Home Suara Redaksi Kado Pelantikan Kepala Daerah “Kepala Daerah Vs Korupsi, Siapa Unggul?

Kado Pelantikan Kepala Daerah “Kepala Daerah Vs Korupsi, Siapa Unggul?

441
0

Suara Redaksi

Selamat Kepada Tiga Kepala Daerah Dilantik diambang Pilnas Tahun 2019 oleh Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat tanggal 7 April 2019. Pelantikan persis pada Hari Minggu, Hari Kebhaktian atau Hari Tuhan bagi Umat Kristiani.

Ketiga Kepala Daerah terlantik masing-masing Kepala Daerah Kabupaten Ngada (Pulau Flores), Kepala Daerah Kabupaten Kupang (Pulau Timor) dan Kepala Daerah Kabupaten Ende (Pulau Flores).  

Sebagai Kado Manis dan ungkapan Selamat Bertugas, Suara Redaksi Larantuka.Com-Focus Indonesia News menurunkan judul khusus untuk para Kepala Daerah. Tidak terbatas untuk Ende, Kupang dan Ngada semata.

“Kado Pelantikan Kepala Daerah “Kepala Daerah Vs Korupsi, Siapa Unggul?”

Bukan rahasia lagi jika disebut bahwa salah satu record Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah sebagai Provinsi yang menempati urutan Provinsi Miskin “ketiga” setelah Papua dan Papua Barat. Isi NTT adalah Daerah-Daerah.

Apa Penyebabnya?.

Adalah ketidak-hadiran negara saat dibutuhkan warga. Berikutnya bertengger penyebab terkuat kedua adalah Korupsi. Pelakunya bernama Koruptor. Atau Koruptor yang belum terjerat hukum. Selanjutnya silahkan diteliti masing-masing, apa kira-kira penyebab NTT Miskin, kemajuan tidak pesat dan lain sebagainya.

Suburnya korupsi pada setiap era kepemimpinan telah menjadi tanda seolah-olah Piala Kita adalah Piala Kerakusan pejabat yang terus menerus bernafsu untuk memperkaya diri dan kroni-kroni.

Korupsi menjadikan bangsa ini dari waktu ke waktu harus bekerja extra dan extra bekerja, agar negeri ini tidak dipenuhi tikus-tikus berseragam abdi negara dan pejabat-pejabat.

Lihat saja berapa banyak terjerat KPK RI. Rumput pun ikutan geleng kepala.

Kasihan Bangsa ini.! Seolah Merdeka hanya untuk dirampok oleh para pejabat. Reformasi untuk pencurian berjemaah. Otonomi Daerah untuk menjadikan manusia menjadi tikus-tikus. Daerah-daerah seolah di-bajak para perampok.

Kita semua mengutuk itu. !

Saatnya berbenah dan terus berbenah. Sebab watak Korupsi telah menjadi monster ter-ganas bagi Bangsa ini. Yang terus berkembang-biak dari waktu ke waktu, disebut sangat subur pula di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Sumber dari hampir semua permasalahan di negeri ini adalah Korupsi yang terjadi di semua tingkatan Pemerintahan. Data menunjukan Korupsi mewabah mulai dari tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi sampai tingkat Pusat.

Jika korupsi tumbuh subur, pastinya hak-hak rakyat dirampas. Termasuk hak-hak untuk mendapatkan pelayanan birokrasi yang baik. Hak memperoleh perlindungan hukum yang adil, hak mendapatkan fasilitas untuk memudahkan peningkatan kesejahteraan warga secara berkecukupan, hak memperoleh pendidikan yang terjangkau, hak pelayanan kesehatan yang murah, hak kesempatan kerja yang besar dan lain-lain.

Sesungguhnya kita telah tiba pada titik tanpa pilihan lain lagi, yakni Perang Melawan Korupsi.

NTT harus menulis sejarah sebagai kumpulan daerah-daerah yang berperang secara terbuka melawan korupsi, melawan wajah-wajah kelompok korup berbaju pelayan negara yang menjarah hak-hak masyarakat dari waktu ke waktu.

Jumlah kaum korup di NTT diyakini terus bertambah seiring langkah bebas para aparatur negara yang korup namun tidak terciduk dan terus mengembangkan sayap.

Maka sudah waktunya diberantas di setiap daerah dan para Kepala Daerah harus menjadi motor penggerak, berdiri pada garda terdepan untuk NTT SEHAT.

Jika tidak, koruptor dan embiro-embrionya akan terus melahirkan koruptor-koruptor baru, populasi koruptor akan terus bertumbuh secara alamiah. Menjadi gerombolan tikus berseragam yang kian berserakan. Lalu menyebar untuk menjarah dan merusak martabat daerah-daerah, NTT dan Bangsa Indonesia.

Para Pemimpin Nusa Tenggara Timur dituntut wajib menang berperang melawan korupsi.

Dan harus menyatakan Perang Melawan Korupsi.

Kemenangan itu bisa diraih dengan sangat mudah yaitu Menang atas Diri sendiri.!!!!

Jika diri sendiri tidak terkendali, maka yang menang di NTT adalah Korupsi. Itulah yang unggul nantinya. Bukan kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat.

Kekalahan para pemimpin atas keganasan watak korupsi, hanya akan melahirkan koruptor-koruptor baru di Nusa Tenggara Timur. Tikus-Tikus Berdasi.

Tiga catatan kembali diulangi, yang patut dilakukan para Kepala Daerah & Wakil Rakyat yakni :

Pertama, Tegakan Kedaulatan Hukum dan Aturan Main secara berani, ber-nyali dan lebih tegas lagi untuk menekan praktek-praktek korupsi di seluruh tingkatan dalam wilayah NTT.

Kedua, tegakan kedaulatan system control secara mumpuni pada berbagai tingkatan. Jangan budayakan DPRD disetting untuk Juru Angguk-Angguk. Kembali pada marwah control.

Ketiga, Elit politik dan para pemimpin harus pantang menjadikan diri sebagai Pelindung, Penasehat, Pencari Jalan untuk selamatkan para koruptor, peluput perbuatan perbuatan korupsi. Supaya Polisi, Jaksa dan Hakim tidak terhalang-halangi dalam menindak siapapun koruptor tanpa adanya tekanan dari unsur-unsur petinggi lokal.

Sikap tegas dan prestasi baik Pemerintah tingkat pusat dalam mendukung pemberantasan korupsi, itu untuk di-tiru, bukan untuk di-perbincangkan dan untuk tepuk tangan riuh.

Kepala Daerah Vs Geng Korupsi, Siapa Yang Unggul : Koruptor???

Suara Redaksi LN Focus Indonesia News