Home Artikel Panggung NTT, Petrus Selestinus Dari Tekat Membuat UU Hingga Paumere

Panggung NTT, Petrus Selestinus Dari Tekat Membuat UU Hingga Paumere

148
0

Seri Analisa Politik : Anthony Tonggo

Bagi mereka yang memahami ketatanegara-an, maka dari ribuan panggung kampanye Calon Anggota Legislativ di Nusa Tenggara Timur musim Pemilu 2019, panggung milik Petrus Selestinus-lah sebagai panggung terindah untuk dinikmati.

Di panggung Petrus Selestinus kita bisa melihat sosok seorang Caleg yang sangat memahami tugas seorang legislator, sangat memahami persoalan bangsa ini, dan juga tahu cara mengatasi persoalan masyarakat, serta dia melakukan aksi-aksi nyata untuk masyarakat yang sangat kontekstual sebagai calon legislator. Jadi, beliau bukan hanya menampilkan bobot dirinya yang paham tugas legislator, tetapi juga sistimatika konsep dan aksinya yang keren.

Mari kita bedah

Mengapa Petrus Selestinus saya nobatkan sebagai pemilik panggung kampanye terindah?

Korelasi Tugas DPR & Visi-Missi

Ada Tiga tugas DPR, yaitu Legislasi (membuat Undang-Undang/UU), Anggaran (ikut menyusun dan menyetujui RAPBN), dan Pengawasan (mengawasi jalannya pemerintah dalam melaksanakan UU).

Melalui Vissi (NTT Bangkit, Berubah, Kuat & Sejahtera Melalui Pemenuhan Hak-Hak Dasar Masyarakat NTT Demi Mewujudkan HAM dan Keutuhan NKRI) yang terlihat menguraikan tujuan negara yang ada dalam UUD 45.

Juga dijabarkan lewat Missinya : 1. Menghapus, memperbaiki, dan mengganti seluruh regulasi yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat.

Missi ini menunjukkan beliau paham akan fungsi legislasi dan ia terapkan dalam persoalan riil yang begitu banyaknya regulasi yang justru merugikan masyarakat dan bertentangan dengan konstitusi negara (UUD 45) dan ideologi Pancasila. Itulah kinerja DPR kita selama ini yang asal buat regulasi seadanya yang akhirnya bikin habis enerji kita ke Mahkamah Konstitusi (MK). Ketika realita masyarakat kita jarang yang jadi penggugat ke MK, akhirnya kita hidup bersama regulasi yang semrawut itu dan hidup kita semrawut juga.

Jadi, missi Petrus Selestinus ini sudah menghemat energi MK. Yang pada akhirnya menghemat negara dan membantu mentalitas masyarakat kita yang cuma bisa protes terhadap regulasi tapi enggan mau tampil sebagai penggugat di MK. Jadi, bagi masyarakat yang rindu dengan produk UU yang bermutu dan tidak mau serta tidak mampu jadi penggugat ke MK, maka Anda cocok memilih Petrus Selestinus.

2. Menghentikan praktik jual-beli anggaran dan KKN. Missi ini menunjukkan Petrus menahami tugas legislator dalam fungsi anggaran, namun beliau juga paham bahwa di situlah salah satu titik terawan dalam praktik korupsi di negeri ini selama ini.
Menariknya, Petrus tidak peduli dengan persoalan akuntasi menghitung biaya pembangunan yang terlihat terlalu mudah bagi semua orang yang pernah lulus Matematika di sekolah, tapi beliau menukik ke persoalan penghentian jual-beli anggarannya selalu jadi biang korupsi dan merugikan negara besar-besaran. Nah, bagi masyarakat yang menginginkan tidak ada lagi korupsi yang dilakukan DPR di lini APBN, maka Petrus Selestinus adalah figur yang menggiurkan.

3. Mendesak pemerintah (pusat) untuk menghentikan kebijakan-kebijakan terselubung yang merugikan NTT.

Contoh nyata dalam missi ini adalah regulasi nasional tentang pemberantasan minuman keras (miras), sehingga moke/sopi/laru milik petani di NTT pun ikut disita polisi, karena polisi berlindung dibalik peraturan dan perundang-undangan nasional. Tentu saja bila Petrus Selestinus menjadi anggota DPR RI, maka salah satu perjuangan beliau adalah merevisi regulasi nasional agar bisa melindungi penjualan moke/sopi/laru di NTT.

Ini kebetulan beberapa hari lalu pun Petrus Selestinus menulis di media online tentang pembelaan beliau atas moke/sopi/laru yang harus dilindungi karena alasan budaya dan merupakan peradaban saintek lokal yang harus dilindungi.

Akan menjadi sangat klop dengan Gubernur NTT, Laiskodat, yang juga mau bikin perda untuk melindungi moke/sopi/laru di NTT. Berarti dari perda di NTT hingga disambut Petrus di ruang DPR Senayan.

4. Memperbaiki & mencegah lahirnya regulasi yang memberi ruang untuk berkembangnya radikalisme dan intoleransi yang mengancam ideologi Pancasila.

Usaha pendirian negara khilafah yang mau menggantikan Pancasila adalah fakta dari sekelompok orang. Jumlah orang yang tidak suka hidup berdampingan dengan orang lain yang berbeda suku-agama-ras-golongan (SARA) pun nyata, termasuk bom meledak di mana-mana, perusakan dan pembakaran tempat ibadah, pembubaran kegiatan ibadah, bahkan pembunuhan para pemuka agama pun jadi trauma di kalangan minoritas dan yang berbeda aliran dengan yang diyakini kaum intoleran.

Makin hari jumlah kaum radikalis dan intoleran kian banyak. Regulasi negara kita cuma bisa menindak bila sudah ada kejadian dan kalau ada rencana peledakan/pembunuhan, tapi tidak punya landasan hukum untuk mencegah soal penyebar-luasan ideologi khilafah itu.

Tentu saja dengan missi ke-4 ini, Petrus Selestinus bisa menginsiatif untuk merevisi UU Terorisme yang harus dimulai dari larangan penyebarluasan paham atau ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. Bila perlu harus bisa mencabut kewarganegaraan orang yang tidak menerima Pancasila.

Jadi, vissi-missi di atas menunjukkan bahwa Petrus Selestinus menampilkan dirinya sebagai caleg yang paham akan tugas seorang anggota DPR, paham juga persoalan di masyarakat yang harus dioperasikan lewat tiga fungsi DPR, dan akhirnya menghasilkan 4 perjuangan utama Petrus Selestinus bila dirinya dipercayakan masyarakat Dapil 5 (Flores, Lembata, Alor).

Setelah Petrus memahami konsep dan tetapkan tekatnya kalau terpilih menjadi anggota DPR dari Hanura, bagaimana aksi kampanye Petrus? Samakah cara Petrus dengan ribuan caleg lain di NTT? Mari, saya ajak Anda ke panggung kampanye Petrus Selestinus di Paumere, Nangapanda!

Tanah Suku Paumere : Petrus Selestinus Pasang Badan

Salah satu persoalan Pelaksanaan UU Pertanahan yang menghebohkan NTT adalah kasus 2000 hektar tanah suku Paumere (Ende) yang diklaim sekelompok orang sebagai tanah milik TNI AD dan Brimob Polda NTT.

Itu sudah terjadi belasan tahun, tidak ada titik terang dan selalu rawan pertarungan fisik. Tidak ada pihak yang bisa diandalkan untuk melindungi dan membela masyarakat suku Paumere.

Sejak sebelum masa pemilu ini Petrus Selestinus, SH bersama Silvester Nong Manis, SH tampil sebagai pembela (pengacara) masyarakat suku Paumere. Ketika ribuan caleg lain sibuk ‘mengemis’ masyarakat untuk memilih mereka, Petrus Selestinus justru tetap setia memperjuangkan nasib masyarakat suku Paumere.

Petrus dan Silvester hadir bersama masyarakat suku Paumere mencari-tahu duduk perkaranya, lalu menanam patok tanda kepemilikan tanah suku Paumere, mengkonfirnasi ke pihak-pihak terkait (Kantor BPN Ende, Polres Ende, Kodim Ende, Polda NTT, Kantor BPN NTT) dan ternyata minggu lalu pun diumumkan di media NTT (oleh BPN NTT), bahwa tanah 2000 hektar di Paumere adalah tetap milik suku Paumere, belum berpindah tangan ke pihak mana pun. Dengan demikian, jelas, pihak TNI AD dan Brimob Polda NTT bukan pemilik tanah tersebut (Lihat http://penatimor.com, 20/03/2019; http://www.tajukflores.com, 20/03/2019; https://breakingnews.co.id, 20/3/2019).

Berarti kasus tanah suku Paumere yang berlarut-larut itu sudah ada titik terang di tangan Petrus Selestinus. Tinggal satu langkah lagi, yaitu: 1. Mengosongkan orang-orang yang tidak berhak dari tanah itu, dan 2. Siap menghadapi bila ada pihak yang mau menggugat sebagai hak milik atas tanah itu lagi.

Jadi, dalam kasus tanah suku Paumere, Petrus sedang menjalani dirinya sebagai pengawas atas pelaksanaan hukum di Indonesia atas 2000 hektar tanah di suku Paumere. Petrus ingin memastikan: Berdasarkan hukum dan keadilan, milik siapakah tanah itu?

Petrus Selestinus: Entertainer Panggung Caleg NTT

Bagi saya, menonton panggung kampanye konsep dan motivasi caleg seorang Petrus Selestinus ibarat menikmati pentas tinju dunia kelas berat Mohammad Ali yang hit and run di atas kanvas Las Vegas.

Di forum iklan penyebaran pamflet, Petrus menampilkan kelasnya yang memahami tugas dan konsep fungsi DPR dan memahami permasalahan bangsa dan daerah NTT yang harus ditangani lewat tiga fungsi DPR, sementara di panggung tatap muka, Petrus Selestinus melalukan aksi pasang badan bersama masyarakat suku Paumere (Ende).
Ada satu-dua forum yang dibuka Petrus Selestinus, namun dia selalu membuat tema “Dialog Kebangsaan”. Dia menampilkan masalah-masalah bangsa ini dan solusinya. Dia tidak pernah menonjolkan prestasi dirinya dan tidak juga mengajak masyarakat untuk memilihnya. Itu artinya di mata seorang Petrus Selestinus bahwa menjadi pemimpin itu jangan bermodal “mengemis”, melainkan jasa seorang Petrus sepanjang hidupnya silakan masyarakat gunakan otoritas pribadi untuk menilai dirinya.

Bahkan di panggung yang dibangun atas biaya pribadinya, Petrus Selestinus mengundang caleg-caleg lain untuk berkampanye bagi diri mereka masing-masing.

Bayangkan, panggung kampanye caleg di NTT di musim pemilu ini begitu entertain di tangan Petrus Selestinus. Adakah caleg lain yang semacam atau melebihi Petrus Selestinus? Bila ada, silakan sodorkan ke saya!

Kalau harus diberi nilai, keindahan panggung kampanye Petrus Aelestinus layak mendapat A+ (A-plus).

Terima kasih, Mo’at Petrus Selestinus atas pementasan kampanyemu yang indah untuk kami nikmati dari kacamata ketatanegaraan kita! Selamat berjuang dan semoga menjadi teladan politik bagi masyarakat NTT…! (*)

* Penulis : Anthony Tonggo, Alumnus FISIPOL UGM, tinggal di Yogyakarta