Home Artikel Pasca Debat IV, Capres Mana Yang Untung Dan Rugi

Pasca Debat IV, Capres Mana Yang Untung Dan Rugi

146
0

Seri Analisa Politik
Penulis : Anthony Tonggo – Jogyakarta*

Pergerakan Suara Pasca Debat IV, Capres Mana Yang Untung dan Rugi?.

BERBEDA dengan debat-debat sebelumnya yang tidak terlalu signifikan berpengaruh, pasca-Debat Ke-4 capres Jokowi vs Prabowo ada pergerakan suara yang signifikan. Hal ini dipengaruhi dua pernyataan Prabowo, yaitu soal komitmen beliau pada Pancasila dan tuduhan Prabowo atas TNI (Asal Bapak Senang/ABS, Prabowo lebih TNI dari TNI, dan TNI rapuh). Sementara dari Jokowi tidak ada pernyataan yang bisa mempengaruhi dinamika elektabilitas.

Mengapa dua pernyataan itu bisa mempengaruhi pergerakan suara? Capres mana yang diuntungkan?
*

Prabowo: Tarik-Menarik Kepentingan

PRABOWO sudah tahu bahwa dirinya dituduh pro-khilafah yang akan menggantikan Pancasila, sehingga kaum nasionalis pro-Pancasila-NKRI-Bhineka Tunggal Ika memihak ke Jokowi-Ma’ruf.

Sebaliknya, kaum khilafah pun selama ini sudah merasa yakin bahwa Prabowo akan memihak mereka.

Pernyataan Prabowo di atas akan mempengaruhi pilihan segelintir kaum nasionalis dan juga khilafah. Segelintir kaum nasionalis akan tidak terlalu ragu lagi akan keterancaman Pancasila dan di pihak khilafah merasa bahwa pada akhirnya Prabowo pun sama saja seperti Jokowi, yaitu sama-sama akan berperang melawan ideologi mana pun yang mau menggantikan Pancasila, termasuk terhadap khilafah.

Jadi, ada suara nasionalis yang kembali mengalir ke Prabowo dan ada suara khilafah yang keluar dari Prabowo lalu masuk ke golput.

Namun kaum elit khilafah tidak akan meninggalkan Prabowo karena meski mereka tahu bahwa khilafah tidak mudah beroperasi di era Prabowo, namun minimalnya Rizieq Sihab sudah dijanjikan Prabowo untuk dijemput pulang bila Prabowo terpilih jadi presiden dan kemungkinan semua kasus hukum Rizieq akan dipeti-eskan. Bagi khilafah, ini tentu lebih mending ketimbang Jokowi yang jadi presiden.

Jadi, dalam Debat Ke-4 ini, yang berkurang adalah suara Jokowi-Ma’ruf, sedangkan yang naik adalah golput.

Berlarinya suara nasionalis ke Prabowo itu bukan karena Prabowo dipandang lebih hebat dari Jokowi, tapi karena Jokowi tidak bisa diharapkan untuk memungkinkan bagi mereka untuk korupsi dan Jokowi tidak mau melindungi koruptor. Jokowi memberlakukan cukup serius di anti-KKN, sehingga cukup banyak koruptor dan calon koruptor yang merasa dirugikan. Mereka inilah yang berlari meninggalkan Jokowi dan memilih Prabowo, karena Prabowo sebagai mantan pelaku Orde Baru dianggap lebih permisif terhadap KKN—artinya publik yakin dengan teriakan anti-KKN itu cuma pemanis bibir politik Prabowo belaka.
*

Perasaan TNI

ENTAH benar ataupun salah tuduhan Prabowo atas TNI yang dianggap ABS, TNI lemah, dan Pabowo lebih TNI dari TNI, namun tuduhan dan anggapan Prabowo itu sudah menyinggung perasaan keluarga besar TNI.

Secara institusional TNI tidak menindak Prabowo, namun, sebagai pribadi, mereka dan keluarganya akan menghukum Prabowo di TPS nanti dengan tidak memilih 02. Mereka akan memilih 01 (Jokowi-Ma’ruf).

Jadi, pada poin ini, ada pergerakan suara dari keluarga besar TNI yang selama ini memilih Prabowo akan lari ke Jokowi.
*

Prabowo Stabil, Jokowi Menurun, Golput Naik

JADI, dua faktor di Debat Ke-4 yang mempengaruhi pergerakan suara, yaitu: 1. Pernyataan Prabowo pro-Pancasila serta tidak pro-khilafah, dan 2. Ketersinggungan TNI (TNI ABS, TNI lemah, dan Prabowo lebih TNI dari TNI).

Sebagian khilafah memilih golput, segelintir nasionalis yang pro-KKN lari ke Prabowo, serta keluarga besar TNI lari ke Jokowi. Jumlah keluarga TNI yang memilih Jokowi lebih kecil jauh dibanding larinya suara segelintir nasionalis pro-KKN ke Prabowo.

Jadi, pasca-Debat Ke-4 itu, suara Prabowo stabil, Jokowi sedikit menurun, dan golput meningkat.
*

Nasib Khilafah di Tangan Prabowo

SEKARANG bisa saja khilafah menimbang bahwa lebih baik di tangan Prabowo dibanding Jokowi. Namun semua itu baru kemungkinan, belum pasti. Segala kemungkinan bisa saja terjadi, selama buktinya belum ada. Demi kenyamanan khilafah, kemungkinan Prabowo lebih lemah dari Jokowi tidak usah dibahas, karena kalau itu terjadi berarti sudah pasti lebih nyaman bagi khilafah. Cukuplah melihat kemukinan lain diluar harapan khilafah.

Prabowo bisa sama atau lebih keras dari Jokowi. Mengapa?

Pertama, Prabowo berlatar-belakang militer era Orde Baru. Kita tahu, Orde Baru adalah orde otoriter dengan TNI sebagai alat untuk menekan rakyat.

Prabowo adalah anggota TNI di masa Orde Baru, bahkan anak mantunya Soeharto. Ini berarti sebagian dari umur Prabowo sudah dihabiskan untuk menjadi mesin algojo Orde Baru. Naluri algojo pun tetap menggoresi hidup beliau.

Kedua, Prabowo dari latar keluarga multikulturalisme; keluarga kristiani, berdarah Tionghoa, dan keluarga pejuang. Latar belakang semacam ini membuat Prabowo sudah akrab dengan perbedaan.

Ini berarti perjuangan khilafah yang melakukan intoleransi dan menggantikan Pancasila otomatis akan kembali berhadapan dengan “tangan besi” Prabowo. Bila Jokowi masih sekadar membubarkan HTI dan membawa sejumlah pelaku intoleran ke jalur hukum, sangat boleh jadi di tangan Prabowo akan menambah satu terapi penyelesaian, yaitu dengan kekuatan militer. Ini membawa khilafah akan jauh lebih celaka lagi.

Gelagat kekerasan itu bisa saja kita lihat dari sikap Prabowo yang menggebrak meja dan memarahi pendukungnya di Madura baru-baru ini. Padahal di situ pun ada para tokoh agama.

Pertantanyaannya: Kalau memang Prabowo pro-Pancasila dan tidak mendukung khilafah, kenapa sekarang Prabowo dekat dengan khilafah?

Semula Prabowo dan Gerindra berada di garis nasionalis, bahkan dulunya Prabowo/Gerindra berada satu koalisi dengan Megawati/PDIP. Karena konstelasi politiklah yang membuat Gerindra tidak punya kawan koalisi.

Semua partai nasionalis berada di poros Megawati/PDIP, sedangkan SBY cuma jadi poros lemah, maka jadilah Prabowo dan Gerindra tidak punya kawan lagi. Prabowo kan butuh suara, makanya siapa pun yang mau berkawan dengannya, Prabowo terima saja.

Jadi, pertemanan Prabowo dengan khilafah itu cuma karena Prabowo membutuhkan suara, sedangkan khilafah membutuhkan perlindungan.

Tentunya, kalau Prabowo sudah terpilih menjadi presiden, maka sikapnya terhadap khilafah bisa berbeda. Prabowo bisa jadi ancaman bagi khilafah.

Jangankan Prabowo yang memiliki posisi nasionalis dan militernya sangat jelas, Yusril Ihza Mahendra yang selama ini dikenal lebih bela islam dibanding Prabowo saja bisa mudah mengusir FPI dan Rizieq Shihab dari Partai Bulan Bintang (PBB) di saat dirinya dan PBB mau “merapat” ke Jokowi-Ma’ruf baru-baru ini.

Jadi, kepentingan adalah yang paling abadi. Pertemanan Prabowo dan khilafah itu tidak akan abadi. Begitu Prabowo sudah jadi presiden, maka beliau akan menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya.

Bila para pejuang khilafah sadar akan kemungkinan ini, maka mendukung Prabowo sekarang pun tidak menjamin nasib akan lebih baik. Minimalnya, selama presiden di tangan Jokowi dan Prabowo, khilafah dan semua yang mau mengganti Pancasila tetap tidak nyaman.

Apalagi ketika sudah menjadi presiden, Prabowo pun akan jadi gula bagi semut-semut pencari “kursi kekuasaan”.

Yang tadinya jadi lawan bisa jadi kawan. Apalagi sikap Prabowo adalah orang yang mudah berkawan dan mudah memaafkan. Di saat itulah, pejuang khilafah semakin terpinggirkan, baik karena alasan ideologi maupun alasan kompetensi keahlian. (*)

*Penulis : Anthony Tonggo, Alumnus FISIPOL UGM Yogyakarta.