Home Suara Redaksi Jangan Adili Penegak Jika Elit Dan Calon Elit Berambisi Keroposi Hukum

Jangan Adili Penegak Jika Elit Dan Calon Elit Berambisi Keroposi Hukum

132
0

Suara Redaksi*

Hari ini, secara Nasional Penegakan Hukum di NKRI semakin baik dan terus meningkat signifikan. Tetapi mental elit, masih butuh Revolusi Mental jutaan kali lagi, agar maju untuk lebih seimbang dan lebih mendominasi lagi kedepan dengan kerja keras untuk Supremasi Hukum tidak hanya di tingkat pusat tetapi juga daerah-daerah.

Setiap negara mempunyai Hukum yang berlaku bagi seluruh warga negaranya, tanpa kecuali. Indonesia juga berlaku Hukum.

Hukum secara umum adalah sistem atau aturan yang dibuat oleh manusia untuk mengatur atau mengontrol semua tingkah laku dalam negara. Yang berhak menaati hukum adalah semua warga negara. Sedangkan yang dapat menjalankan hukum, diserahkan kepada pihak-pihak yang berwenang. Penegak Hukum.

Immanuel Kant menyebut Hukum adalah keseluruhan aturan yang dapat menjaga kehendak bebas dari orang lain.

Plato mengungkapkan Hukum merupakan segala peraturan yang tersusun dengan baik dan teratur yang mempunyai sifat mengikat Hakim dan Masyarakat.

Menurut Mr. E.M. Meyers, Hukum merupakan aturan yang mengandung pertimbangan kesusilaan. Hukum ditujukan kepada perilaku manusia dalam masyarakat yang menjadi pedoman bagi para penguasa negara dalam menjalankan tugas.

Menurut Abdulkadir Muhammad, Hukum merupakan semua peraturan, baik itu tertulis atau tidak tertulis dan mempunyai sanksi tegas terhadap para pelanggar hukum.

Hukum di Indonesia ada dua jenis, Hukum Pidana dan Hukum Perdata.

Bagaimana Penerapan Hukum?.

Secara prinsipiil hukum mutlak bergerak dan terap, tanpa bisa dihentikan siapapun dalam sebuah negara. Hukum adalah Panglima Tertinggi.  

Jika demikian, bisa kah Hukum tumpul dan turun kastanya dari posisi Panglima?. Bisa.

Ya, Bisa. Itu jawabannya.

Ada banyak alasan yang bisa membuat Hukum tumpul. Diantara alasan demi alasan itu, salah satu alasan yang tergolong terkemuka di Indonesia adalah alasan adanya aksi campur tangan ‘Elit’. Itu salah satu alasan yang lebih sering didengar dibandingkan dengan alasan-alasan lainnya.

Dengan demikian, Penegak Hukum tidak bisa serta-merta di-salahkan. Sebab ada banyak faktor penyebab (alasan), termasuk faktor para ‘Elit’. Bahkan calon elit, yang belum elit pun, itu sudah mulai meraba-raba, pamer kebusukan, mulai coba-coba mau tumpul-kan Hukum !

Arti kata Elit disini tidak perlu diuraikan panjang kali lebar. Keyakinan tersirat, kata ‘Elit’ bukan kata yang asing untuk Bangsa Indonesia.

Jika anda berkelana kemana-mana sampai keliling dunia otak, hanya untuk menunggu dan mencaritahu arti ‘elit, ya silahkan berkelana kemana-mana, bila perlu sampai sampai gagal untuk lupa, bahwa sesungguhnya anda paham arti ‘Elit.

Banyak keluhan, pengaduan bahkan fakta menulis kisah di negeri ini, bahwa tidak sedikit ‘elit’ ataupun para ‘Calon Elit’ berambisi untuk me-nyetel hukum. Tujuan Elit untuk menumpulkan Hukum.

Calon-calon elit atau embrio-embiro yang belum memiliki bulu guna berterbangan kesana kemari, pun perlahan mau menumpulkan hukum.

Setidaknya, hal-hal seperti ini tidak bisa dibantah begitu saja, sebab sifatnya aneh tetapi nyata, tidak mungkin tetapi mungkin fakta, tidak diakui namun dilakukan.

Ini waktu yang tepat Indonesia mau Pemiliu Nasional. Pemilu Serentak. Pemilu DPRD Kabupaten/Kota, DPRD tingkat Provinsi, DPD, DPR RI, Presiden dan Wakil Presiden. Bisa jadi yang disebut elit dan calon elit masuk dalam kamus pejabat dan pejabat negara, atau juga calon-calon.

Jangan Adili Penegak Hukum Ketika Elit dan Calon Elit Berambisi Keroposi Hukum.

Ketahuilah, Negara ini sedang menunggu masa depannya. Termasuk yang paling vital masa depan Hukum Indonesia, mulai dari Ibu Kota Negara sampai ke kampung-kampung tertinggal.

Ketahuilah berbagai kisah buram serta tabiat elit dalam negeri ini. Jika tidak, maka hari ini rakyat adalah penanam terdepan yang menanam kerusakan demi kerusakan negara dan daerah-daerah di depan sana.

Hukum tidak luput terancam turun kasta dari Panglima, berikutnya menjadi apa saja, terserah anda!. Jika Pemilu tidak disambut dengan pemahaman yang sungguh-sungguh, atau sekedar untuk memilih. Yang penting pilih adik saya, pilih kakak saya, ipar, ponakan, tante, konco dan hiruk pikuk tindakan minim nalar Pemilu lainnya.

Selamat Pemilu Nasional Indonesia 17 April 2019.

Jangan Adili Penegak Jika Elit dan Calon Elit Berambisi Keroposi Hukum

Suara Redaksi*