Home Artikel Memahami Perilaku Kubu Prabowo Pasca Pencoblosan

Memahami Perilaku Kubu Prabowo Pasca Pencoblosan

193
0

Oleh : Anthony Tonggo

Seri Analisa Politik

Dalam teori motivasi, semua yang dilakukan manusia itu untuk mencapai kenyamanan. Uraian dari Maslow (teori hirarki kebutuhan dasar/basic-needs manusia) hingga McClelland pun semua menjelaskan soal usaha manusia untuk mendapatkan kenyamanan hidup.

Seperti pada tahun 2014, Pilpres ini pun Prabowo sudah mengklaim menang di hari-H pencoblosan (sore hari pasca coblos). Lalu, Prabowo menyerukan agar semua tenang, tidak perlu melakukan tindakan kekerasan, harus melalu jalur hukum, dan menunggu keputusan resmi KPU. Sikap ini sama persis dengan sikap Prabowo di tahun 2014.

Hanya kita perlu cermati: Apakah akan berakhir dengan pengakuan Prabowo atas keputusan MK dan KPU juga lagi?

Saya ingin menjawab: 1. Mengapa sikap itu ditunjukkan, 2. Ke mana akan berakhirnya sikap itu?

Prabowo: Dari Petarung Sejati Hingga Jaga Image

KALAU kita melihat latar belakang Prabowo seorang perwira militer dan dari keluarga sukses (baik keluarga orangtua Prabowo maupun keluarga mertuanya/Soeharto), maka Prabowo adalah seorang petarung sejati.

Tipikal ini tidak hanya demi meraih kemenangan hingga titik akhir, tapi juga tidak memperhitungkan sudah berapa kali dia kalah.

Namun, latar belakang itu pula membekas bahwa Prabowo seorang bukan dari latar belakang petarung bebas tanpa aturan, melainkan dia seorang petarung yang penuh dengan aturan-main.

Untuk itu, Prabowo tidak akan menyerah sebelum wasit membunyikan peluit sebagai tanda berakhirnya permainan. Makanya Prabowo tidak akan menyerah sebelum KPU mengumumkan bahwa dirinya kalah, tapi regulasi memberi peluang untuk membawa semua kasus sengketa Pilpres ke jalur hukum.

Makanya Prabowo tidak seperti Amin Rais yang mau people-power, tapi Prabowo seorang petarung beradab, sehingga tidak mau kekerasan, tapi mau tempuh jalur hukum. Bagi Prabowo, siapa tahu perjuangan dia membuahkan hasil yang seperti diharapkannya.

Prabowo baru merasa nyaman apabila perjuangannya sudah tiba di peluit akhir KPU yang memutuskan resmi, maka Prabowo baru puas. Prabowo pasti menerima apa pun keputusan akhir yang berkekuatan hukum tetap dari institusi hukum dan dari penyelenggara pilu (KPU).

Selain dari motif pejuang sejati, ada kemungkinan dari perjuangan jaga image (jaim). Jaga image atau disebut lafal imej, itu artinya jangan sampai publik menangkap bahwa kekalahan dirinya karena memang dia kalah kualitas atau kalah daya tarik di mata pemilih atas dirinya, tapi karena faktor kecurangan. Bila perjuangan ini berhasil, maka imej Prabowo dan seluruh kubunya jadi tetap positip, yaitu mereka kalah bukan karena kalah mutu, tapi dizolimi atau dicurangi.

Orang dengan motif jaim pun pada akhirnya menerima dengan lapang dada keputusan hukum dan KPU/wasit.

Bagaimana dengan para pendukung Prabowo yang mau mati-matian berjuang untuk menolak pengakuan kalah?

Itu dalam rangka menyamankan diri mereka juga, baik terhadap publik maupun terhadap Prabowo. Artinya mereka tidak mau dinilai buruk oleh Prabowo sebagai pendukung yang tidak serius. Nanti juga mereka akan terima sikap Prabowo yang menerima keputusan KPU dan sama-sama merasa bahwa mereka tidak kalah, tapi cuma dizolimi.

Contoh kasus sikap kubu 02 yang bisa menjelaskan motif jaim ini adalah kontradiksinya antara omongan Prabowo dengan tindakannya. Di satu sisi bilangnya mau menunggu keputusan KPU, tapi di satu sisi sudah mengumumkan kemenangannya.

Di satu sisi menuduh hasil kerja para lembaga survei tidak bisa dipercayai, tapi mempercayai hasil survei internal.

Dengan dua motif itu tidak membahayakan proses pemilu kita. Tiba waktunya (setelah KPU mengumumkan) akan diam sendiri.

Apakah bahayanya sudah selesai di situ?

Awas Radikalis!

NAMUN, seperti disinyalir banyak pihak, bahwa pilpres kali ini ditumpangi radikalis. Kenyamanan radikalis itu bukan terletak pada siapa presidennya, tapi tetap exisnya mereka ke depan.

Radikalislah yang akan bermain agar berujung ke konflik kekerasan, sehingga minimalnya kekuasaan segera beralih dari tangan kaum nasionalis, maksimalnya khilafahlah yang jadi pemegang kendali negara.

Tanda-tanda awal gerakan ini adalah adanya gerakan agitasi (penghasutan) terhadap masyarakat bahwa telah menang dan terjadi kecurangan. Sebab, jika mau konsisten dengan komitmen Prabowo di atas, mestinya menyiapkan bukti-bukti pelanggarannya saja sebagai bahan bukti di pengadilan nanti. Ternyata yang terjadi adalah pengumpulan massa untuk mempengaruhi opini bahwa 02 dicurangi.

Untuk itu:

1. Kubu Jokowi-Ma’ruf tidak boleh terpancing provokasi. Radikalis pasti memancing terus agar terjadi keributan dan kerusuhan.

2. Paling lambat pasca pengumuman hasil oleh KPU, Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi harus segera bertemu dan bersahabat. Namun lebih cepat tentu lebih baik.
3. TNI dan POLRI harus siap-siaga! Tindak tegas bagi yang melakukan anarkis dan pelanggaran hukum.

Salam Pemilu Damai…! (*). Penulis : Anthony Tonggo, Alumnus FISIPOL UGM Yogyakarta.