Home Artikel NTT Banyak Orang Hebat Tapi Pilih Para Pemimpin Yang Biasa Saja

NTT Banyak Orang Hebat Tapi Pilih Para Pemimpin Yang Biasa Saja

835
0

Oleh : Anthony Tonggo*

ANAK saya heran: “Mengapa NTT tetap tertinggal, sedangkan orang NTT pun dikenal luas sebagai daerah dengan menyimpan banyak orang pintar?”

Anak saya benar! Banyak orang NTT dengan profesi yang mengandalkan kecerdasan dan mental keberpihakan pada kerakyatan-kebangsaan-kemanusiaan yang jelas.

Dosen dari universitas papan bawah hingga papan atas pun ada orang NTT. Peneliti di berbagai lembaga tisert pun ada. Wartawan dari media kecil sampai sekelas Kompas pun ada. Frans Seda pun dihormati di Belanda hingga memberi nama gedung di universitas (Leiden) top dunia di sana.

Ironinya, mengapa NTT sendiri tetap tertinggal? Tetap miskin, sarang koruptor, dll.?
**

Beda Seleksi, Beda Hasil

KITA tidak bisa serta-merta mengatakan bahwa orang-orang hebat NTT sekelas Frans Seda atau Ignas Kleden itu cuma pengecualian. Yang lainnya jelek semua. Tidak.

Yang membedakan setiap orang cuma genetikanya. Selebihnya kita sama. Kita hidup dari alam yang sama, makan dari hutan dan laut yang sama, dari kebudayaan yang sama. Lantas kenapa yang memimpin NTT tetap tidak bisa putuskan mata rantai ketertinggalan itu?

Antara mekanisme pemilihan pemimpin di NTT berbeda dengan mekamisme pemilihan orang hebat di universitas top, di lembaga risert, dan di media massa top. Yang lainnya melalui mekanisme mutu, sedangkan mekanisne pemilihan pimpin di NTT menurut uang, SARA, dan (kadang) kecurangan.

Akhirnya, tokoh yang sebenarnya tidak mumpuni malah dielu-elukan untuk dipilih. Meski NTT tetap tertinggal, tapi masyarakat tetap saja memilihnya sampai dua periode, bahkan sepanjang hidup orang itu selalu dililih untuk menempati jabatan-jabatan politik strategis, musalnya menjadi anggota DPRD, bupati, wakil bupati, gubernur, dan wakil gubernur.

Banyangkan, sudah tidak prestasi yang tidak membuktikan menghilangkan stigma buruk bagi daerah itu, kok masih saja dipilih sepanjang hidup orang itu.

Ini berarti, yang bermasalah itu bukan oknum pemimpinnya, tapi masyarakat kita itu yang bermasalah. Selera pilihan kita terlalu rendah.

Orang yang di masa sekolah/kuliahnya tidak memiliki reputasi akdemik dan aktivitas idealismenya tidak ada, tapi kok masyarakat NTT langsung menganggap hebat dan memilihnya. Sementara, putra-putra NTT yang memiliki rekam jejak ajademik dan idealisme hebat di masa sekolah/kuliah, malah tidak dikenal. Masyarakat pemilih kitalah yang bermasalah.

Kita mau bilang sudah memilih dengan tepat dan bertanggungjawab, namun selama nasib NTT (daerah) masih saja terkenal buruknya, maka semua itu omong-kosong. Semua tokoh yang kita elu-elukan itu tidak hebat. Mereka jadi tokoh cuma karena cermin buram para pengelu-elu itu sendiri.

Jika kenyataannya NTT tak pernah bisa keluar dari stigma buruk itu, lantas dari mana argumen parpol untuk mengatakan bahwa mereka tidak berdosa? Dari mana kekuatan jari telunjuk para petinggi parpol di NTT untuk berteriak bahwa mereka tidak berdosa? Dari mana alasan bagi mulut para pemilih pemimpin (yang sudah menjabat selama ini) untuk mengatakan dirinya suci? Cuma orang bebal saja yang mau percaya!

Kalau benar-benar bahwa NTT adalah nusa orang ber-Tuhan, hentikan pemilihan calon pemimpin berdasarkan uang, SARA, dan kecurangan!

Bagaimana mengenal tokoh hebat?
**

Mengenal Orang Hebat: Tanggalkan Pancaindra!

ANDA ingat, orang hebat dengan prestasi akademik, moral terpelihara, itu tidak akan menjual dirinya. Mereka tidak menepuk dada, tidak mungkin mengiklankan dirinya hebat, mereka tidak akan membayar Anda, bahkan mereka tidak akan mengajak orang untuk memilih mereka. Itu karena sistem kerja kewarasan mereka masih normal bekerja dan urat-kemaluan mereka masih ada.

Oleh karena itu, tokoh-tokoh semacam itu Anda tidak bisa bertemu dengan mengandalkan panca-indra Anda. Mereka itu baru bisa Anda temui kalau Anda harus menggunakan indra keenam, ketujuh, dan seterusnya, yaitu otak dan hati. Ikuti pemikiran mereka, ikuti prestasi mereka yang kontekstual dengan keahlian mereka.

Anda tidak akan bertemu mereka jika Anda nengukur dari sebatang rokok, karena orang-orang cerdas dan bermoral tahu bagwa memberi Anda rokok sama dengan membunuh Anda dan semua perokok padif pakai racun nikotin.

Anda tidak akan bertemu mereka jija Anda nengukurnya dari sebotol alkohol keluar dari sakunya, karena orang-orang hebat itu tahu bagwa alkohol membuat sustem syaraf Anda rusak dan merusaklah kesehatanmu.

Orang-orang hebat itu tidak akan memberi Anda uang, karena mereka tahu bahwa hal itu sama dengan mendidik Anda jadi pengemis. Kalaupun ada proposal, orang hebat tahu bahwa kegiatan Anda itu tidak korelatif dengan masalah yang melilit diri Anda dan masyarakat.

Orang-orang hebat itu tahu bahwa permintaan Anda itu tidak mendasar untuk menciptakan kemajuan kesejahteraan. Tapi tokoh-tokohan itu sanggup melayani permintaan buruk Anda, karena dia cuma butuh suara Anda, dia tidak butuh dengan mutu masa depan Anda.

Kalau Anda masih mengandalkan pancaindra, maka Anda cuma dapat tokoh-tokohan.

Selamat Ulang Tahun NTT dan selamat menuju indra keenam-ketujuh-dstnya bagi masyarakat NTT…!! (**)

* Anthony Tonggo, Alumnus FISIPOL UGM, Asal NTT, tinggal di Yogyakarta.