Home Artikel Pancasila vs Khilafah: Menghitung Hari NKRI Kita

Pancasila vs Khilafah: Menghitung Hari NKRI Kita

219
0

Penulis : Anthony Tonggo

Seri Analisa Politik

AKHIRNYA Luhut B. Panjaitan yang berada di Pemerintahan Jokowi-JK dan Professor Intelijen kita, Hendro Priyono, pun angkat bicara, bahwa Pilpres 2019 ini adalah Pemilu Presiden yang sangat berbeda dari Pemilu Presiden sebelumnya, dimana saling berhadapan antara Pancasila dan Khilafah.

Pertanyaannya: 1. Adakah khilafah?, 2. Dimanakah posisi khilafah?

Tanda dan Posisi Khilafah

KALAU kita lihat dari aspek isu agama yang diangkat, dari simbol-simbol yang tertulis yang dipakai sebagai alat peraga, dan dari pekikan-pekikan dalam kegiatan unjuk rasa maupun pawai/konvoi/kampanye, maka jelaslah bahwa memang di pilpres ini sedang berhadapan antara Pancasila vs Khilafah.

Namun dilihat dari rekam jejak dan semangat setiap paslon capres-cawapres kita (Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi), saya tidak setuju kalau isu Pancasila vs Khilafah itu untuk diidentikkan dengan Jokowi-Ma’ruf vs Prabowo-Sandi. Juga lebih tidak setuju lagi kalau dibilang Pancasila vs Khilafah identik dengan Prabowo-Sandi vs Jokowi-Ma’ruf. Mengapa?

Dalam kedua paslon capres-cawapres kita ini sama sekali tidak memiliki rekam jejak yang bersinggungan dengan khilafah. Prabowo seorang keturunan Jawa-Tionghoa, dari latar belakang non-muslim, menjadi mualaf karena perkawinan dengan anaknya Soeharto yang dari kejawen-pancasilais, seorang mantan perwira tinggi TNI hasil besutan Orde Baru yang begitu doktrinistik dengan Pancasila, yang sekolah di sekolah-sekolah non-muslim. Di ruang terbuka Debat Ke-4 (30/3/2019) pun Prabowo menyampaikan bahwa dirinya tidak membela khilafah, dirinya tetap membela Pancasila dan NKRI, hingga nyawanya pun masih mau dia pertaruhkan. Pernyataan terbuka ini pun membuat khilafah tahu arahnya.

Sandiaga Uno adalah seorang muslim dari keluarga metropolis-sekuler, berpendidikan di sekolah Katolik dan kuliah di negara sekuler Amerika, beraktivitas total di dunia usaha.

Untuk pasangan Prabowo-Sandi ini tidak terlihat jejak perjuangan-perjuangan keislamannya. Bahkan kedua beliau ini sama sekali tidak dijagokan oleh ulama-ulama. Namun karena ulama tidak punya kekuasaan politik di parpol (terutama Gerindra), maka Prabowo-Sandi-lah yang muncul sebagai penantang Jokowi-Ma’ruf.

Jokowi pun apa lagi; lebih jauh lagi dari khilafah. Justru khilafah paling sengit dengan Jokowi yang membubarkan HTI dan siap melirik ke ormas-ormas radikal lainnya. Jokowi bersama PDIP berada di barisan depan Pancasila.

Kiai Ma’ruf Amin adalah sesepuh NU, dimana NU adalah ormas Islam terbesar yang paling getol dengan Pancasila, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Lagian, Kiai Ma’ruf adalah Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila.
Jadi, kedua paslon capres-cawapres kita ini jauh dari khilafah. Mereka adalah Pancasila, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

Lalu, di manakah khilafah dalam pilpres ini? Khilafah adalah penumpang resmi yang masuk dan diijinkan oleh regulasi negara sebagai bagian dari hak kewarganegaraan mereka di pilpres.

Jadi, kita tidak bisa mengatakan bahwa khilafah itu Jokowi-Ma’ruf atau khilafah itu Prabowo-Sandi. Namun bahwa kedua paslon itu tahu bahwa ada khilafah, itu ‘ya’, karena tujuannya bukan untuk menggantikan Pancasila, melainkan demi meraup suara di TPS saja.

Khilafah pun sadar, bahwa mereka pun dimanfaatkan demi elektabilitas paslon capres-cawapres saja. Oleh karena itu, khilafah tidak punya kepentingan dengan siapa pun yang akan jadi presiden-wapres nanti; yang penting perjuangan khilafah tetap eksis ke depan.

Pertanyaannya: Apa target khilafah dalam pilpres ini?

Khilafah : Kelangsungan Perjuangan

TUJUAN awal khilafah adalah mendirikan NKRI Bersyari’ah. Pasca-Orde Baru, laju kinerja mereka cukup meyakinkan, baik dari segi jumlah pengikut hingga peran sosial-budaya dan dalam politik.

Namun laju mereka sempat mendapat kerikil tajam di era Jokowi selama empat tahun ini, termasuk pembubaran HTI dan ada lirikan ke ormas lainnya lagi. Untuk itu, khilafah harus ikut bermain dalam pilpres 2019 agar ke depan masih bisa berkinerja baik. Caranya adalah menjadi salah satu kekuatan suara dan energi bagi salah satu paslon.

Bila paslon itu menang, kalaupun mereka tidak ikut berkuasa, minimalnya khilafah tidak dihalangi untuk melanjutkan perjuangannya menuju saat yang tepat untuk pembubaran Pancasila.

Walau demikian, khilafah akan berusaha agar bisa manfaatkan posisi paling ideal, yaitu menjadi penguasa baru di Indonesia, yaitu presiden, wapres, dan mengendalikan kabinet. Caranya adalah dengan mendorong agar kubu Jokowi-Ma’ruf dan kubu Prabowo-Sandi harus berperang saudara. Dalam perang saudara itu, khilafahlah yang menikmatinya dengan mengatur pemilu ulang di tengah tokoh-tokoh nasional sudah lenyap sebagai korban perang.

Makanya, satu-satunya cara untuk melemahkan khilafah adalah dengan bersatunya Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi paling lambat pada H+1 (tanggal 18/4/2019) untuk bergandeng tangan dengan TNI-Polri dalam melawan khilafah. Diharapkan intelijen kita harus bekerja untuk menciptakan ini.

Bagaimana kalau skenario ini gagal?

NKRI Bersyari’ah Gagal, Indonesia Selesai

BILA Khilafah yang berkuasa, maka boleh jadi NKRI bubar. Potensi lama di Organisasi Papua Merdeka (OPM), Republik Maluku Selatan (RMS), dan persatuan rumpun Melanesia di wilayah timur akan mulai mendapatkan momennya untuk bergerak memisahkan diri. Mungkin juga diikuti Bali, Kalimantan, juga Sulawesi bagian utara. Bahkan mungkin kenangan akan Negara Indonesia Timur (NIT) bisa merajut kembali. Itu tinggal menunggu tokohnya tampil, maka gerakan itu akan mulai beraksi.

Bisa saja sebagian dari orang Jawa, Sumatera, dll. yang tidak setuju dengan negara baru khilafah akan secara evolutif akan bergeser exodus ke timur.

Jadi, kalau Jokowi-Ma’ruf, Prabowo-Sandi, BIN, TNI, Polri tidak mau kisah itu terjadi, maka segeralah wujudkan persatuan itu paling lambat H+1 pilpres ini. Jika kita tidak berhasil, maka NKRI kita tinggal menghitung hari.

Ubah Kelakuan!

SIAPA yang salah ini semua? Kok bisa-bisanya khilafah bisa menyusun kehidupan dan berkembang bertahun-tahun di Indonesia selama reformasi tanpa diapa-apakan? Kenapa begitu?

Ke mana para presiden sebelumnya? Ke mana saja Habibie? Ke mana saja Gus Dur? Ke mana saja Megawati? Terutama, ngapaian saja SBY yang memerintah 10 tahun ketika Orde Reformasi dalam keadaan stabil?

Semua anggota DPR, MPR, dan DPD selama 21 tahun reformasi ke mana saja? Kalian semua buat apa saja?

Semua parpol berada di koalisi pemerintahan dan oposisi. Semua parpol mendapat kesempatan mengelola negara ini di eksekutif dan legislatif? Kalian buat apa saja? Tidurkah kalian? Salahkah Ketua Umum PSI, Grace Natalie, baru-baru ini di Medan yang menyerang kalian sebagai parpol-parpol gagal dalam menjaga Pancasila dan NKRI? Kalian mengakui kesalahan dengan cara menyerang balik Grace, kan?

Jadi, ke depan, jika Pancasila menang dalam pilpres ini, HENTIKAN khilafah! Jangan lagi banyak pidato yang menghimbau soal toleransi, Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika! Telinga rakyat sudah pekak mendengar pidato kalian! Rakyat hanya mau khilafah hilang.

Siapa pun presiden terpilih dan siapa pun caleg terpilih (terutama parpol nasionalis), tugas utama dalam pembudayaan ideologi negara adalah: 1. Buat keputusan hukum politik “Kembalikan Pancasila Sebagai Asas Tunggal” seperti era Soeharto, 2. Buat keputusan hukum politik bahwa khilafah sebagai ideologi terlarang di republik ini, 3. Pembubaran seluruh institusi sosial dan politik (termasuk parpol) yang terindikasi dan berafiliasi dengan khilafah, 4. Melahirkan produk hukum khusus bagi para penyebar ideologi terlarang dan usaha penggantian Pancasila dengan salah satu bentuknya adalah pencabutan kewarganegaraan dan mendeportasikannya keluar dari NKRI, dan 5. Melakukan litsus bagi aparatur negara (PNS, TNI, Polri) yang terindikasi khilafah agar memilih antara khilafah atau Pancasila dan berhentikan bagi mereka yang tidak memilih Pancasila.

Jika kalian tetap dengan pidato himbauan, itu artinya kalian memang memanfaatkan rakyat untuk mendapatkan suara dengan memainkan isu Pancasila vs Khilafah ketika musim pemilu tiba seperti ini. Rakyat sudah lelah mengikuti proses yang mencemaskan semacam ini.

Hei, politikus dan parpol yang selalu berkoar bibir mengakui diri nasionalis! Cukup di pemilu 2019 ini kalian memunculkan isu Pancasila vs Khilafah! Kalau ke depan masih juga bikin isu ini, rakyat mau TUTUP KUPING dari polusi suara kalian! Bosan dengan kalian!

Semoga Pemilu damai, Pancasila menang, dan stop khilafah…! (*)

Penulis : Anthony Tonggo, Alumnus FISIPOL UGM Yogyakarta.