Home Sastra ‘SRI DAN LAKI-LAKI FLORES’

‘SRI DAN LAKI-LAKI FLORES’

430
0

“Bapak tak setuju kamu menikah dengan orang Jawa!” suara ibu di ujung telpon.

“Kenapa?” tanyaku.

“Masih banyak perempuan di kampung. Ikan ayam*-mu pun masih ada,”

“Masih banyak perempuan di kampung. Ikan ayam*-mu pun masih ada,”

“Ah ibu. Hanya itukah alasan bapak? Toh, saya belum tentu mencintai dia,”

“Cinta? Banyak yang menikah karena sesuai adat, dan mereka bertahan sampai sekarang,” belanya.

“Sudahlah ibu. Aku sudah terlanjur mencintai Sri. Orangnya baik, nanti kalau ibu bertemu dia, ibu juga akan merasa nyaman juga,” kataku mencoba menenangkan ibu.

“Ya, sudahlah. Biar ibu yang bilang ke bapakmu,” pasrahnya mengakhiri.

Sudah sekian kali ibu menelpon, dan isinya tetap sama; menyuruhku pulang dan menikahi salah satu jodoh sesuai adat yang sudah bapak dan ibu persiapkan untukku. Ikan-ayam, pasangan hidup yang diatur secara adat sesuai tatanan suku di Flores pun sudah disiapkan untukku. Hasilnya pun tetap sama. Aku tidak bisa mengkhianati Sri, wanita manis berambut panjang yang sudah kupacari lima tahun ini. Kami bekerja di sebuah kantor swasta yang sama di Jogja. Selepas kuliah, aku memang tak ingin pulang kampung. Aku ingin mengembara di kota gudeg ini, menyusuri Malioboro di malam hari sambil menikmati angkringan dan lesehan di sepanjang trotoarnya, meneguk alkohol lokal di Pajeksan, dan berakhir di kafe-kafe kecil di jalan Parangtritis bersama alunan reggae yang mendamaikan. Ketika aku diterima bekerja di salah satu kantor swasta di sini, aku lalu bertemu Sri, wanita Sleman yang lembut. Setelah lima tahun pacaran, dia nampak yakin untuk mengajakku berumah tangga. Kala liburan akhir tahun tiba, dia selalu memintaku untuk sama-sama berlibur di kampung di Flores. Namun, aku belum cukup berani membawanya ke sana. Sri yang lembut dan halus ini pasti akan mengalami semacam ‘cultural shock’ bila berada di antara kerabatku yang bersuara keras layaknya di pasar. Belum lagi, cuaca yang panas dan terik. Sri hanya mengenal Flores dari Kelimutu, Labuan Bajo dan pantai Pink dari promosi wisata yang ada di internet dan televisi. “Nanti sajalah sayang. Flores masih tetap di sana kok,” bujukku melucu.

…………………………

“Bu, saya akan menikah dengan Sri,” kataku di telpon.

“Kamu serius? Bapakmu pasti akan marah besar. Dia tidak mungkin menyetujuinya,”

“Itu hak bapak,”

“Lalu, siapa yang akan mendampingimu nanti di gereja?”

“Om Don,”

“Ah, kau memang keras kepala. Aku sudah capek menghadapi bapakmu lagi nanti,” tutup ibu.

Aku menikahi Sri, tepat enam tahun kami berpacaran. Om Don dan istrinya yang menjadi waliku di  gereja. Om Don adalah orang Flores yang sudah puluhan tahun tinggal di Jogja, istilahnya sesepuhnya orang Flores-lah. Dialah yang mengatur segala urusan pernikahan kami. Tak ada urusan adat, belis*, gading, susu mama* ataupun sirih pinang* layaknya orang Lamaholot – Flores. Hanya sepasang cincin nikah, dan syah sebagai suami istri! Tak ada keluarga dari kampung yang hadir. Saudara-saudaraku pun dilarang bapak untuk hadir. Ya, sudahlah!

Setahun kemudian, Sri hamil. Entah kenapa, aku ingin sekali Sri melahirkan di Flores, di kampungku. Tentu saja niatku ditentang oleh keluarga besar Sri.

“Di Flores sudah ada rumah sakit bang?” tanya salah satu kerabat Sri.

“Adalah mas! Hampir tiap kecamtan ada rumah sakit!” jawabku sedikit membual.

Sri sudah jadi milikku seutuhnya jadi akulah yang berhak menentukan keputusan.

“Bu, aku ingin Sri melahirkan di kampung,” kataku di telpon.

“Benar? Kapan? Cepatlah pulang!”

“Bagaimana dengan bapak?”

“Itu urusan ibu,”

Ya, semua jadi urusan ibu.

………………….

Sejak pertama menginjakkan kakinya di rumah, Sri seolah menjadi pendamai di antara aku dan bapak. Bapak yang suka naik darah dan emosian kalau ada masalah, jadi begitu tenang dan ramah ketika ada Sri di rumah. Bapak saban hari menyiapkan air kelapa muda untuk Sri dan rajin mencari kayu bakar untuk memasak air yang dipakai Sri untuk mandi.

“Bapak mau cucunya laki-laki atau perempuan?” tanya Sri pada bapak di suatu sore.

“Sama saja, anak. Tapi kalau boleh, laki-laki dulu,” jawabnya sedikit tersenyum.

“Kenapa?”

“Untuk mewariskan nama bapak dan juga suku,” jawabnya tegas.

Waktunya melahirkan. Di depan ruang bersalin, semua nampak gelisah. Sri sendirian di dalam kamar bersalin. Kata dokter aku boleh masuk, tapi aku malah gelisah. Sri ditemani Lina, sepupuku yang juga bekerja sebagai bidan di salah satu puskesmas di pulau Solor, Flores Timur. Bapak nampak khawatir di ujung ruang tunggu. Rosario di tangannya didekap erat sambil mulutnya komat-kamit mengucap doa. Ini adalah cucu pertamanya yang bakal lahir.

Suara bayi menangis. Semua terdiam.

“Sri sudah bersalin,” kata ibu.

Aku gelisah, senang tapi khawatir.

Ayah apalagi.

Lina membuka pintu ruang bersalin.

“Laki-laki, normal. Sri baik-baik saja,” katanya girang, lalu pintu ditutup lagi.

“Cucuku laki-laki. Cucuku laki-laki. Lak-laki!” teriak ayah keras sekali. Semua orang nampak kaget, dan terdiam lalu tersenyum.

“Aku bisa mati sekarang karena aku sudah punya penerus. Terima kasih Tuhan! Cucuku laki-laki.”

……………………………….

Waibalun, 28/12/2018.

*Ikan-ayam, pasangan jodoh yang dianjurkan secara adat.   

*belis, semacam mas kawin, dapat berupa gading atau sejumlah uang.

*susu mama, mas kawin yang sering berupa uang sebagai bentuk penghargaan terhadap ibu calon pengantin wanita.

*sirih pinang, proses menghantarkan sejumlah kebutuhan untuk perayaan pernikahan dari keluarga calon mempelai pria kepada pihak keluarga calon pengantin perempuan yang dilaksanakan sehari sebelum pernikahan.

sumber gambar: www.alienco.net.