Home Artikel Flores Timur Ternyata Punya Ombak

Flores Timur Ternyata Punya Ombak

254
0
Foto: Berrye Waibaloenk

Pernyataan di atas memang terdengar menggelikan, bagaimana tidak! Flores Timur terdiri dari tiga pulau, Flores daratan, Adonara dan Solor. Saban hari, penduduknya hidup dari kekayaan laut, dari ikan hingga rumput laut, bahkan hasil lautnya juga dikirim ke daerah lain dan dieskpor ke Jepang, malahan. Pantainya pun cantik-cantik dengan ombak yang tak kalah sexi-nya. Lalu, pernyataan bahwa Flores Timur ternyata punya ombak mungkin terdengar tidak masuk akal.

But, wait please!
Ombak, dalam dunia surfing atau selancar itu beda. Tidak semua ombak dapat dijadikan sebagai tempat surfing. Hanya ombak tertentu saja yang dikatakan ‘ombak’ yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan surfing. Dan, dalam dunia surfing ombak itu disebut swell, semacam gelembung atau gundukan. Hmm, I see now.

Sabtu, (02/03/2019) menjadi kesempatan berharga buat saya untuk mendapatkan ilmu gratis tentang surfing dari salah seorang peselancar Rote, Om Wage Adit yang sudah sangat profesional dalam dunia selancar ini. Bersama Om Takdir, (seorang soundman dan stage manager profesional yang sudah sering digandeng Disparbud Flores Timur untuk event-event besar), beserta istri dan buah hatinya tercinta, Al, kami bersama mengeksplorasi Pantai Rako di Desa Hewa Kecamatan Wulanggitang.

Meluncur dari Larantuka, sekitar jam 10.00, kami tiba di Pantai Rako tepat jam 12.00, disambut pegiat pariwisata yang sudah seperti menjadi sesepuh sekaligus ‘penunggu’ Pantai Rako, Om Rus, dan seorang teman media, Om Aten Camari. Om Adit segera menjelajah tiap sudut gelombang dan ombak di Pantai Rako. Dari hasil pengamatan pandangan matanya, sepertinya hanya di spot tertentu saja yang dapat dipakai sebagai tempat surfing, yakni di bagian barat, berselebelahan dengan Bukit Manuk. Hal ini sesuai dengan informasi dari Om Rus yang pernah menyaksikan wisatawan asing dari Belgia dan Australia yang pernah berselancar di spot yang sama. Untuk membuktikannya, om Adit menggunakan drone yang dibawanya untuk melihat spot tersebut dari atas. Dari hasil pengamatan melalui drone, peselancar yang juga menjadi video maker dan event organizer profesional ini menemukan spot yang sangat tepat untuk kegiatan berselancar, yakni tepat di antara dua pohon mangrove di sebelah barat pantai Rako.

Om Adit mengajak kami untuk pergi ke lokasi tersebut dengan menyusuri tepi pantai. Hmm, ini bakal melelahkan, pikirku. Berjalan di atas pasir bukanlah perkara mudah, dan kami memutuskan untuk berhenti setelah berjalan sesaat, dan om Adit melepas drone lagi untuk menangkap gambar yang lebih jelas. “Tepat di sini,” katanya sembari menunjukan gambar pada ponsel yang dikirim dari drone. “Kalau ombaknya seperti ini, kita bisa surfing di sini, meski levelnya pada fun surfing,” jelasnya. Om Rus nampak mengangguk, mungkin mengerti, mungkin kagum.

Kami lalu kembali ke pondok dan menikmati sajian sederhana namun menggairahkan yang sudah disiapkan Om Rus dan teman-teman; tiga ekor ikan bakar, ubi rebus dan jagung titi, serta sedikit tuak putih dari Desa Hewa, ah sempurnanya! Om Adit tak berhenti bercerita tentang dunia surfing, berbagi pengalamannya serta menyatakan kekagumannya atas potensi ini. Pengelola Nembrala Resort Rote ini pun bercerita tentang potensi wisata dan khususnya tentang surfing. Dan, kami seperti mahasiswa semester satu yang mendapat kuliah gratis sebanyak 12 SKS dari Om Adit dengan mata kuliah Surfing Dasar. Haha ..

Om Adit pun sempat menyesalkan tak bisa membawa papan selancarnya ke sini karena tak memiliki chase dan kekhawatiran keamanannya di pesawat. Namun Om Adit berjanji akan meninggalkan satu papan selancarnya di sini saat Pesta Ombak selesai digelar nanti. Om Rus tersenyum senang, pasti terbayangkan saatnya dia berlatih berselancar menggunakan papan selancar yang dtinggalkan Om Adit. Saya yakin Om Rus pasti bisa meski butuh waktu untuk jadi peselancar profesional! Hha ..

Om Adit lalu membagikan banyak pengetahuan tentang surfing, dan banyak istilah asing yang kami dapatkan darinya seperti on shore (angin laut), off shore (angin darat), channel, winds swell, riff dan lain sebagainya yang sangat berpengaruh dalam menentukan lokasi untuk berselancar. “Di sini unik, meski agak jauh, dan ada pulau di depannya, ternyata di sini ada swell. Nanti kita pakai long board saja, karena levelnya di fun surfing,” ujarnya. Jadi, di Pantai Rako sangat cocok untuk lokasi spot selancar untuk pemula, meski demikian, tidak tertutup kemungkinan dapat menjadi spot untuk championship (kejuaraan) tergantung karakteristik ombak yang harus melalui pengamatan yang butuh waktu dari hari ke hari.

Bicara soal surfing ternyata tidak semata-mata soal keseimbangan di atas board loh, namun lebih dari itu selancar juga berhubungan erat dengan perubahan iklim global, karenanya dia juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan laut. “Di Rote, sampah-sampah di tepi pantai seperti sendal bekas, kami ubah menjadi barang-barang unik bernilai seni, seperti bentuk ikan dan lainnya,” jelasnya.

“Semoga tanggal tujuh nanti ombaknya bisa seperti ini, jadi kita bisa main surfing. Kalau surutnya pagi, maka siang hari biasanya ombaknya besar,” ungkap Om Adit yang memastikan dia akan hadir pada Pesta Ombak dalam rangkaian Festival Bale Nagi di Pantai Rako tanggal 07 Maret 2019 nanti. Dia juga bakal mengajak teman-teman surfingnya untuk bergabung di sini.

Di Rote, ceritanya, surfing sudah jadi gaya hidup, bahkan sudah memiliki komunitas tersendiri. Banyak anak muda Rote yang jago main surfing dan jadi endorse beberapa produk terkenal. Bayangkan saja kalau anak muda di Hewa juga jago main surfing! Surfing bisa jadi pilihan jalan hidup yang dapat diandalkan di kemudian hari. Rako adalah mutiara bagi Desa Hewa dan Flores Timur umumnya. Bolehlah kita bermimpi punya atlet surfing dari Flores Timur suatu saat nanti.

Bicara soal pariwisata, Om Adit secara pribadi memberikan jempol kepada Pemda Flores Timur dan Disparbud Flotim yang gencar melakukan event-event pariwisata dan yang paling menakjubkan menurutnya adalah keterlibatan masyarakat desa yang sangat tinggi dalam kegiatan pariwisata. “Flores Timur sudah melakukan hal yang benar, masyarakat desa dipercaya menggelar event-event, dan promosi butuh waktu,” katanya memuji. We can be proud of that!

Ditanya soal ketertarikannya pada dunia surfing yang masih sangat asing di Flores dan NTT umumnya, Om Adit bercerita bahwa sejak usia enam atau tujuh tahun, dia sudah mulai dilatih sang ayah untuk berselancar. Setelah menyelesaikan kuliahnya di Kupang, dia bekerja di Bali, di salah satu media surfing, tak jauh dari dunia selancar.Tak puas dengan rutinitas kerjaan kantoran, Om Adit memutuskan keluar dan kembali ke Rote dan bersama keluarganya mengembangkan Nembralla Resort Rote yang sudah dibangun sejak 1995. Kecintaan dan ketekunannya menggeluti surfing membuatnya terpilih menjadi endorse beberapa produk kamera terkenal. Dia dan sang kakak pun kini terdaftar sebagai anggota Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI), dan Rote menjadi perwakilan NTT pada level-level nasional.

Sebelum berangkat meninggalkan Pantai Rako, Om Adit berpesan pada Om Rus untuk selalu mengupdate kondisi gelombang dan ombak di Pantai Rako dan menyampaikan padanya agar dia dapat memprediksi dan memastikan kondisi ombak pada tanggal 07 Maret nanti. Om Rus mengangguk lagi. Siap komandan!

Om Hery, sopir kami tancap gas kembali ke Larantuka lewat Nobo karena ada iring-iringan pawai kampanye caleg di Boru. Kami lalu mengopi sebentar di Bukit Suban Tobo, Epentobi sambil menikmati panorama pulau Konga dan sekitarnya dari kejauhan, serasa di mana gimana gituh!

Malam dan rintik yang menyambut kami menembus Larantuka, bakal menyuburkan tanaman, namun semoga juga harapan-harapan terbaik untuk Flores Timur dari hal-hal kecil seperti ini.
Amin.