Home Artikel Pesta Demokrasi Pileg 2019 Mengecohkan Hati Nurani Rakyat

Pesta Demokrasi Pileg 2019 Mengecohkan Hati Nurani Rakyat

100
0
Sumber: Google

Oleh: Vinsensius Lado

Guru SMPK.Phaladhya Waiwerang

Seorang anggota legislatif berfungsi untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat. Menyampaikan dan memperjuangkan kebutuhan-kebutuhan yang menjadi masalah penting dalam masyarakat dan harus mendapat perhatian serius dari pemerintah. Kendati demikian, persoalan-persoalan ini tetap menjadi masalah utama dari satu periode ke periode berikutnya.

Meskipun persoalan yang dihadapi masyarakat tidak pernah kunjung usai dari waktu ke waktu, namun, di akhir periode, anggota dewan mulai kembali ke tengah masyarakat dengan propaganda yang menggiurkan masyarakat agar kembali terpilih menjadi penguasa pada periode berikutnya. Ini namanya pembohongan publik. Incumbent mengatakan telah banyak hal yang diperjuangkan demi kesejateraan masyarakat dan oposisi akan membalikan kenyataan itu, untuk sama-sama merebut hati masyarakat dalam kontestasi pileg, 17 April 2091  mendatang.

Hal terburuk para kandidat adalah ketika sudah terpilih, soal janji bukan urusan lagi, terpenting sekarang adalah berusaha mengembalihkan aset pribadi yang dikeluarkan pada masa kampanye.  Selain itu, perilaku pengemis menjadi raja dalam hitungan seketika selalu dipertontonkan di hadapan masyarakat.

Dengan melihat perilaku para kandidat seperti ini maka, menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat kepada para caleg. Hal ini membuat masyarakat bingung dalam menentukan pilihan. Masyarakat sudah muak dengan janji para caleg yang tidak pernah terjawab. Di samping itu jumlah caleg yang begitu banyak sehingga dapat mengecohkan hati nurani masyarakat dalam menjatuhkan pilihannya pada bulan April mendatang.

Pesta demokrasi pemilihan legislatif (Pileg) periode 2019-2024 sangat mengecohkan hati nurani masyarakat untuk menjatuhkan pilihannya. Masyarakat pada umumnya dan khususnya adalah masyarakat awam politik bertambah bingung  untuk menjatuhkan pilihan dengan cerdas. Sikap ini dapat dimengerti karena ada sekian banyak partai politik yang menampilkan puluhan bahakan ratusan calon legislatif (Caleg) yang menurut mereka adalah figur terbaik dari tingkat kabupaten, propinsi sampai pusat.

Dengan sekian banyak figur  ini, masyarakat awam berpikir bahwa sangatlah mungkin suara masyarakat akan menjadi mubazir. Suara masyarakat akan terbagi ke semua kandidiat yang belum tentu bisa memenangkan konstestasi ini. Itu akan berdampak pada jumlah perolehan suara seorang  figur untuk dapat lolos atau tidak. Apalagi tingkat kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi masih sangat kurang dalam pesta demokrasi kali ini. Di sisi lain, ada kecenderungan masyarakat awam politik memutuskan menjadi golongan putih (Golput). Belum lagi kepentingan keluarga juga turut menjadi salah satu faktor penentu dalam perolehan suara.

Saat ini, para kandidat sedang berkampenye. Bergairah tinggi menyampaikan janji palsunya di tengah masyarakat.  Banyak hal  positif di sampaikan. Tetapi semua itu adalah sensasi belaka untuk menarik simpati rakyat untuk memilihnya. Secara tidak sadar para politisi ini sementara mengajarkan kepada masyarakat bagaimana cara melakukan tipu muslihat.

Masyarakat sudah jenuh dengan janji-janji palsu para kandidat ketika mensosialisasikan diri selama masa kampanye. Realita ini membuktikan bahwa selama ini, seorang anggota legislatif setelah terpilih hampir tidak pernah melalukan apa-apa, bahkan hilang jejaknya dan akan muncul kembali saat dalam hajatan pesta demokrasi periode berikutnya. Sepanjang menjadi anggota parlemen (Dewan) hanya melakukan hal-hal untuk kepentingan dirinya sendiri tanpa memperjuangkan nasib masyarakat. Jika seorang anggota dewan itu merupakan perpanjangan tangan masyarakat maka, dia siap mendukung  program pemerintah bukan  mementahkan progaram pemerintah demi kesejateraan masyarakat dengan membangun sekian banyak alasan pembenar.

Dengan perilaku anggota Dewan seperti ini membuat banyak masyarakat tidak tertarik untuk melibatkan dirinya dalam pesta demokrasi pileg pada tahun 2019 ini.

Menjadi pertanyaan refleksi, siapakah yang salah, masyarakat atau para caleg yang biasa disebut sebagai  pelaku elit politik? Bagi saya politik itu murni dan masyarakat tidak pernah berpikir kalau seorang anggota parlemen itu sering melakukan pembohongan publik. Tetapi realita membuktikan bahwa ini sering dilakukan para anggota parlemen menjelang pileg untuk meraih terget agar bisa menjadi penguasa pada periode mendatang. Dengan mental dari para figur seperti ini, maka dapat dipastikan kepada masyarakat untuk berhati-hati dalam menjatuhkan pilihan Anda, karena pilihan Anda memastikan kemajuan daerah  dalam satu periode mendatang. Selain itu juga, hindari politik uang (Money Politic). Pastikan pilihan Anda pada figur yang memiliki rekam jejak yang baik, tidak pernah terlibat dalam kasus apa pun, korupsi, susila, dan sebagainya. Selamat memasuki pesta demokrasi legislatif tahun 2019 dan semoga wakil rakyat yang terpilih  di tahun ini dapat  memperjuangkan aspirasi masyarakat kecil.