minus” di mata pendukung Jokowi.

Yang menarik di sini adalah, ketika massa sudah melebur menjadi “kubu” pendukung Prabowo pun tetap saja kubu itu tidak bisa memunculkan sisi positipnya Prabowo, padahal dua tugas utama pendukung itu kan biasanya: 1. Mengkampanyekan sisi positip sang calon, dan 2. Menyembunyikan sisi negatip si calon. Ternyata itu gagal dilakukan Mas Rocky cs. Malahan akhir-akhir bertambah banyak citra negatip kepribadian Prabowo yang sulit disembunyikan, misalnya seorang yang temperamental, suka percaya hoax, dll. yang bisa diviralkan kubu Jokowi.

Ini artinya Jokowi itu “minus”, “netral”, dan “positip”, sedangkan Prabowo cuma “netral” dan “minus”—tidak ada positipnya.

Sampai di sini, Mas Rocky tetap mengoperasikan konsep “Politik Akal Sehat” dengan menghentikan Jokowi lalu memilih Prabowo. Artinya “Politik Akal Sehat” itu bisa didefinisikan sebagai begini: “Jika ada dua orang capres yang sama-sama memiliki dimensi diri yang netral/normal dan buruk namun yang satunya memiliki juga sisi positipnya, maka pilihlah yang hanya punya sisi “netral/normal” dan “minus”. Waooo…, begitukah konsep dan etika “Politik Akal Sehat” itu? Jika praktiknya begitu, maka akalnya Mas Rocky mesti belum sehat.

Mari saya pandu jalan supaya akalnya Mas Rocky bisa sehat!

Mas Rocky yang saya banggakan…!

Ketika sistem politik kita sudah memberi kita pilihan antara Jokowi dan Prabowo, sementara realita sosok mereka seperti uraian di atas tadi, maka jiwa kita harus mampu menuntun otak kita untuk menjawab pertanyaan: Apakah ada jaminan bahwa Prabowo lebih hebat dari Jokowi? Bila Prabowo dijamin lebih hebat dari Jokowi, maka sekarang kita pilih Prabowo dan tinggalkan Jokowi. Tapi kalau Prabowo tetap lebih buruk dari Jokowi, maka akal sehat kita seharusnya mengatakan: “Untuk apa kita hentikan Jokowi?” Atau: “Untuk apa pilih Prabowo”?

Sayangnya, Mas Rocky dan kawan-kawan yang sudah getol membeberkan keburukan Jokowi, kok gagal menampilkan sisi positip atau sisi hebatnya Prabowo dibanding Jokowi! Ini berbeda dengan para pendukung Jokowi yang begitu fasihnya menampilkan sisi positipnya Jokowi, baik kepribadiannya hingga bukti prestasinya, sedangkan Mas Rocky dkk kok gagap menampilkan sisi hebatnya Prabowo (sikap dan prestasinya yang berhubungan dengan kesejahteraan dan keadilan seluruh rakyat)? Ini berarti akalnya Mas Rocky yang belum sehat.
Supaya akal kita tetap sehat, maka kita harus punya jiwa yang sehat. Dalam jiwa yang sehat kita akan bisa jujur untuk memilih Jokowi yang punya sisi positipnya ketimbang Prabowo yang tidak punya sisi positipnya.

Mas Rocky kok tetap saja ngotot “berhentikan Jokowi” tanpa membandingkan “apakah Prabowo memang lebih baik dari Jokowi”, maka saya menilai Mas Rocky punya jiwa yang sakit, jiwanya Mas yang tidak sehat. Ingat, supaya akal tetap sehat, maka kita harus punya jiwa yang sehat.

Jadi, ternyata “Politik Akal Sehat” itu tidak applicable . Mari kita ganti dengan model terbaru, yaitu “Politik Jiwa Sehat”. Jadi, yang jiwanya belum sehat sebaiknya jangan dulu berpolitik, karena dalam jiwa yang sehat, kita baru bisa melihat sisi hebat dari orang yang kita tidak suka, Mas!

Sepakat ya, mari kita kembangkan “Politik Jiwa Sehat”, Mas! Semoga negeri kita selamat dan damai, Mas!

Walau begitu, masih ada waktu enam hari lagi, saya tunggu bukti kecanggihan “Politik Akal Sehat”-nya Mas Rocky bisa memviralkan kehebatan (kepribadian dan prestasi) Prabowo dibanding Jokowi, ya! Biar bisa membantu saya, keluarga saya, tetangga saya, teman-teman saya dalam memilih pada tanggal 17 nanti, Mas! Kalau Mas Rocky cs tetap gagal memviralkan itu, mau-tidak mau, kami tetap memilih Jokowi.

Jangan lupa lo, Mas! Itu penting, karena jumlah pemilih seperti saya ini banyak, lo! Kami hanya memilih kalau yang satunya lebih bagus dari yang satunya. Kami bukan memilih Prabowo karena Jokowi jelek, tapi kami baru mau memilih Prabowo kalau ternyata Prabowo lebih hebat dari Jokowi lo, Mas! Sudah ya, ditunggu ya, Mas!

Yogyakarta, 11 April 2019

Salam,

Anthony Tonggo

Catatan:
Mohon bantuan para sahabat untuk mengirim surat saya ini agar bisa tiba dan dibaca Mas Rocky Gerung. Siapa tahu sebelum hari pemilihan Rocky cs bisa menunjukkan kepada saya tentang jaminan bahwa Prabowo lebih hebat dari Jokowi, sehingga bisa membantu saya dan kawan-kawan, keluarga saya, tetangga saya dalam memilih. Terima kasih, ya! (Penulis : Anthony Tonggo. Yogyakarta)!