Home Renungan Harian Nosce te ipsum – Kenalilah dirimu sendiri

Nosce te ipsum – Kenalilah dirimu sendiri

147
0
Sumber; Google

Rabu, 30 Januari 2019
Pekan Biasa III
¤ Ibr. 10:11-18
¤ Mzm. 110:1,2,3,4
¤ Mrk 4:1-20
”Nosce te ipsum!”

Kenalilah dirimu sendiri! –
Inilah ajakan agar lebih mengenali kondisi tanah hati kita yang ditaburi benih-benih sabda Allah. Allah yang selalu memiliki inisiatif pertama untuk mengasihi kita. Dia-lah sang penabur yang selalu setia dan bermurah hati menaburkan dan menawarkan kasih dan rahmatNya kepada setiap orang.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, kita mendengar perumpamaan bagaimana benih-benih sabda Tuhan itu ditaburkan-Nya. Ada yang jatuh di pinggir jalan, di atas batu, di antara semak duri dan di tanah yang baik.
Adapun makna perumpamaan menabur benih-benih sabda ini bagi kita, antara lain:

Di pinggir jalan
Jenis tanah di pinggir jalan, sebuah gambaran hati yang tertutup karena hiruk-pikuk dunia.
Di sinilah kita diingatkan, bila seorang beriman kepada Yesus, namun tidak mau mendengar atau tidak percaya setelah mendengar sabda Tuhan maka iblis akan mencuri sabda Tuhan yang baru didengarnya sekaligus mencuri hidupnya dari kehidupan kekal yang dianugerahkan Tuhan bagi orang yang percaya kepadaNya.

Di berbatu-batu
Jenis tanah di berbatu-batu, benih cepat mati karena tidak ada tanah sehingga benih tidak berakar; inilah sebuah gambaran hati yang keras karena imannya dangkal / tidak mendalam dan tidak berdaya tahan.
Di sinilah kita diingatkan bahwa menerima dan percaya kepada benih sabda Tuhan adalah langkah awal namun bila kita tidak menghidupi benih sabda Tuhan di dalam hidup kita sehari-hari, maka kepercayaan kepada Yesus dipastikan akan mulai memudar dan akhirnya hilang.

Di tengah semak duri
Jenis tanah di tengah semak duri, benih akan menjadi kerdil dan mati; inilah sebuah gambaran hati yang penuh konflik karena terhimpit oleh aneka macam kepentingan dan kelekatan duniawi.
Di sinilah kita diajak menyadari, bila seorang beriman kepada Yesus hanya mencari berkatNya maka bisa dipastikan ia akan dengan mudah melepaskan kepercayaannya kepada Yesus dan sabda-Nya. Situasi ini dikarenakan ia menolak “sangkuli” (sangkal diri, pikul salib, ikut ajaran Yesus). Ia lebih terpikat dan ingin menikmati tawaran kesenangan dunia atau karena adanya tekanan penderitaan dan ancaman aniaya di dalam hidupnya.

Di tanah subur
Jenis tanah yang baik dan subur, benih yang berada di tanah yang baik akan bertumbuh subur dan menghasilkan buah dalam kelimpahan yakni tiga puluh kali lipat, enam puluh kali lipat dan seratus kali lipat; inilah sebuah gambaran hati yang bertumbuh subur dan menghasilkan buah dalam kelimpahan yang “berakar” pada pengalaman kasih Allah; “bertumbuh” dalam semangat persaudaraan, kerjasama dan dialog dengan semua orang serta “berbuah” pertobatan dalam karya dan pelayanan dalam kasih.
Di sinilah kita diajarkan bahwa sabda Allah yang penuh kasih dan kedamaian adalah seumpama benih (“semen”), yang pada awalnya cuma kecil, biasa dan sederhana. Tapi ternyata, kalau tekun dirawat dan selalu diper-HATI-kan, benih kecil itu akan menjadi besar dan berbuah banyak.
Saudaraku, kenalilah kondisi tanah hati kita dan upayakan agar tetap subur dan akhirnya berbuah.
Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.