Home Renungan Harian Sapientia est Cordis

Sapientia est Cordis

75
0
Sumber: Google

Selasa, 12 Pebruari 2019
Pekan Biasa V
Kej. 1:20 – 2:4a
Mzm. 8:4-5,6-7,8-9
Mrk. 7:1-13
“Sapientia est Cordis”

Kebijaksanaan Hati
Inilah sikap dasar Yesus ketika mengecam orang Farisi dan Ahli Taurat yang munafik.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Yesus mengecam orang Farisi dan Ahli Taurat: “Hai orang munafik, yang memuliakan Aku dengan bibirnya padahal hatinya jauh dari padaKu.”
Adapun sikap munafik kaum Farisi dan Ahli Taurat yang dikecam Yesus, antara lain:

Legalistis
Mereka menjadi orang “legalistis”, yang hatinya penuh basa-basi, yang cuma sibuk seputar hukum “najis/halal”. Itulah sebabnya sikap dan tindakan mereka menjadi tidak bijaksana karena bermental tradisionalis dan bersikap legalistis. Bahkan mereka kerap memuliakan Allah hanya dengan bibir, sedangkan hatinya jauh dari Allah; dari luar mereka tampaknya benar, tetapi hatinya sama sekali tidak mengasihi Allah.
Di sinilah kita diajak untuk bersikap seperti Yesus menjadi orang “realistis”, yang hatinya asli bersaksi, yang berani menyingkap makna terdalam dari sebuah hukum; sehingga kita bisa memelihara kebaikan dan menanggalkan kejahatan secara mendalam dan total, bukan hanya dangkal menurut ukuran ritual belaka. Dengan demikian kita akan selalu menghadirkan kebaikan dan ketulusan hidup yang nyata dalam berpikir, berkata dan bertindak.

Prinsip ajaran
Yesus menegur sikap orang Farisi dan Ahli Taurat yang menyamakan ajaran tradisi manusia dengan ajaran Tuhan; dan dengan demikian malah tidak menangkap prinsip ajaran Tuhan dan mengkorupsi ajaran Tuhan tersebut dengan interpretasi-interpretasi mereka sendiri yang keliru.
Di sinilah kita diajarkan bahwa ‘tradisi’ yang diajarkan kaum Farisi dan Ahli Taurat adalah tradisi manusia yang berasal dari ajaran adat istiadat nenek moyang bangsa Yahudi (tradisi rabinis) yang mengambil kebiasaan kuno pada zaman itu; bukan Tradisi Suci para rasul, yang justru bersumber dari ajaran Kristus dan para rasul.

Mengutamakan tradisi
Yesus mengecam orang Farisi dan Ahli Taurat karena sikap mereka lebih mementingkan tradisi daripada Tuhan. Mereka menomorsatukan tradisi dan menomorsekiankan Tuhan.
Di sinilah kita diingatkan bahwa teguran ini juga berlaku bagi kita yang terkadang menempatkan Tuhan ke nomor yang kesekian. Karena itu hendaklah kita berubah dan bertobat. Kita harus merubah hidup kita dan kembali mengarahkan hidup kita kepada Tuhan.
Saudaraku, milikilah ‘kebijaksanaan hati’ yang berasal dari Roh-Nya agar kita mempunyai ketulusan hati dalam berpikir, berkata, bersikap dan bertindak dalam hidup ini.
Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria yang senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.