Home Artikel Penyesalan Arief Budiman : Bisa Turunkan Soekarno, Tidak Jamin Mutu Penggantinya

Penyesalan Arief Budiman : Bisa Turunkan Soekarno, Tidak Jamin Mutu Penggantinya

199
0

Oleh : Anthony Tonggo

“Penyesalan Arief Budiman : Bisa Turunkan Soekarno, Tidak Bisa Jamin Mutu Pengganti Soekarno”.

SALAH satu edisi majalah TEMPO di tahun 1980-an adalah mewawancarai tokoh kharismatis dibalik penumbangan rejim Orde Lama (Orla) Soekarno, Arief Budiman, yang kini professor pensiunan di The University of Melbourne, Australia. Beliau jualah yang ikut menaikkan Soeharto.

Arief Budiman yang cendikiawan hebat itu dikenal sebagai ilmuwan pemberontak sepanjang hidup. Suatu hari wartawan mewawancarainya dengan pertanyaan mengapa Arief menginginkan Soeharto harus turun lagi dari kursi presiden, sedangkan dulu pun kakak kandung dari sang demonstran sejati Soe Hok Gie itu jugalah yang menumbangkan Soekarno dan menaikkan Soeharto.

Jawab Arief: “Kesalahan terbesar saya adalah hanya berpikir Soekarno harus berhenti, tapi lupa memikirkan apakah penggantinya lebih bagus atau tidak!”
**

SETIAP pergantian presiden (dan semua kepala daerah) di Indonesia, selalu saja ada yang kecewa terhadap presiden atau pemimpin yang sedang berkuasa dan ingin segera menghentikannya. Hasilnya pun tak pernah sepi dari kekecewaan. Bangsa ini sepertinya berjalan dari KECEWA menuju KECEWA.

Itu artinya kita masih seperti Arief Budiman cs di tahun 60-an: Bisanya hanya berjuang menurunkan pemimpin yang sedang berkuasa, tapi lupa memikirkan apakah penggantinya lebih baik atau tidak. Kita lupa belajar dari kesalahan Arief Budiman cs. tahun 1960-an.
**

SETELAH lima dekade berlalu, ternyata kita belum naik kelas! Masih tahan kelas atau turun kelas.

Gendang telinga saya sudah bergetar terus mendengar seruan “Hentikan Jokowi”. Namun cuma sayup-nyaris tak terdengar apakah Prabowo lebih baik dari Jokowi? Kita kapan naik kelasnya?

Kalau Jokowi vs Ahok, Jokowi vs Ridwan Kamil, Jokowi vs Bu Rismaharini, atau Jokowi vs Sri Sultan Hamengkoeboewono X; mungkin saya lebih mudah harus mulai serius untuk memutuskannya, karena berbagai variabel dan data pembandingnya lebih tersedia.

Saya sadar, seperti kodrat semua manusia, bahwa Jokowi punya kekurangan, bukan makluk sempurna. Namun kalau saya cuma berpikir “2019GantiPresiden”, pasti saya tidak mampu melihat apakah Prabowo dijamin lebih baik dari Jokowi?

Maaf, senior ku, Arief Budiman, yang sedang menikmati masa tua di Salatiga! Saya tidak mengolokmu, tapi saya ingin belajar dari masa lalumu! Tidak apa-apa, kan?**

Penulis : Anthony Tonggo , tinggal di Jogyakarta