Home Artikel Dinamika Terakhir Dua Kubu, Siapa Diuntungkan?

Dinamika Terakhir Dua Kubu, Siapa Diuntungkan?

176
0

Oleh : Anthony Tonggo

Seri Analisa Politik

MEMASUKI hari-H pencoblosan (17/4/2019), ternyata masih ada dinamika terakhir yang terjadi dalam tubuh capres-cawapres 01 (Jokowi-Ma’ruf) dan 02 (Prabowo-Sandi). Pada pertengahan Maret (15/3/2019) Ketua Umum PPP dari kubu 01, Rommy, ditangkap KPK atas dugaan jual-beli jabatan di Kementerian Agama. Menyusul, akhir Maret, ada perseteruan antara PDIP-Golkar dengan PSI hingga PSI dikeluarkan dari koalisi itu.

Sementara di kubu 02 terjadi dua peristiwa, yaitu terbongkarnya percakapan wathsapp antara Yusril Ihza Mahendra dengan Rizieq Sihab dan soal protes SBY lewat Partai Demokrat atas penampilan kampanye nasional Prabowo di GBK yang inklusif.

Pertanyaannya: 1. Apakah dinamika di kedua kubu itu mengakibatkan pergerakan suara untuk kedua paslon itu, 2. Paslon mana yang diuntungkan?

Signifikansi Pengaruh

BAGI pemilih, yang paling menentukan sikap militansi mereka kepada sang calon tergantung pada imej yang dimiliki sang calon tersebut. Selama imej seorang calon berubah maka reaksi awal mereka adalah kaget dan galau, lalu kembali menentukan pilihan: bisa tetap seperti semula dan bisa juga berubah pilihan.

Dinamika boleh saja menerpa sebuah kubu (yang terdiri atas calon dan tim suksesnya), tapi kalau tidak menyentuh ke areal imej calon maka tidak akan mengganggu pilihan masyarakat. Begitu menyentuh ke imej calon, maka saat itulah terjadi perubahan sikap pemilih terhadap sang calon.

Mengapa? Karena memang perubahan imej adalah menjadi tanda nasib masa depan kepentingan seseorang. Terancam atau tidak kepentingan pemilih? Ingat, titik tuju setiap stakeholder politik adalah ‘kepentingan’.

Bagaimana dengan dinamika di dua kubu itu? Paslon mana yang terganggu elektabilitasnya?

01 Untung, 02 Buntung

PENANGKAPAN Rommy oleh KPK adalah imej buruk buat Rommy pribadi. Kasus itu tidak sedang menyatakan bahwa Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin pun koruptor. Oleh karenanya, imej negatip kasus itu tidak ikut merembet ke Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin.

Meskipun kubu 02 berjuang untuk menarik Jokowi-Ma’ruf ke pusaran kasus Rommy itu (dengan membangun logika bahwa kubu 01 itu koruptor), namun tetap gagal. Kegagalan 02 dalam usaha perusakan imej 01 itu karena kubu 01 berhasil memviralkan bahwa kasus itu sebagai tanda bahwa Jokowi tidak pilih bulu, kawan maupun lawan sama saja di muka hukum.

Kegagalan 02 berikutnya karena publik sudah tahu bahwa korupsi di negeri ini melibatkan semua parpol dari kubu mana pun. Parpol dan DPR pun disinyalir sebagai lembaga korup di Indonesia. Di kubu 01 dan 02 pun isinya parpol dan politikus juga. Yang sudah divonis penjara karena korupsi pun banyak sekali dari parpol dan DPR maupun eksekutif. Itu artinya, perjuangan 02 untuk mencap 01 koruptor semua pun sia-sia, karena publik akan mencibiri “…sesama maling saling menuding…”. Jadi, dalam kasus Rommy itu, bukan untuk menunjukkan bahwa politikus yang lainnya “suci”, tapi cuma Rommy lagi apes saja. Yang lain belum dapat gilirannya saja.

Akhirnya, kasus penangkapan Rommy itu justru mendatangkan imej positip buat Jokowi.

Bagaimana dengan konflik PDIP-Golkar dengan PSI?

Konflik itu berawal dari pidato Ketum PSI, Grace Natalie, di Medan yang menuduh parpol-parpol nasionalis selama ini gagal menjaga NKRI dan Pancasila dalam mewujudkan toleransi. Ini dilihat dari berbagai kekerasan dan diskriminasi SARA masih kerap terjadi, bahkan existensi Pancasila pun terancam.

PDIP cs merasa terpojok. Lalu mereka tidak berusaha membela diri dengan menunjukkan bahwa mereka tidak bersalah, tapi malah memusuhi PSI. Jadi, konflik itu hanya membuka aib PDIP cs sendiri, sehingga tidak mengganggu imej Jokowi-Ma’ruf sedikit pun.

Justru meskipun sudah pecah kongsi, PSI dan PDIP cs tetap saja menjadi pendukung Jokowi-Ma’ruf. Buktinya di panggung kampanye 01 selalu ada PSI, PDIP, Golkar, dll.

Jadi, dinamika di 01 menghasilkan imej positip untuk paslon 01. Ini akan menarik segelintir para swing-voters untuk memilih 01 pada bulan Maret lalu.

Berbeda dengan dinamika di kubu 02! Ketika percakapan wathsapp Yusril dengan Rizieq justru mengungkapkan keraguan Rizieq cs atas keislaman Prabowo, itu artinya membuka sesuatu yang harus ditutupi selama ini, biar grassroot tidak tahu. Padahal motivasi dukungan kalangan islam tertentu kepada Prabowo itu karena motif agama. Jadi, kalau ternyata keislaman Prabowo pun diragukan, maka membuat sekelompok massa 02 pun mengendur. Mereka ini tidak akan memilih golput (yang dari radikalis) dan ada yang ke 01 (yang nonradikalis) lagi.

Kejadian kedua adalah pernyataan kekecewaan SBY atas fenomena inklusivistiknya kampanye nasional 02 di GBK. Kasus ini mengirim sinyal kepada pendukung setia SBY bahwa SBY tidak sudi mendukung 02 dan 02 ada indikasi ke arah radikalis yang mengancam Pancasila, NKRI, dan kebhinekaan kita.

Kasus ini menjadi puncaknya sikap Partai Demokrat yang setengah-hati mendukung 02. Indikasi itu pun sudah ada sinyal-sinyal sebelumnya, misalnya Partai Demokrat tidak menonjol di kubu 02, hampir tidak ada tokoh Demokrat yang tampil di kampanye-kampanye 02, kecuali Ferdinand Hutahaean yang spesialis menyerang Jokowi dengan gaya mirip Fadli Zon cs—namun sudah dibungkam oleh terbongkarnya percakapan mesumnya di whatsapp dan videocall yang viral di media sosial.

Rangkaian itu semua untuk ikut menjelaskan protes sang putra mahkota dinasti SBY di Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), atas beredarnya berita rencana susunan kabinet Prabowo-Sandi jika terpilih. AHY mengatakan bahwa Demokrat tidak tahu-menahu soal susunan kabinet itu, dan merasa tidak etis untuk berbicara soal kabinet di saat pilpres belum digelar dan hasilnya pun belum tentu menang. Kata AHY, itu hanya untuk menyakiti hati rakyat, dan Demokrat cuma mau konsern pada pileg dulu.

Tanggapan AHY itu menunjukkan bahwa Demokrat tidak terlibat dalam urusan apa pun di kubu 02, sehingga Demokrat cuma mau fokus ke pileg saja.

Baik SBY maupun Demokrat tentu punya massa pendukung fanatiknya. Semua narasi itu memberi sinyal pada pendukung SBY dan Demokrat, bahwa mereka tidak memilih 02. Lalu, kemana suara pendukung SBY dan Demokrat?

Pendukung SBY dan Demokrat akan ke 01. Ini karena: 1. Antara SBY maupun Demokrat tidak punya masalah dengan Jokowi-Ma’ruf, 2. Kiai Ma’ruf Amin adalah teman baik SBY yang juga pendukung SBY dikala SBY menjadi presiden.

Orang mungkin bertanya: Kenapa SBY dan demokrat tidak langsung ke kubu 01 saja? Anda tahu, SBY dan Megawati itu hubungan personalnya kurang bagus sejak SBY mundur dari kabinet Megawati (2011) hingga kini, padahal Megawati adalah tuan-rumahnya 01.

Jadi, dinamika terakhir di kubu 01 malah menguntungkan elektabilitas paslon 01, sementara dinamika terakhir di kubu 02 mengurangi elektabilitas 02.

Dinamika di 01 pada pertengahan Maret lalu sudah bisa terbaca lewat elektabilitas Jokowi-Ma’ruf di berbagai hasil survey yang dirilis para lembaga survey awal April lalu. Sedangkan dinamika di tubuh 02 di awal April ini akan dapat kita lihat pada rilisan terakhir para lembaga survey paling lambat tanggal 13/4/2019 atau langsung pada hasil coblosan tanggal 17/4/2019.

Pada rilisan terakhir itu pun terakumulasi juga dengan pengaruh pengakuan Prabowo bahwa dirinya tidak pro-khilafah dan tetap setia pada NKRI dan Pancasila yang ikut menaikkan elektabilitas 02 dan berkurangnya suara 01 di panggung Debat Ke-4 lalu.

Bila seterusnya hingga hari-H sudah tidak ada dinamika lagi, maka suara sudah nyaris stabil hingga hari-H.

Selamat menjadi pemilih bijaksana dengan menjawab pertanyaan: Apakah Prabowo dijamin lebih baik dari Jokowi? (*)

Penulis : Anthony Tonggo, Alumnus FISIPOL UGM Yogyakarta.