Home Artikel Karakter Kuat PSI Menjadi Parpol Idola Lirikan Baru

Karakter Kuat PSI Menjadi Parpol Idola Lirikan Baru

249
0

Oleh Anthony Tonggo*

Seri Analisa Politik

Pertemuan PSI dan Penderitaan Masyarakat

PARTAI Solidaritas Indonesia (PSI) mulai dilirik banyak orang setelah dari waktu ke waktu partai ini menunjukkan ideologi kokoh dalam terapan mulai lembaran pembuka keterlibatannya sebagai Parpol pendatang baru di Indonesia yang membedakannya dari partai-partai lain, baik dalam tataran visi hingga pada tataran sikap dan tindakan.

Puncak kepercayaan pemilih adalah saat Ketum PSI, Grace Natalie, berpidato di Medan yang menuding Parpol selama ini tidak mampu dan tidak serius menghentikan diskriminasi SARA di negeri ini. Parpol-parpol yang sudah lama berkuasa pun meradang marah, termasuk PDIP yang berada satu koalisi dengan PSI di Paslon 01.

Diantara Parpol baru dan gurem, PSI juga berkarakter kuat, berani berbeda dengan kawan maupun lawan. Salah satu ciri menonjol roh PSI adalah nasionalisme, Pancasilaisme, dan antidiskriminasi SARA.

PSI memancarkan aroma perubahan sebagai Partai modern, dilihat dari tidak ada kultus individu, tidak ada hegemoni elit, dll. Artinya PSI mengandalkan mekanisme regulasi untuk membangun dirinya.

Artinya, meski semua parpol selama ini bicara tentang nasionalisme, Pancasilaisme, dan antidiskriminasi SARA, namun ketika menengok ke tataran empirik, maka terkesan bahwa selama ini cuma pemanis bibir belaka. Kisah persekusi SARA, ancaman bom, kebebasan beribadah, kebebasan membangun rumah ibadah, hak menjadi pemimpin negara, dan lain sebagainya masih marak terjadi.

Denny JA, pengamat politik dan Direktur LSI, menulis bahwa sikap PSI sewaktu di Medan itu tidak taktis dan akan bunuh diri semakin gurem, maka saya melihat bahwa dampaknya tidak seburuk itu buat PSI! Justru itulah manuver strategis bagi PSI untuk meraih dukungan di pileg yang tinggal menghitung hari itu. Bila PSI tetap tidak berani berbeda dan menyerang parpol-parpol lain dengan isu diskriminasi SARA, maka PSI sulit menjual diri ke pemilih. Justru publik dikagetkan untuk kesekian kalinya oleh PSI dan mulai melirik PSI.

Memang pilihan itu belum tentu akan mendatangkan exodus pemilih rasional-humanis, tapi itu pilihan spekulatif: mati atau hidup. Bila PSI tidak lakukan keberanian itu, maka peluang mati bagi PSI sangat besar.

Artinya, PSI belum pasti lolos elektoral, tapi itu lebih baik ketimbang dia berada di posisi PASTI tidak lolos, bila diam saja. Dibanding semua partai jagonya para lembaga survey (PDIP, Golkar, PKB, Gerindra, dan Demokrat), justru PSI-lah yang paling berpeluang menggugurkan salah satu dari 5 jagoan itu.

Denny JA hanya melihat kaum minoritaslah yang berpotensi sebagai pemilih PSI, tapi Denny JA lupa bahwa PSI bukan menjual SARA, tapi menjual humanisme. Humanisme itu lintas-SARA. SARA apa pun, semua orang membutuhkan satu nilai yang sama, yaitu humanisme. Buktinya, banyak juga orang NU dan Muhammadiyah yang marah dengan negara yang tidak mampu menghentikan kekerasan atas nama SARA di Indonesia, misalnya Prof. Dr. Mahfud MD, Buya Syafi’i Ma’arif, dll. Bukan tidak mungkin mereka-mereka inilah yang akan memilih para caleg PSI. Bila tokoh-tokoh berpengaruh sudah memilih, maka pengikut mereka pun akan memilih PSI juga.

Fenomena diskriminiasi dan kekerasan SARA kontemporer sudah tidak bisa dimaknai sebagai tindakan semena-mena ke kaun minoritas! NU, Banser, dan Ansor pun hari-hari terakhir ini mengalami situasi dan ancaman kekerasan yang sama. Padahal NU adalah ormas Islam terbesar. Ini artinya parpol-parpol yang ada pun bisa kehilangan kepercayaan dari kaum nahdliyin yang jumlahnya sekitar 80 juta orang, apalagi partai-partai agama sendiri selama ini tidak steril dari perilaku korupsi. Tentunya mereka bisa melirik ke PSI di pileg 2019 ini.

Ciri Pemilih PSI Hasil Exodus

PEMILIH PSI adalah para exodus dari pemilih partai-partai nasionalis. Untuk pileg 2019 ini, para pemilih cerdas, idealis, dan humanis dari pemilih partai nasionalislah yang akan beramai-ramai memilih PSI. Yang tidak kalah menariknya adalah sebagian golput ideologis-humanis mulai turun gunung untuk memilih PSI.

Publik akan memandang bahwa PSI layak diberi kepercayaan untuk mengelola negara ini, karena layak diujicobakan.

Meski pada awalnya PSI membidik pangsa pemilih muda, yang ditandai dengan berhimpunnya orang-orang berusia muda (20-an hingga 40-an tahun) dengan sapaan popuker mereka “bro” dan “sis”, namun PSI mampu menarik simpati kaum tua. Hal ini karena ciri idealisme anti-diskriminasi SARA mereka pun menarik para pemikir dan idealis yang meskipun usianya tua tapi mental dan gaya berpikirnya muda, misalnya dosen UI, Dr. Armando, di akun facebooknya menyatakan bahwa dirinya akan memilih PSI di pileg 2019 ini.

Banyak juga kaum tua yang berjiwa muda, sengaja maupun tidak. Mereka ini pun sudah bosan berkumpul dengan sesama kaum tua; mereka ingin enerjik, ingin agresif, semangat, optimis, penuh vitalitas. Mereka ini tidak suka lamban, malu, jaim (jaga imej), pesimis, tidak suka terlalu ragu-ragu, dan tidak suka cuma memuja masa lalu. Sebagian kaum tua sudah mentadari betapa pentingnya mereka menjaga kesehatannya dengan mempertahankan jiwa muda, sehingga mereka akan senang dengan PSI.

Ini akan lebih dahsyat lagi kalau PSI menaikkan pangsa pemilihnya dari “partainya orang muda” ke “partainya orang berjiwa muda”, maka pemilih PSI akan menembus segala usia.

Pileg tinggal 4 minggu lagi. Meski survey terakhir oleh lembaga-lembaga survey menempatkan PSI sebagai salah satu parpol yang tidak lolos elektoral, namun dalam sisa waktu ini, PSI masih ada peluang untuk masuk 5 Besar parpol yang lolos. Peluang akan semakin besar apabila PSI masih ada manufer hebat dan konstelasi parpol besar semakin merusak citra mereka di mata publik.
***

Sikap Parpol Nasionalis

BILA Pileg 2019 PSI mulai mendapat kursi legislatif, maka, kedepan, PSI adalah Parpol yang menjadi saingan berat parpol-parpol besar selama ini, karena dari kelas menengah hingga akar rumput pun mulai exodus.

Sikap Parpol lain yang selama ini berkuasa, yang marah-marah kepada PSI, itu sia-sia. Justeru sikap memusuhi PSI itu akan menambah semangatnya masyarakat untuk berbondong-bondong tinggalkan parpol besar itu dan nemilih PSI. Itu sama dengan kampanye gratis untuk PSI.

Bila sebelum 17 April 2019 masih ada manuver PSI, Parpol besar semakin menyerang PSI, dan parpol besar semakin mempertontonkan perilaku negatipnya, maka SELAMAT DATANG buat PSI di kursi kekuasaan legislatif kita. Anda lah yang layak mendapat percobaan kepercayaan dari masyarakat Indonesia.

Satu-satunya cara bagi Parpol lain untuk menahan arus exodus pemilih rasional-humanis-antidiskriminasi SARA ke PSI adalah dengan menghentikan sikap dan tindakan diskriminasi di Indonesia, misalnya hentikan radikalisme, hentikan persekusi berbau SARA, hentikan bahwa menjadi pemimpin itu hanya untuk SARA tertentu, dll. Selama semua praktik diskriminasi itu tetap ada, maka exodus pemilih rasional-humanis ke PSI sulit dibendungkan. (***)

* Anthony Tonggo, Alumnus FISIPOL UGM, tinggal di Yogyakarta.