Home Artikel Memilih Pemimpin : Belajar dari Kemenangan Hoax

Memilih Pemimpin : Belajar dari Kemenangan Hoax

145
0

Oleh : Anthony Tonggo

Seri Analisa Politik

SEMAKIN mendekat ke hari-H pemilu, pada umumnya pilihan kita pun sudah mantap. Jika tidak ada kejadian yang signifikan, maka suara sudah mulai stabil. Yang mau memilih Jokowi-Ma’ruf, Prabowo-Sandhi, caleg, dan yang golput sudah mulai mantap.

Pilihan kita berdasarkan proses kerja otak dan hati kita atas hasil olahan data yang kita dapatkan, baik secara empirikal pengalaman kita sendiri maupun berakumulasi dengan informasi yang kita peroleh.

Hidup kita di hari-hari ini sudah disesaki dengan berjuta-juta informasi tentang diri capres-cawapres dan caleg. Lalu kita memilih dengan begitu percaya diri bahwa pilihan kita sudah top.

Yang menariknya adalah hampir setiap orang mengakui diri sebagai pemilih cerdas, pemilih bijaksana. Orang selalu merasa bahwa dia sudah memilih berdasarkan pertimbangan dari berbagai aspek. Saat seperti ini sudah sulit kita temukan bahwa ada orang yang mengakui dirinya bodoh, memilih berdasarkan SARA, emosional.

Benarkah kita sudah cerdas dan bijaksana dalam memilih? Mari kita periksa diri sekali lagi, lagi, lagi, dan lagi…!

Mengapa saya mengajak kita untuk harus memeriksa kembali pikiran kita? Karena banyak kasus politik dan hidup nyata kita yang membuktikan bahwa orang pintar benaran pun sering salah pilih, pilihannya dipengaruhi oleh informasi-informasi hoax yang berseliweran. Mari lihat tiga ilustrasi berikut ini untuk menunjukkan bahwa orang pintar pun salah pilih.

Bencana Jogja, Brexit di Inggris, dan Pemilu Amerika

ANDA setuju kalau Jogja disebut kota pendidikan, kan? Anda juga setuju kalau Amerika dan Inggris disebut dua negara yang memiliki masyarakat lebih cerdas dari kita, kan? Mayoritas dari 100 Universitas Terbaik dunia itu ada di Amerika dan Inggris. Jumlah peraih nobel paling banyak dari Amerika dan Inggris. Di negeri ini, populasi sarjana hingga professor paling banyak di Jogja. Tapi ada tiga kejadian ini yang menunjukkan bahwa orang pintar pun bisa percaya hoax. Yang pintar saja percaya hoax, apalagi yang kurang dan tidak pintar.

1. Gempa Jogja: Professor Lari.

Sesaat setelah bencana gempa mengguncang Bantul – Jogja tahun 2005, tersiarlah kabar bahwa sedang terjadi tsunami, air laut naik dari pantai selatan. Masyarakat dari pantai hingga yang 20-an kilometer dari pantai berlari ke utara semua, ke arah Sleman dan Magelang. Yang tidak bisa berlari, terpaksa harus naik bukit di sekitarnya. Saya dan tetangga termasuk yang lari ke bukit di dekat kampung kami yang tingginya cuma sekitar 50 meter— ada yang langsung meninggal karena kehabisan nafas dan tenaga.

Sekitar 2 jam kemudian, siaran BMKG di radio yang kami bawa ke bukit itu mengatakan bahwa ternyata berita tsunami itu hoax. BMKG bilang bencana gempa itu tidak menimbulkan tsunami. Kami semua kembali ke tenda pengungsian masing-masing.

Dalam pelarian itu, ternyata banyak orang jadi korban. Ada yang kecelakaan tabrakan karena lari kendaraan tidak terarah, ada yang serangan jantung karena ketakutan dan kelelahan. Juga ternyata rumah-rumah dan tenda banyak yang dimasuki pencuri; mengambil harta masyarakat yang lari.

Diantara pengungsi itu, banyak juga yang sarjana hingga professor. Teman saya yang professor sastra berlari sekitar 15 km dan berlindung di keraton.

Kejadian ini menunjukkan bahwa yang percaya hoax itu dari masyarakat biasa sampai professor.

2. Brexit: Inggris Gigit Jari

Tahun 2015 Inggris melakukan referendum untuk memilih mau tetap bergabung dengan Uni Eropa (UE) atau mau keluar dari UE (Brexit = Britain Exit).

Rakyat Inggris termakan isu bahwa ekomomi Inggris akan sulit maju selama masih bergabung dengan UE. Isunya bahwa Inggris menjadi pemberi pemasukan terbesar ke UE dan menjadi sasaran imigran dari berbagai negara di Eropa. Kata para politisi Inggris, jika tidak segera keluar dari UE, maka Inggris akan terus jatuh. Bila keluar dari UE, maka sekian triliun poundsterling bisa dialihkan ke dana asuransi kesehatan masyarakat.

Akhirnya dalam referendum itu dimenangkan oleh pilihan brexit. Inggris keluar dari UE.

Ternyata, sejak itulah, hingga hari ini, ekonomi Inggris bertambah buruk. Pertumbuhan ekonomi Indonesia saja masih jauh lebih baik (4-5 persen), karena Inggris cuma 1-2 persen. Janji yang mimpi bisa menambahkan triliunan poundsterling untuk menambah asuransi kesehatan ternyata tidak terbukti. Janji bilang bisa mengendalikan imigrasi, ternyata tidak terwujud. Ternyata berhadapan dengan sistem ekonomi UE yang sudah terbangun rapi sangat kuat, Inggris kesulitan untuk bergerak sebagai single-fighter.

Kini UE bilang bahwa terserah pada Inggris. Mau keluar terus, silakan; mau masuk lagi ke UE pun silakan. Inggris pasti bingung: mau keluar terus, bisa tambah hancur, mau masuk lagi kok malu.

3. Pemilu Amerika: Trump yang Mengejutkan

Di pasaran pengamat maupun judi, Donald Trump tidak diunggulkan untuk bisa mengalahkan seorang politisi kharismatis sekelas Hilarry Clinton.

Namun Trump meniupkan isu bahwa islam radikalisme semakin membahayakan Amerika (maka Trump akan malarang orang Islam tidak boleh masuk Amerika, ISIS harus dihancurkan, dan kegiatan agama Islam di Amerika harus dikontrol), bahaya komunisme (maka Trump mau hentikan bilateral dengan China dan Hong Kong), bahaya berhubungan dengan Amerika Latin yang banyak penjahat (maka Trump mau bangun tembok pemisah dengan Mexico), dan bahaya pasar bebas dunia (maka Trump akan melakukan proteksi dan keluar dari berbagai anggota organisasi ekonomi), dll.
Selain itu, Trump bikin teror bahwa dirinya hanya bisa dikalahkan oleh kecurangan, lalu Trump menuduh bahwa penyelenggara pemilunya tidak bisa dipercayai, data yang dimiliki semacam BPS-nya Amerika tidak bisa dipercaya, dan semua televisi bohong (kecuali tv milik Trump sendiri).

Ternyata rakyat Amerika percaya Trump. Akhirnya Trump pun keluar sebagai pemenang pemilu.

Kini sudah 3 tahun Trump memerintah Amerika. ISIS tetap hidup. Orang Islam masih bebas keluar-masuk Amerika, kecuali dengan negara-negara tertentu. Tembok pemisah dengan Mexico tidak dibangun, karena ternyata Trump cuma menyuruh presiden Mexico yang membiayainya—ya jelaslah Mexico tidak mau karena mereka tidak merasa berkewajiban untuk mengikuti Trump. Intinya, ternyata bahaya radikalisme, komunis, dll-nya itu tetap saja seperti biasanya selama ini.

Kini baru orang Amerika sadar bahwa mereka cuma termakan isu yang dibuat oleh kubu Trump dulu.

Jadi, negara dengan masyarakat secerdas Amerika pun bisa percaya hoax-nya Trump juga.

Jadi, hoax itu bisa dipercaya berbagai lapisan masyarakat. Mengapa begitu?

Pertama, Hoax memainkan isu yang jadi sensitip, phobia, dan diderita mararakat, sehingga masyarakat merasa bahwa kecemasan mereka ada orang yang mengatasinya.

Kedua, Durasi waktunya singkat, sehingga masyarakat tidak cukup waktu untuk berpikir rasional. Misalnya, hari pemilu semakin sempit sehingga masyarakat tidak punya waktu lagi untuk berpikir kritis, karena berpikir kritis itu membutuhkan kajian, analisa, pengumpulan data, bahkan melakukan berbagai abstraksi berpikir yang njlimet yang terlalu lama.

Kasus masyarakat Bantul yang lari karena hoax tsunami itu karena untuk bisa menentukan apakah berita tsunami itu benar atau bohong kan harus butuh banyak data. Proses pengumpulan data dan analisa itu membutuhkan waktu berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan; sementara berita tsunami Aceh baru saja mengatakan bahwa tsunami itu hanya butuh waktu 1-5 menit saja sudah sapu-bersih. Maka orang panik bahwa nyawa dia tinggal lagi 1-5 menit saja sudah hilang. Maka dalam limit waktu yang singkat itu orang sudah matikan akal sehatnya, yang muncul adalah ketakutan yang ultra-tinggi, maka ketakutan sudah menutupi akal, sehingga waktu sesempit itu cuma dipakai buat lari seadanya. Akal sehat butuh waktu lama, sedangkan ketakutan hanya butuh seper-detik saja.

Jadi, referendum brexit di inggris dimenangkan oleh hoax, pemilu di Amerika 2016 lalu dimenangkan oleh hoax, dan tsunami di Jogja tahun 2005 adalah tsunami hoax.

Bagaimana dengan pilpres 2019 kita? Mumpung masih ada 10 hari lagi. Anda sudah yakin dengan pilihan Anda? Yakinkah bahwa pilihan Anda bukan karena hoax yang dimainkan para politikus yang haus kekuasaan? Mari kita perhatikan alat untuk membedah pilihan kita…!

Pilpres 2019: Bahaya, Kita Dikepung Hoax!

HARI-HARI ini hidup kita dikepung isu. Dimulai dari yang janji tentang masa depan indah kita bila Jokowi-Ma’ruf atau Prabowo-Sandi yang berkuasa hingga pada keburukan kedua paslon itu.

Jokowi sudah pernah berkuasa, baik sebagai presiden maupun sebagai walikota Solo dan gubernur DKI. Segala yang baik dan buruknya Jokowi sudah kita rasakan. Maka sebenarnya pikiran kita tinggal saja menjawab pertanyaan: Apakah Prabowo bisa dijamin lebih baik dari Jokowi?

Logikanya, kita baru bisa melepas Jokowi apabila ada jaminan bahwa Prabowo memang lebih bagus dari Jokowi. Penuntun kita adalah: Mengapa harus Jokowi bila Prabowo lebih bagus? Atau: Mengapa harus Prabowo kalau memang Jokowi lebih bagus? Standar penentu kebagusan mereka terletak pada terwujudnya kesejahteraan kita bersama kelak.

Bila titik fokusnya ke kesejahteraan, maka bukti prestasi dan potensi diri paling menentukan. Sampai di sini, maka kita disodorkan dengan berbagai isu yang berbeda. Ada yang menyajikan prestasi ekonomi, infrastruktur, SDM di era Jokowi bagus dan ada yang bilang tidak. Data dan sumbernya pun berbeda-beda. Sementara itu, kubu Prabowo pun tidak bisa menampilkan prestasi Prabowo dalam konteks pembangunan kesejahteraan masyarakat.

Ketika gagal menampilkan prestasi Prabowo, kubu Prabowo pun getol menyampaikan keburukan Jokowi. Dan akhirnya yang berperang antar kubu adalah saling menyerang data negatip setiap paslon. Jadi, kubu Jokowi menampilkan prestasi Jokowi dan buruknya Prabowo, sedangkan di kubu prabowo cuma bisa menyampaikan keburukan Jokowi. Akhirnya isunya cuma seputaran keburukan kedua paslon itu.

Isu yang paling mematikan Jokowi adalah anak PKI, antek asing, pro-aseng, membenci Islam, kriminalisasi ulama, mau hilangkan pelajaran agama, akan melegalkan pernikahan LGBT, dan mau hilangkan azan. Sedangkan isu yang mematikan Prabowo adalah pelanggar HAM, jenderal pecatan, keislaman yang diragukan (misalnya oleh Rizieq Sihab lewat chat wathsapp-nya dengan Yusril Ihza Mahendra yang barusan dibuka ke publik oleh Yusril sendiri), keluarga berantakan, penguasaan lahan yang ribuan hektar dan sebagiannya disewakan ke asing, punya utang ke karyawan perusahaannya, punya utang hingga beberapa triliunan rupiah, bagian dari Orde Baru yang KKN dan otoriter, didukung islam radikal yang akan menggantikan Pancasila dengan khilafah atau syariat versi wahabi, dll.

Dari semua isu negatip itu, kita masih punya waktu 10 hari untuk menjawab tiga pertanyaan ini:

1. Benarkah data dan kesimpulan/tuduhan itu,

2. Apakah semua isu negatip itu memiliki korelasi dengan kinerja mereka setelah jadi presiden kelak. Khusus untuk Jokowi, andaikan semua semua isu negatip tentang Jokowi itu nyata ada di Jokowi, maka apakah punya pengaruh terhadap kinerja Jokowi selama ini?

3. Apakah semua janji mereka bisa diwujudkan? Manakah yang bisa dan manakah yang tidak akan bisa diwujudkan?

Tiga pertanyaan itulah jadi pekerjaan rumah (PR) kita dalam seminggu ke depan agar kita tidak mengulang kesalahan seperti Brexit di Inggris, profesor lari isu tsunami di Jogja, dan pemilu Amerika 2015 lalu.

Selamat menjadi pemilih bijaksana! Pemilih bijaksana itu bukan terletak pada memilih Jokowi ataukah Prabowo, tapi apakah Prabowo dijamin lebih bagus dari Jokowi? (*)

Penulis : Anthony Tonggo, Alumnus FISIPOL UGM Yogyakarta.