Home Berita Lima Perguruan Tinggi Mitra STIKOM Bali di Taiwan Tidak Bermasalah

Lima Perguruan Tinggi Mitra STIKOM Bali di Taiwan Tidak Bermasalah

51
0

LarantukaNEWS – Beberapa waktu belakangan ini muncul pemberitaan mengenai adanya upaya eksploitasi terhadap mahasiswa asal Indonesia yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan bekerjasama dengan beberapa Universitas di Taiwan.

Menanggapi hal ini, Dr. Dadang Hermawan selaku Ketua STIMIK STIKOM Bali menegaskan bahwa mitra kerja STIKOM Bali yang berada di Taiwan tidak termasuk dalam Universitas yang saat ini sedang diinvestigasi oleh pihak berwenang Taiwan. Dikatakan bahwa terdapat lima Perguruan Tinggi yang terdiri dari satu Perguruan Tinggi Negeri dan empat Perguruan Tinggi Swasta yang menjalin kerjasama dengan STIKOM Bali dalam mengirim mahasiswa Kuliah-Magang.

Kelima Perguruan Tinggi dimaksud adalah National Taiwan Ocean University di Keelung, Chienkuo Technogoly University di Changhua, Mingdao University di Pitou, Wufeng University di Minxiong serta Taipei University of Maritime Technology di Taipei City.

Dari kelima Pergurutan Tinggi tersebut, dua di antaranya telah menerima 24 mahasiswa yang dikirim oleh LPK Darma (Grup STIKOM Bali) yakni Chienkuo Technology University yang menerima 16 mahasiswa serta 8 mahasiswa di Taipei University of Maritime Technology.

“Sebagian besar dari mereka sudah dan sedang bekerja dan sejauh ini tidak ada masalah dengan kondisi kerja yang mereka terima”, lanjut Dadang.


Menyusul pemberitaan dugaan eksploitasi para mahasiswa tersebut, Kementerian Luar Negeri RI melalui  juru bicaranya menyatakan akan menghentikan sementara perekrutan calon mahasiswa Indonesia ke Taiwan, sambil menunggu klarifikasi dari Kementerian Pendidikan Taiwan.

Terhadap pernyataan Kemenlu RI ini, Dadang Hermawan meminta para calon mahasiswa maupun calon mahasiswa internship yang sudah lulus seleksi supaya tetap tenang, menunggu informasi selanjutnya.

“Karena dugaan eksploitasi ini sifatnya kasuistis, bukan kebijakan, sehingga kita tidak perlu khawatir, pasti ada jalan keluarnya, kita tunggu saja. Begitu juga program rekrut untuk gelombang berikutnya tetap kita agendakan, jalan terus,  agar pada saatnya nanti (aturan baru itu keluar-red) kita tidak kelabakan,” urai Dadang Hermawan. “Sebab skemah kuliah-magang ini adalah salah satu kebijakan pemerintah Taiwan,” tukasnya.

Untuk diketahui, program kuliah sambil bekerja di Taiwan ini adalah salah satu implementasi “Kebijakan Baru ke Selatan” atau New Southbound Policy (NSP) yang diadopsi oleh pemerintahan baru Taiwan di bawah Presiden Tsai Ing Wen. Tujuan jangka panjang dari New Southbound Policy adalah mengembangkan hubungan antara Taiwan dengan negara-negara ASEAN dan Asia Selatan serta Selandia Baru dan Australia di bidang  ekonomi dan perdagangan, ilmu pengetahuan, dan teknologi  serta budaya; berbagi sumber daya, bakat dan pasar, serta menciptakan model kerja sama baru yang saling menguntungkan dan mencapai kemenangan bagi seluruh pihak. NSP dalam bahasa Presdien Tsai Ing Wen, dengan upaya ini kita berusaha untuk menguatkan “rasa komunitas ekonomi”.