Home Surat Terbuka Surat Terbuka Paul Tallo Terkait Biaya Tiket Taman Nasional Komodo

Surat Terbuka Paul Tallo Terkait Biaya Tiket Taman Nasional Komodo

1541
0
😎

Denpasar, 14 Desember 2018

Kepada Yth:
Gubernur
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Bapak Viktor Bungtilu Laiskodat SH, MSi
Di
Kupang

Dengan hormat,


Perihal: Tanggapan dan Saran Tentang Wacana Kenaikan Biaya Tiket Masuk di Taman Nasional Komodo sebesar US$ 500,– per wisatawan manca negara.


Beberapa hari terakhir kami membaca di beberapa media online dan media masa bahwa Gubernur Nusa Tenggara Timur berwacana menaikan biaya tiket masuk Taman Nasional Komodo sebesar USD 500 atau setara dengan Rp. 7,200.000 (tujuh juta dua ratus ribu rupiah, dengan nilai tukar 1 US$ = Rp. 14,400 per hari ini 14 Desember 2018) per satu wisatawan manca negara.


Berikut daftar sumber berita online beserta link yang kami gunakan sebagai referensi dalam mengajukan surat ini:

1. Detik Travel dengan judul : Tiket Komodo US$ 500, Kadispar NTT Bandingkan dengan Wisata ke Inggris.
(https://travel.detik.com/…/tiket-komodo-us-500-kadispar-ntt…)

2. Tribun News dengan judul: Gubernur NTT Berencana Naikkan Harga Tiket Masuk Taman Nasional Komodo 50 Kali Lipat. (http://www.tribunnews.com/…/gubernur-ntt-berencana-naikkan-…)

3. Serba Serbi Koper Intan : Tiket Masuk Taman Nasional Komodo Jadi 500$, Kalau Miskin Jangan Datang!
(http://serbaserbipokerintan.blogspot.com/…/tiket-masuk-tama…)

4. Harian Nasional dengan judul : Gubernur NTT Usulkan Tiket Pulau Komodo Rp 7 Juta
(http://www.harnas.co/…/gubernur-ntt-usulkan-tiket-pulau-kom…)

5. Republika dengan judul : Pengamat Tanggapi Rencana Tiket 500 Dolar Masuk TNK
(https://www.republika.co.id/…/pizi3v328-pengamat-tanggapi-r…)
Selain itu kami juga membaca reaksi masyarakat luas yang pada umumnya menolak wacana tersebut kecuali dukungan dari Kepala Dinas Pariwisata NTT.

Sehubungan dengan wacana bapak Gubernur dan komentar penolakan masyarakat serta tanggapan negatif dari beberapa biro perjalanan wsiata dalam negeri dan Tour Operator luar negeri, dengan ini saya menyampaikan tanggapan dan saran dibawah ini:

A. TANGGAPAN

1. Sejarah Pengelolaan Taman Nasional Komodo sejak tahun 1911

Adalah Perwira Pemerintah Hindia Belanda J.K.H. Van Steyn yang berkedudukan di Ende, Flores sebagai orang pertama yang menemukan Buaya Komodo pada tahun 1911, yang selanjutkan beberapa buaya Komodo dikirimkan ke Museum Zoological di Bogor untuk dilakukan penyelidikan.

Kemudian Peter Ouwens, seorang kurator pada Museum Zoologi Bogor, menerima satwa ini, kemudian diberi nama Varanus Komodensis. Dari penemuan ini muncul kesadaran dari berbagai pihak untuk menjaga kelestarian satwa ini, hal ini terlihat adanya beberapa peraturan yang memuat upaya perlindungan Satwa Komodo, sebagai berikut:

2.1 SK. Sultan Bima tahun 1915 tentang Perlindungan Komodo (Verordening van het Sultanat van Bima).

2.2 SK Pemerintah Daerah Manggarai tahun 1926 tentang Perlindungan Komodo (Besluit van het Zelfbestuur
van het Landschap Manggarai).

2.3 SK Residen Timor tahun 1927 tentang pengesahan SK Pemerintah Daerah Manggarai pada butir 2 di atas.

Setelah 3 Keputusan di zaman Kolonial Belanda tersebut di atas, di bawah ini adalah kronologis riwayat pembentukan Taman Nasional Komodo adalah sebagai berikut:

1) Zelfbestuur van Manggarai, verordening No. 32/24 September 1938 tentang Pembentukan Suaka Margasatwa Pulau Padar, Bagian Barat dan Selatan Pulau Rinca.


2) Residen van Timor en onder horigheden No.19/27 Jan 1939 (Pengesahan Peraturan Daerah pd butir 1)


3) Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.66/Dep.Keh/1965 tanggal 21 Oktober 1965 tentang Penunjukkan Pulau Komodo sebagai Suaka Margasatwa seluas 31.000 Ha.


4) Surat Keputusan Gubernur KDH Tk. I Nusa Tenggara Timur No.32 Tahun 1969 tanggal 24 Juni 1969 tentang penunjukkan Pulau Padar, Pulau Rinca dan Daratan Wae Wuul/Mburak sebagai Hutan Wisata/ Suaka Alam seluas 20.500 Ha.


5) Surat Keputusan Dirjen Kehutanan No.97/Tap/Dit Bina/1970, tentang Pembentukan Seksi PPA di Labuan Bajo.


6) Pengumuman Menteri Petanian tanggal 6 Maret 1980 tentang Pembentukan Taman Nasional Komodo.


7) Keputusan Dirjen PHPA No.46/Kpts/VI-Sek/84 tanggal 11 Desember 1984 tentang Penunjukkan Wilayah Kerja Taman Nasional Komodo.
8) Keputusan Menteri Kehutanan No.306/Kpts-II/92 tanggal 29 Februari 1992 tentang Perubahan Fungsi Suaka Margasatwa Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar seluas 40.728 Ha serta Penunjukkan Perairan Laut di sekitarnya seluas 132.572 Ha yang terletak di Kabupaten Dati II Manggarai Provinsi Dati I Nusa Tenggara Timur menjadi Taman Nasional dengan nama Taman Nasional Komodo.


9) Tahun 1992, Komodo ditetapkan oleh Presiden RI sebagai Simbol Satwa Nasional melalui Keppres No. 4 Tahun 1992 tanggal 9 Januari 1992.


10) Tahun 1992, Perubahan fungsi Suaka Margasatwa Pulau Komodo, Pulau Rinca dan Pulau Padar seluas 40.728 Ha dan Penunjukan Perairan Laut seluas 132.572 Ha menjadi Taman Nasional Komodo.


11) Tahun 2000, ditetapkan kawasan pelestarian alam perairan oleh Menteri Kehutanan dengan luas 132.572 Ha.


12) Tahun 2006, Taman Nasional Komodo termasuk 21 Taman Nasional Model di Indonesia sesuai dengan SK Direktur Jenderal PHKA Nomor SK.128/IV-Sek/2006 tentang Perubahan Keputusan Direktur Jenderal PHKA Nomor SK.69/IV-Set/HO/2006 tentang penunjukkan 20 (Dua puluh) Taman Nasional sebagai Taman Nasional Model. (Sumber: dikumpulkan dari sanan sini).

2. Taman Nasional Komodo sebagai The New 7 Wonders

Taman Nasional Komodo terdiri atas tiga pulau besar, yaitu Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar serta beberapa pulau kecil. Wilayah darat taman nasional ini 603 km² dan wilayah total adalah 1817 km². Saya sependapat dengan bapak bahwa Taman Nasional Komodo adalah destinasi pariwisata yang unik, hanya satu-satunya di dunia. Untuk mencapai keadaan seperti sekarang ini, TNK Komodo meliwati sejarah panjang seperti yang diuraikan di atas dan tambahan sebagai berikut:

Pada tahun 1980 Taman Nasional ditetapkan sebagai wilayah untuk melindungi Varanus Komodoensis dan habitatnya. Di sana terdapat 277 spesies hewan yang merupakan perpaduan hewan yang berasal dari Asia dan Australia, yang terdiri dari 32 spesies mamalia, 128 spesies burung, dan 37 spesies reptilia. Bersama dengan Komodo, setidaknya 25 spesies hewan darat dan burung termasuk hewan yang dilindungi, karena jumlahnya yang terbatas atau terbatasnya penyebaran mereka perlu dilindungi. Selain itu, di kawasan ini terdapat pula terumbu karang.

Setidaknya terdapat 253 spesies karang pembentuk terumbu yang ditemukan di sana, dengan sekitar 1.000 spesies ikan. Keindahan terumbu ini menarik minat wisatawan asing untuk berenang atau menyelam di perairan ini. Pulau-pulau ini aslinya adalah pulau vulkanis.
Pada tahun 1991 Taman Nasional Komodo ini diterima sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Pada tahun 2000 ditetapkan sebagai salah satu Taman Nasional Model di Indonesia. Pada tanggal 11 November 2011, diumumkan sebagai salah satu dari The New 7 Wonders, selain Hutan Amazon, Teluk Halong, Air Terjun Iguazu, Pulau Jeju, Sungai Bawah Tanah Puerto Princesa, dan Table Mountain. (Sumber: dikumpul dari sana sini).

Jumlah penduduk di wilayah ini kurang lebih adalah 4.000 jiwa.

3. Biaya tiket masuk Taman Nasional di Indonesia:

Sepengetahuan saya, Taman Nasional berada di bawah pemerintah Pusat cq Departemen Kehutanan. Harga/ biaya masuk Taman Nasional ditentukan oleh Pemerintah Pusat.

Sebagai bahan acuan kami mengajukan beberapa biaya masuk Taman Nasional di wilayah Republik Indonesia untuk wisatawan manca negara saja sebagai berikut:

a. Taman Nasional Tanjung Puting Kalimantan Tengah sebesar Rp 150.000

b. Taman Nasional Ujung Kulon di Jawa Barat sebesar Rp 150.000

c. Taman Nasional Gunung Leuseur di Sumatera Utara sebesar Rp 150.000

d. Taman Nasional Gunung Bromo Rp 217.000

e. Taman Nasional Komodo saat ini Rp. 150.00 – Rp. 225.000

4. Biaya Tiket Masuk ke Objek wisata New7 Wonders of Nature di dunia

Di sini kami juga mengajukan enam heritage yang masuk dalam World 7 Wonders antara lain sebagai berikut:

a. Teluk Halong di Vietnam : USD 13,60 per satu orang
b. Gunung Meja / Table Mountain di Afrika Selatan : USD 8.00 per satu orang

5. Perbandingan dengan biaya masuk ke Negara Buthan.

Perbandingan dengan biaya masuk ke negara Butan ternyata tidak dapat disejajarkan dengan wacana bapak..

5.1 Pemerintah Buthan membebankan/ memberlakukan quota jumlah kunjungan ke negara itu, untuk menghindari wisata masal. Karena negara itu luas wialayahnya kecil, sebagai destinasi wisata sangat unik pada hal wisatawan yang datang ke sana berjubel, maka ditetapkan sistim quota dengan biaya kunjungan yang ditentukan pemerintah.

5.2 Pemerintah membebankan US$250 per wisatawan per hari (pada waktu turis banyak/ peak season) dengan perhitungan:
– Akomodasi untuk satu malam di hotel bintang tiga
– Tiga kali makan sehari
– Tour Guide berlisensi untuk mengantar wisatawan pada hari itu
– Keperluan tenda bila wisatawan mau menginap di tenda (camping)
– US$ 65 untuk kepentingan pemerintah bagi pendidikan, kesehatan dan pelestarian lingkungan
– Transportasi untuk tour

6. Wacana bapak: menaikkan biaya masuk mejadi US$ 500,00 per wisatawan manca negara & Orang miskin tidak usah datang.

Wacana bapak menaikkan tariff/ bea masuk ke Taman Nasional Komodo telah tersiar secara luas. Teknologi informasi menyebarkan berita itu tersiar ke seluruh negeri, malahan dunia. Berita yang menakutkan dan merugikan.


Siapa saja yang merasa takut dan rugi?
6.1 Perusahaan penebangan. Mereka akan kehilangan penumpang atau mengalami kekurangan penumpang untuk jalur penerbangan ke Labuan Bajo dan dari Labuan Bajo.
6.2 Para Tour Operator dan biro perjalanan wisata akan kehilangan wisatawan, yang berarti mereka kehilangan pekerjaan.
6.3 Para pemilik hotel di Labuan Bajo akan kehilangan penghuni karena wisatawan akan berkurang atau mungkin tidak sama sekali datang ke Komodo.
6.4 Para pemilik kapal, baik yang tradisional, kapal penishi maupun kapal cepat akan tidak banyak beroperasi untuk mengantar wisatawan ke dan dari Komodo, Rinca, Padar dll.
6.5 Para pramuwisata akan kehilangan pekerjaan mereka untuk mengantar wisatawan ke pulau-pulau.
6.6 Para nelayan dan petani tidak lagi menjual ikan dan syur mayur mereka ke hotel dan restoran karena kekurangan wisatawan.
Apakah semua wisatawan akan kapok mendatangi Taman Nasional Komodo? Mungkin tidak, tetapi saya yakin sebagian besar akan membatalkan niat mereka untuk mendatangi destinasi Pulau Flores dan Komodo karena alasan biaya masuk ke obyek wisata terlampau mahal. Yang mengalami kerugian adalah destinasi Taman Nasional Komodo dan Flores serta NTT secara keseluruhan terutama yang disebutkan satu persatu di atas.

B. SARAN
Mempelajari keadaan dan sejarah panjang penetapan serta pengelolaan Taman Nasional Komodo ditambah dengan perbandingan tarif masuk Taman Nasional se Indonesia, juga The Seven Wonders dunia yang lain, di samping tidak kalah penting perbandingan dengan Negara Buthan, saya datang dengan saran sebagai berikut:

1. Bila wewenang itu ada pada Pemerintah Pusat, yaitu pada Kementerian Kehutanan, maka kiranya Gubernur NTT melakukan pembicaraan dengan pihak Kementerian Kehutanan.
2. Apabila Gubernur memiliki kewenangan dalam menentukan kenaikan biaya tiket masuk Taman Nasional Komodo, dengan tujuan menaikan PAD NTT, kiranya Gubernur melakukan pembicaraan antara pemerintah terlebih dahulu sebelum mengumumkan ke publik.
3. Kiranya selalu mempertimbangkan bahwa menaikkan biaya masuk ke Taman Nasional atau obyek wisata (dengan angka 4.800 persen) secara dadakan adalah sangat merugikan pelaku pariwisata dan destinasi wisata dengan pertimbangan destinasi Komodo belumlah menjadi destinasi favorit bagi wisatawan saat ini.
4. Saya percaya bapak lebih memahami urusan bisnis, khusus di bidang pariwisata, bila muncul pro dan kontra apa lagi ada rasa takut pada pelaku bisnis maka hal itu akan mempengaruhi perencanaan perjalanan wisatawan tahun yang akan datang karena dibayang-bayangi wacana bapak Gubernur. Oleh karena itu kenaikan harga biasanya diumumkan minimal 6 (enam) bulan sebelum tutup tahun, itupun kenaikan yang masuk akal.
5. Sebagai pelaku pariwisata, saya memohon Gubernur untuk membuat pernyataan membatalkan wacana menaikkan biaya masuk Taman Nasional Komodo sebesar US$ 500 per wisatawan karena lebih banyak ruginya dari pada manfaatnya.

Atas perhatian Bapak Gubernur saya ucapkan terima kasih.

Salam hormat,
Paul Edmundus Tallo, S. Sos, M. Par