Home Berita Air Bersih dan Duka Warga Pepageka

Air Bersih dan Duka Warga Pepageka

325
0

Larantuka, LARANTUKA.com – Anda mungkin kaget ketika membaca tulisan ini. Tetapi ini perlu saya sampaikan agar kita semua paham sejarah kehadiran air bersih di wilayah Lambunga (Desa Lambunga, Pepageka, Kelu Wain, Adobala dan sebagian desa di Kecamatan Witihama, di awal tahun 1980. Proyek air bersih yang secara teknis dikerjakan oleh Pastor Jessing, Om Remi Tupen, Ama Kopong Helan dan dibantu warga masyarakat di desa yang menikmati air bersih, ini tidak serta merta ada. Itu berawal dari permintaan ayah saya secara pribadi kepada Ama Kopong Welada, tokoh adat Desa Kolilanang, pemilik mata air. Ini bukan soal ketokohan ayah saya dan Ama Kopong Welada semata melainkan karena pertalian darah. Asal tahu saja, nenek moyang Ama Kopong Welada adalah keturunan dari suku Pepageka. Itulah maka Ama Kopong Welada begitu ikhlas memberikan mata air untuk dinikmati kita semua. Saat jaringan pipa air terpasang, di Desa Pepageka sendiri masing-masing dusun mendapat paling kurang 2 titik akhir pipa air. Dari sinilah warga Pepageka yang sebelumnya mendapat pasokan air bersih dari wilayah Hinga kemudian Mangaaleng-dengan segala dukanya, mulai terobati.

Celakanya, air bersih yang sudah dinikmati oleh semua warga desa tadi, tak berjalan mulus. Ada saja ulah oknum tertentu yang dengan sengaja membuat aliran air tak lancar. Akibatnya, warga Desa Pepageka hingga Witihama ternyata masih sulit mendapatkan air. Antrian panjang para ibu mewarnai setiap titik akhir jaringan pipa air di desa mereka. Setiap kali masalah itu muncul, warga dengan sukarela turun memperbaiki. Beberapa kali (saat liburan) saya ikut bersama Om Remi (kini almarhum), Ama Kopong Helan dan warga lainnya terjun memperbaiki pipa air yang rusak. Tetapi masalah yang sama berulang tahun terus – seperti anak kecil yang mengharapkan ulang tahun – bahkan hingga saat ini.

Pekan lalu, 2 Februari 2019, di Kantoer Bappeda Flores Timur, sebelum saya memberikan presentasi kepada para orang tua dan anaknya tentang Program Kuliah Sambil Kerja di Taiwan, saya berdiskusi panjang dengan Kepala Bappeda Flotim Theo Hadjon soal kesulitan air yang dialami warga Pepageka dan desa lain. Saat itu juga Theo Hadjon mendesak saya agar segera meminta aparat Desa Pepageka segera mengajukan proposal supaya diusulkan ke Jakarta melalui program nasional Pamsimas atau Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat. “Seperti Redon punya itu,” tukas Theo Hadjon, menunjuk salah satu proyek Pamsimas yang kini dinikmati masyarakat Desa Redontena. “Tahun 2019 ini untuk Keluba Golit, Mangaaleng yang dapat Pamsimas. Hampir tiap hari Kosmas ke sini, urus itu proyek,” kata Theo Hadjon sambil memuji keuletan sahabat saya Kosmas Ladoangin memperjuangkan Pamsimas bagi warga Mangaaleng.

Mendengar jawaban Theo Hadjon, saya menyanggupi dan berjanji segera membawa staf Desa Pepageka untuk berdiskusi soal proyek Pamsimas. Maklum, sang kades, Basir Kebesar Raya sedang berada di Jawa. Senin, 11 Februari 2019, saya bersama Frans Kikol dan Bolen Kosa mendatangi Theo Hadjon di kantornya. Suami dari Elis Tokan ini segera memanggil dua stafnya untuk berdiskusi bersama kami, sekaligus meminta mereka menyiapkan contoh proposal dan surat minat terkait Pamsimas untuk diberikan kepada Kikol dan Bolen.

Ada dua sumber mata air yang kami tawarkan. Pertama, masih dari Kolilannag tapi mata airnya yang berbeda. Kedua, memanfaatkan sumber mata air Wai Paku, milik warga Desa Pepageka sendiri. Pilihan kedua lebih aman karena tidak melewati wilayah desa lain. Hanya masalahnya, posisi sumber air itu berada di balik bukit sehingga perlu biaya extra, jika melebih pagu anggaran Pamsimas Rp 250 juta. Masalahnya air harus “ditarik” ke atas bukit (Reketen), lalu dibuatkan bak penampung di situ, barulah dalirkan ke Desa Pepageka.

Menurut Theo Hadjon, pilihan kedua itu lebih rasional. Soal teknis pengangkatan air dari sumber ke atas tadi, bisa diakali menggunkan teknologi solar cell tenaga surya, seperti yang dilakukan di sebuah desa di Flores Timur daratan. Tetapi untuk memastikannya, Theo Hadjon berjanji akan menurunkan timnya guna melakukan survey pendahuluan. “Saya jamin ama (maksudnya, saya) tidak kesulitan air lagi. Kita usulkan tahun ini supaya realisai tahun depan, 2020, nanti kita sama-sama kawal di Jakarta,” kata Theo Hadjon sekaligus meminta saya ikut membantu mengawal proyek nasional ini di Kementerian PU Pera dan Kemendes PDT. Maklum proyek nasional dengan dukungan World Bank ini melibatkan berbagai instansi mulai pusat, provinsi dan daerah.

Rabu 13 Februari 2019 malam, saya bertemu Bupati Anton Hadjon di rumah jabatan untuk membicarakan kerja sama STIKOM Bali dengan Pemkab Flotim tentang program Kuliah Sambil Kerja di Taiwan dan Pameran Pendidikan Nasional di Larantuka. Kesempatan ini juga saya gunakan untuk membahas agenda lain, salah satunya tentang Pamsimas untuk Desa Pepageka. Bupati Anton Hadjon sangat welcome dan siap meluluskan proyek tersebut dan membantu sesuai porsinya.

Terima Kasih pak Bupati Anton Hadjon, Terima Kasih Pak Kepala Bappeda Theo Hadjon. Mari kita kawal bersama, guna mengakhiri kisah duka ini yang seharusnya tidak perlu ada.(rsn)

(Larantuka, Dini Hari, 14 Februari 2019)

Editor: Hans Hallan