Home Karya Puisi Deskripsi tentang Guru

Deskripsi tentang Guru

361
0

Oleh: Sebastianus Nara Lewar

Sosok ini dikenal sebagai pahlawan,

Bukan karena ia pejuang tatkala bangsa beradu perang,

Ia bukan pahlawan Diponegoro,

Bukan pula pahlawan pemilik bambu runcing,

Bukanlah pahlawan yang hatinya hancur tatkala dijajah negara kincir angin.

Banyak yang memandatkannya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

//

Setengah hari dalam setiap hari,

Ia habiskan di dalam gedung,

baik yang bertembok megah, maupun yang berdinding bambu,

beratapkan alang-alang.

//

Enam jam setiap harinya

Ia tinggalkan keluarganya,

Istri, suami, anak, atau bapa dan ibunya.

Waktunya tertelan banyak

oleh generasi penerus di dalam gedung itu.

//

Setiap pagi,

Tidurnya dibangunkan oleh suatu tugas yang menjadi tanggungjawabnya,

Bahkan dalam tidurnya,

ia pernah bermimpi bahwa generasi di dalam gedung itu ada yang jadi pejabat hebat, politisi ternama, pengacara terhandal, hingga terseret kasus korupsi,

Ada pula, sebagian anak di dalam gedung itu jadi pendeta, imam, ustads.

Namun, sosok ini menanamkan toleransi sosial dalam diri para generasi itu.

//

Pahlawan ini,

Seragamnya tidak seperti seragam milik Kolonel, Letnan, Jendral atau Panglima lain yang ada banyak bintang dan lambang yang terbuat dari logam bermotif emas, yang dilekatkan pada seragam bagian lengan tangan atau dada mereka.

//

Seragam dari pahlawan ini,

hanya punya dua atribut untuk menyimbolkan bahwa ia milik negara, yang ditempelkan pada lengan kanan dan kirinya.

Dan mirisnya atribut itu terbuat dari kain biasa yang dijahitkan.

Tak semegah seragamnya Letnan, Kolonel, Panglima itu.

//

Sosok ini bayarannya tak semahal gaji Dewan Perwakilan Rakyat,

Tak semahal bayarannya pejabat-pejabat negara,

Padahal setiap tahun ia bawa generasi-generasi dalam gedung itu menjuarai olimpiade-olimpiade di luar negeri,

Padahal Dewan Perwakilan Rakyat itu adalah mantan generasi didikannya di dalam gedung itu,

Padahal pejabat-pejabat itu pernah menyapanya dengan sebutan, “Pak, Ibu,” di dalam gedung itu.

//

Sosok ini rupanya pendidik,

Nyatanya juga pengajar,

Rentetan ilmu Humaniora ia jabarkan selama enam jam di dalam gedung itu di setiap hari,

Sesekali yang ia didik menyakitinya,

Adapula yang mengecewakannya,

Namun, tabah dan sabar tetap merangkul erat sukmanya.

Hingga hatinya menjadi kokoh,

Tak lagi rentan terhadap sakit dan kecewa.

//

Sosok ini bukanlah orang hebat,

Tapi semua orang hebat, berkat jasa dari sosok ini.