Home Artikel Perluasan Bandara Aroeboesman Kabupaten Ende Dan Biaya Ganti Rugi

Perluasan Bandara Aroeboesman Kabupaten Ende Dan Biaya Ganti Rugi

491
0

Oleh : Aurelius Do’o

Dukungan Pengembangan Bandara Aroeboesman di KabupatenEnde Pulau Flores, disambut baik semua pihak, atau didukung semua pihak termasuk warga masyarakat yang terkena dampak perencanaan pengembangan Bandara.

Terhadap agenda yang satu ini, diketahui sejumlah instrumen sudah dibuka kepada masyarakat untuk proses dan pencapaiannya. Kelengkapan Sertifikat Tanah, NPWP,  KTP,  Kartu Keluarga, Surat Ahli Waris dan juga Rekening Bank terbaru misalnya, dibutuhkan sebagai syarat wajib disiapkan oleh setiap keluarga untuk proses penggantian tanah dan bangunan milik masyarakat.

Seperti diberitakan salah satu koran online, Kepala Bandara setempat, Faudani, menginformasikan masing-masing biaya lahan memiliki harga berbeda dan variatif. Perbedaan itu berdasarkan hasil kajian tim Appraisal. Harga fisik sesuai dengan topografi lahan, usia rumah serta material yang digunakan. Untuk harga lahan minimal Rp.400.000 per meter persegi dan maksimal Rp. 1.000.000 per meter persegi.

Total lahan terakhir yang butuhkan untuk pengembangan bandara, yakni 800 meter persegi, atau lebih rendah dari yang dibutuhkan 6 hektar are. Mulanya Bandara Aroeboesman mendapatkan jatah 21 hektar are dengan besar anggaran 15 Miliar. Luas itu terakumulasi dengan total pemilik lahan yang didata sebanyak 73 kepala keluarga. Berikutnya menurun sampai 21 Kepala Keluarga dengan luas lahan menjadi 800 meter persegi.

Pada pokoknya, tidak seorang pun yang menolak pembangunan, termasuk penulis artikel ini. Sebaliknya pembangunan berbasis logika anggaran pro rakyat secara terukur, menjangkau kebutuhan berikutnya, agar mereka bisa membeli tanah yang baru usai lahan mereka tergusur dan juga dapat membangun rumah yang baru. Maka sudah sewajarnya pertimbangan dan kajian dibutuhkan terus terkoreksi secara wajar dan ataupun di-diskusikan untuk dipecahkan oleh segenap pihak yang berkompeten dalam agenda pembangunan bangsa.

Ganti Rugi Berbasis Kebutuhan Harga Tanah Berikutnya dan Material Pembangunan Rumah

Berdasarkan data serta dokumen wawancara lapangan yang dikantongi, salah satu topik pembicaraan serius bagi warga terkena dampak pengembangan Bandara Aroeboesman KabupatenEnde, dalam hal ini warga Dolog, Kecamatan EndeSelatan, Kabupaten Ende, Flores, adalah terkait biaya ganti rugi lahan dan rumah-rumah, asset milik warga.

Pembangunan perluasan Bandara pada esensinya adalah untuk mensejahterahkan masyarakat. Itulah tujuan yang sesungguhnya. Theknisnya adalah untuk peningkatan fasilitas, sarana prasaranan, volume penumpang, kapasitas penerbangan dan lain-lain sebagai penggerak theknis yang berimplikasi langsung bagi pendapatan negara dan juga bagi daerah. Selanjutnya kembali kepada misi dan visi pelayanan bagi masyarakat.

Dengan menjunjung segala instrumen dan analisis pembiayaan serta dukungan untuk pengembangan bandara, penulis menyodorkan persepsi lepas dengan berpijak pada pilihan prinsip Bandara Diperluas, Warganya Sejahtera, Tidak Tertekan,Tidak Melarat, Tidak Depresi dan apapun potensi lainnya, demi  kebaikan umum, guna kebaikan bersama, dan untuk masyarakat terkena dampak perluasan Bandara, dalam hal ini warga Dolog, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, Flores.

Tolak ukur ganti lahan dan ganti rumah-rumah warga sebenarnya telah menjadi diskursus Negara dan harus terus di-diskusikan oleh negara. Sebab itulah salah satu tugas negara dan kewajiban bernegara.

Di era kemajuan zaman saat ini, di era terus meningkatnya harga-harga tanah di Kota Ende, pada fase meningkatnya harga-harga material bangunan dan berbagai variabel lainnya, maka pembiayaan dengan logika dapat menjangkau kebutuhan berikutnya, merupakan salah satu pilihan yang patut dikaji secara arif dan bijaksana, selanjutnya disampaikan kepada negara.

Segala bentuk pemikiran dan alternatif kajian selayaknya patut dikemukakan untuk terus memastikan dan memperkuat pola-pola kebijakan dalam tema ini, sebab juga diketahui akan melalui fase penggusuran asset-asset masyarakat.

Kajian komprehensif dan terobosan pro rakyat untuk memutus segala potensi problematika baru bagi warga di Kabupaten Ende, itulah sesungguhnya yang dibutuhkan oleh Bangsa ini, termasuk dalam tataran pengembangan bandara.

Kelompok warga Dolog, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, Flores yang terkena dampak penggusuran, sedini mungkin harus dilindungi dan dipastikan mereka terhindar dari ancaman kesulitan keuangan untuk menjangkau pembelian lahan dan pembuatan rumah-rumah baru bagi merkea, pasca penggusuran.

Harus dipastikan mereka bukan warga yang hanya memiliki uang untuk membeli lahan baru, namun juga wajib dipastikan sebagai warga yang mampu membeli tanah dan mampu pula mendirikan rumah baru usai meninggalkan kampung halaman mereka di wilayah Dolok Kabupaten Ende.

Maka, tidak ada pilihan, struktur kompensasi biaya patut dihitung secara cerdas, tepat, akurat,pro kebutuhan berikutnya, dalam hal ini pro pengadaan tanah dan pembangunan rumah-rumah mereka yang baru nantinya.  

Negara harus bisa memastikan tata rencana pembangunan masyarakat dengan benar-benar komprehensif, terukur, Pancasilais dan tidak boleh memicu problematika baru bagi warga.

Ganti Rugi Berbasis Kebutuhan Harga Tanah Berikutnya dan jangkauan untuk membiayai material pembangunan rumah-rumah berikutnya, merupakan salah satu kerangka pikir yang bisa ditempatkan pada barisan depan dalam rencana dan prinsip mendukung pembangunan.

Dukung Pembangunan – Dukung pula rakyatnya tidak dipersulit untuk hidup memiliki tanah dan rumah dalam hak hidup mereka pada tempat tinggal yang baru pasca penggusuran.

Pemda dan DPRD Kabupaten Ende  

Terlepas dari apapun rangkaian upaya dan langkah-langkah yang tentu sudah sangat banyak dilakukan dan akan terus dikerjakan, disepakati era otonomi daerah menuntut peran pikir daerah untuk senantiasa subsidier dalam ikut menata dan mengawasi pembangunan masyarakat, bangsa dan negara.

Perluasan dan Pengembangan Bandara Aroeboesman tentu bergerak pada koridornya, namun Pemda dan DPRD Kabupaten Ende pun pastinya tetap bergerak pada koridornya.

Apa yang bisa digerakan?.

HematPenulis, Pemda dan DPRD Kabupaten Ende perlu terus melakukan kajian, pengawasan aktif dan menginisiasi rumusan-rumusan pemikiran konstruktif pro kepastian hidup warga, termasuk mengkaji berbagai instrumen sosial pembangunan dengan filosofi dari, oleh, untuk warga terkena dampak penggusuran. Rakyat dalam hal ini warga Dolok jangan perna dibiarkan berjalan sendiri seperti anak ayam kehilangan induknya.

Undang-Undang dan Peraturan di republik ini tidak sekalipun melarang pengajuan rumusan pemikiran, skema input pembiayaan, sebab setiap rumusan yang terukur dan berazaskan Pancasila serta bersifat subsidiar, memang sangat dibutuhkan dalam berpembangunan.

Semuanya dapat digerakan dengan syarat untuk memastikan nasib dan masa depan warga diuntungkan. Semuanya dapat dikemukan dan disodorkan kepada tingkatan pemerintah yang lebih diatas, termasuk kepada pihak kementerian dan ataupun juga kepada Presiden di negara ini.

Oleh karena itu, jika kecenderungan tarik menarik struktur ganti rugi masih merupakan salah satu pekerjaan rumah bersama, maka kerangka pembiayaan berbasis kebutuhan harga tanah berikutnya, berbasis kebutuhan biaya pembangunan rumah berikutnya serta variabel terukur lainnya, itu sudah menjadi tugas kerja untuk terus dikaji dan di-inisiasi dalam langkah terobosan dan ataupun pengajuan langkah pikir subsidiar pro pembangunan Kabupaten Ende ke tingkat pusat.

Dua hal pokok dari tulisan ini yakni mendukung pengembangan bandara dan mendukung warga nyaman, terjangkau memiliki lahan baru dan terjangkau pula membangunrumah/tempat tinggal baru pada lokasi tinggal berikutnya.  

Terakhir Penulis ingin berkata, “mutu dan kehebatan serta martabat perluasan bandara dalam nota pembangunan bangsa, sesungguhnya tidak terletak pada mimpi bandara mampu diperluas, namun teletak pada eksekusi pembangunan bandara berhasil dikembangkan dengan pembuktian masyarakat tidak dihantar kepada masalah baru keterbatasan anggaran untuk membeli tanah dan membuat rumah-rumah mereka berikutnya.  

Sebagian Warga Dolok sebut : Ganti Untung. Sekian *)

Penulis : Aurelius Do’o, Wartawan.