Home Artikel Potensi Minor Pernyataan Prabowo Subianto Dan Andi Arief

Potensi Minor Pernyataan Prabowo Subianto Dan Andi Arief

279
0

Oleh : Petrus Selestinus, SH

Berpotensi menimbulkan permusuhan diantara kelompok pendukung Capres dan melahirkan krisis kepercayaan publik yang meluas terhadap Prabowo Subianto

Berita Hoax yang disebar atau bersumber dari pernyataan Prabowo Subianto Capres Nomor Urut 2 dan Andi Arief, Wakil Sekjen Demokrat yang juga berada dalam Partai Koalisi Pendukung Capres nomor urut 2, wajib hukumnya untuk dimintai pertanggungjawaban pidana karena penyebaran berita hoax itu telah menimbulkan keonaran dan kepanikan bagi masyarakat luas serta mendiskreditkan pemerintah.

Pernyataan Andi Arief yang ditwit melalui akun twiternya tentang adanya 70 juta surat suara yang sudah dicoblos nomor 1 (Jokowi-Ma’ruf Amin) dan pernyataan Prabowo Subianto soal selang cuci darah dipakai 40 pasien di Rumah Sakit RSCM adalah Berita Hoax, telah berimplikasi meresahkan seluruh pasien Rumah Sakit RSCM yang sedang dan pernah melakukan cuci darah di RSCM sekalgus menurunkan kepercayaan publik terhadap Rumah Sakit RSCM sebagai lembaga yang melaksanakan pelayanan publik. Mengapa Prabowo Subianto, Capres nomor urut 2 maupun Andi Arief, Wakil Sekjen Partai Demokrat, dalam waktu yang hampir bersamaan telah mengeluarkan pernyataan yang tidak mengandung kebanaran dan telah meresahkan masyarakat, apalagi keduanya berada dalam satu kubu yaitu Partai Politik dalam koalisi pendukung Capres-Cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, sehingga pernyataan keduanya patut diduga bertujuan untuk melahirkan krisis kepercayaan publik terhadap Pemerintahan Jokowi dan terhadap Capres-Cawapres nomor urut 1 Jokowi-Ma’ruf Amin.

Padahal Prabowo dan Andi Arief setidak-tidaknya patut menduga bahwa informasi yang diperolehnya itu masih mentah dan masih memerlukan konfirmasi kebenarannya terlebih dahulu atau dilaporkan secara resmi kepada yang berwajib untuk dilakukan penyelidikan. Dengan demikian selain Bawaslu dan Bareskrim Mabes Polri harus bersinergi melakukan tindakan kepolisian baik terhadap Prabowo Subianto maupun Andi Arief, karena pernyataan keduanya memenuhi syarat sebagai pelanggaran Pidana Pemilu bahkan Tindak Pidana Umum.

KPU dan Bawaslu tidak cukup hanya membuat statemen bahwa ini merupakan berita hoax, melainkan KPU dan Bawaslu harus menjadikan peristiwa penyebaran berita hoax ini sebagai temuan pelanggaran Pidana Pemilu dan sekaligus Tindak Pidana Umum sebagaimana dimaksud dalam UU Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana dan UU Tentang ITE.

Atas peristiwa ini Prabowo Subianto telah menuai krisis kepercayaan publik yang meluas dari masyarakat pemilih. Dua peristiwa penyebaran berita hoax yang dilakukan dalam waktu yang bersamaan, baik oleh Prabowo Subianto maupun Andi Arief, berpotensi menurunkan kepercayaan publik bahkan menurunkan tingkat elektoral Prabowo Subianto, sebagai Capres Nomor Urut 2.

Publik bisa saja menempatkan Capres Prabowo Subianto dan Tim Kampanye Nasionalnya sebagai telah memproduksi Berita Hoax dan menjadikan Berita Hoax sebagai menu utama dalam kampanye Pilpres 2019 dan hal itu sangat berbahaya, karena pada gilirannya masyarakat akan berpaling dan bosan dengan gaya kampanye Prabowo Subianto yang monoton dan bersifat menyerang Pemerintahan Jokowi denga n menggunakan pisau Berita Hoax.

Penulis : Petrus Selestinus, Koordinator TPDI & Advokat PERADI