Home Berita Pemilu Bertepatan Pekan Suci Umat Katolik, Ini Penegasan PMKRI Kupang

Pemilu Bertepatan Pekan Suci Umat Katolik, Ini Penegasan PMKRI Kupang

1593
0

Focus Indonesia News – PMKRI Cabang  Kupang-NTT sebelumnya melalui surat terbuka, tertanda Presidium Gerakan Masyarakat, Emanuel Boli, diterima redaksi tanggal 13 Maret 2019 mengumumkan agenda aksi menyikapi penetapan pelaksanaan Pemilu tahun 2019 pada tanggal 17 April yang persis bertepatan dengan Hari Pekan Suci Umat Katolik.

Konfirmasi lapangan (14/03/2019) PMKRI Kupang melalui rumusan pernyataan aksi dan materi kritis mengutarakan berbagai pikiran pokok atas jadwal Pemilu tahun 2019. Berikut dikutip redaksi, surat pernyataan dan sikap PMKRI Kupang, Nusa Tenggara Timur.  

Kepada Yth. KETUA KPU RI Di Tempat

 Negara Indonesia memiliki berbagai suku ras dan agama dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai toleransi antar sesama umat beragama selalu dijunjung tinggi demi mewujudkan cita-cita bangsa dalam berdemokrasi.

Indonesia memiliki sejuta nilai yang senantiasa dijalankan dalam kehidupan berdemokrasi yang dianut oleh setiap individu maupun golongan. Perjalanan realitas demokrasi bangsa indonesia telah menghantarkan kita pada kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan Undang-Undang Dasar dan Ideologi yang menghargai nilai-nilai Demoikrasi , Pluralisme dan Toleransi di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara serta masyarakat yang heterogen.

Tanpa disadari Pemilihan Umum (PEMILU) serentak yakni pemilihan Presiden , wakil Presiden serta Dewan Perwaklian Rakyat Daerah maupun Provinsi dan Pusat akan segera dilaksanakan sesuai dengan penetapan peraturan Komisi Pelilihan Umum (PKPU) no. 05 tahun 2018 tentang jadwal pemilihan umum serentak yang jatuh pada tanggal 17 april 2019.

Bahwa sangat diharapkan pada pelaksanaan pemilu berlangsung secara damai, adil dan tentram serta dapat berjalan sesuai yang diinginkan bersama bagi seluruh masyarakat sebagai subjek dalam demokrasi itu sendiri sehingga masyarakat dapat berpartisipasi secara baik dalam momentum pesta demokrasi ini. Sebagaimana diatur dalam Pasal 29 1945 Tentang Kebebasan Beragama.

Ayat1(1) Negara atas berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Ayat (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Namun telah diketahui publik bahwa penetapan jadwal Pemilihan Umum (PEMILU) Serentak bertepatan dengan Pekan Suci (Rabu Trewa) bagi umat kristiani. Perlu diketahui secara bersama bahwa Indonesia sebagai bangsa yang besar yang senantias menghargai nilai-nilai demokrasi serta menjunjung tinggi Pluralisme dan Toleransi maka negara harus menghargai hari raya keagamaan umat kristiani sebagai perwujutan dari ideologi pancasila dengan menunda jadwal pemungutan suara yang bertepatan dengan hari raya keagaamaan tersebut.

Bahwa Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat sebagai penyelengara pemilihan umum setidaknya bisa mempertimbangkan secara lebih rasional situasi dan kondisi atau keadaan yang bisa memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada rakyat indonesia untuk secara bebas berpartisipasi dalam proses demokarasi tersebut. Untuk itu berbagai aspirasi masyarakat bahwa untuk menghendaki adanya penundaan jadwal Pemungutan suara karena bertepatan dengan hari Pekan Suci Umat Katolik ( Rabu Trewa ).

Nusa Tenggara Timur merupakan daerah yang memiliki nilai toleransi tertinggi antar sesama pemeluk agama dan menghargai segala perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat serta saling menghormati antar pemeluk agama lainnya. NTT dijuliki sebagi daerah yang sangat pluralisme dan sangat toleransi. Oleh karena itu, kita harus tetap menjaga dan terus merawat keberagaman ini demi mewujudkan nilai dasar pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini kita melihat salah satu daerah di NTT yakni Flores timur sebagai salah satu daerah yang memiliki budaya semana santa yang yang merupakan warisan sejarah yang telah lama dan mengakar dengan tradisi lokal keagamaan dengan akulturasi budaya agama yang terus dijalankan setiap tahun yang juga menjadi sentaral untuk semua pelosok mengikuti rangkaian kegiatan ini dari dalam maupun dari luar daerah. Dengan penetapan jawdal Pemilihan Umum sernatak bertepatan dengan hari raya keagamaan adalah pembatasan hak oleh sebagian warga dan ini merupakan sebuah bentuk ketidakadilan dalam berdemokrasi, untuk itu kami Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang dengan tegas menolak pelaksanaan pemungutan suara dengan tawaran atau solusi alternatif apapun.

Oleh karena itu kami Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang menyatakan sikap sebagai berikut : Bahwa umat kristiani merupakan bagian dari bangsa indonesia, maka negara harus menghargai, menjamin serta menciptakan ketenangan lahir dan batin dalam merayakan Pekan Suci bagi umat kristiani dengan demikian mencerminkan indonesia sebagai sebuah negara yang moderen dan religius yang tetap menjunjung tinggi kejatidirian bangsa indonesia.

Bahwa sebagian tuntutan masyarakat NTT baik secara individu maupun secara kelembagaan untuk menunda jadwal pelaksanaan pemungutan suara yang betepatan dengan hari raya pekan suci bagi umat kristiani merupakan representasi suara masyarakat NTT yang merasa diperlakukan tidak adil atau terdiskriminasikan kebijakan umat untuk melaksanakan kewajiban agama dan menghalangi hak warga negara untuk menggunakan hak pilih.

Bahwa Pemerintah Pusat dan KPU Pusat menetapkan jadwal pemilu yang bertepatan dengan hari raya keagamaan umat kristiani mengambarkan sikap yang intoleran terhadap kehidupan beragama diindonesia dalam bingkai ideologi negara pancasila. Sikap demikin telah mencederai kewajiban negara dalam menjamin hak warganya untuk beribadah menurut agamanya yang mana keamanan, kenyamanan dan ketentraman umat kristian dalam menjalankan hari raya akan menjadi terjamin.

Bahwa kebijakan demikian mengambarkan sebuah bentuk kejahatan dalam berdemokrasi yang mana Pemerintah Pusat dan KPU pusat menghalangi hak warga negara untuk menggunakan hak pilih karena penjadwalan Pemilu bertepatan dengan Hari Haya oleh sekelompok warga dapat dialami sebagai bentuk pembatasan penggunaan hak warga akan membawa konsekuensi masyarakat tidak menjalankan kewajiban ibadahnya secara khusus serta tidak dapat menjalankan hak pilih secara bersamaan.

Baca juga : https://larantuka.com/2019/03/pemilu-bertepatan-pekan-suci-katholik-pmkri-kupang-agendakan-aksi/

Bahwa berdasarkan point 4 diatas apabila dikaitkan dengan rujukan UU No. 7 Tahun 2017 tentang pemilihan umum. dengan kondisi NTT dalam konteks perayaan Pekan Suci bagi umat Kristiani maka dapat diberlakukan pemilu lanjutan/susulan oleh karena kondisi khususnya demikian dapat diklasifikasi sebagai “Gangguan Lainnya” yang menyebabkan Pemilihan Umum tidak dapat dilaksanakan . “Ganguan lain” demikian merupakan ganguan yang dapat diprediksi namun hal itu luput dari perhatian KPU Pusat pada saat penetapan Regulasi tentang Pemilihan Umum.

Bahwa oleh karena itu kami mendesak KPUD Provinsi NTT untuk mengajukan usulan penundaan pemungutan suara untuk wilayah Nusa Tenggara Timur atua secara Nasional kepada KPU pusat sebagai bentuk kepekaan terhadap kondisi masyarakat NTT dan Umat Kristiani pada saat pelaksanaan pemilu tanggal 17 april 2019 nanti dengan demikian masyarakat NTT dan umat kristiani dapat menjalankan kebajiban ibadahnya secara baik tanpa harus tergangu dengan pelaksanaan pemilu serentak.

Demikian pernyataan sikap Perhimpunan mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang St. Fransiskus Xaverius sebagai cerminan kepedulian praktek kehidupan berbangsa dan bernegara diindonesia yang berlandaskan ideologi pancasila.

Salam “Pro Ecclesia et Patria-Manunggal dengan Umat Terlibat dengan Rakyat”.

DEWAN PIMPINAN CABANG PERHIMPUNAN MAHASISWA KATOLIK REPUBLIK INDONESIA (PMKRI) CABANG KUPANG St. FRANSISKUS XAVERIUS, PERIODE 2018/2019, ENGELBERTUS BOLI TOBIN JEFRI ADEODATUS BAIS, Ketua Presidium Sekretaris Jenderal. (Tim/Red)