Home Artikel Hal Alkohol Dalam Kristen Dan Kegagalan Mengerti Guyonan

Hal Alkohol Dalam Kristen Dan Kegagalan Mengerti Guyonan

258
0

Oleh : Aurelius Do’o

Alkitab mempunyai banyak instruksi mengenai konsumsi alkohol (Imamat 10:9; Bilangan 6:3; Ulangan 29:6; Hakim-Hakim 13:4,7,14; Amsal 20:1, 31:4; Yesaya 5:11,22, 24:9, 28:7, 29:9, 56:12). Akan tetapi, Alkitab tidak melarang seorang untuk meminum bir, anggur, atau minuman beralkohol lainnya.

Sebaliknya, adapun bagian Alkitab yang membicarakan alkohol secara positif. Pengkhotbah 9:7 menghimbau, “Minumlah anggurmu dengan hati yang senang.” Mazmur 104:14-15 menyatakan bahwa Allah memberi anggur “yang menyukakan hati manusia.”Amos 9:14 menunjukkan bahwa meminum anggur dari kebun milik sendiri adalah pertanda berkat Allah. Yesaya 55:1 menyarankan, “Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!”

Yang diperintahkan adalah menjauhkan diri dari kemabukan (Efesus 5:18). Alkitab mengecam kemabukan dan akibatnya (Amsal 23:29-35). Juga diperintahkan untuk tidak membiarkan tubuh mereka “diperbudak” oleh apapun (1 Korintus 6:12; 2 Petrus 2:19). Alkitab juga melarang seorang melakukan apapun yang dapat dapat membuat orang jatuh dalam dosa (1 Korintus 8:9-13). Dengan pemahaman prinsip-prinsip ini, sulit sekali untuk mengatakan bahwa dengan minum sampai mabuk maka manusia memuliakan Tuhan (1 Korintus 10:31).

Yesus mengubah air menjadi anggur. Bahkan nampaknya kadang-kadang Yesus minum anggur (Yohanes 2:1-11; Matius 26:29). Dalam masa Perjanjian Baru air tidak selalu bersih. Tanpa usaha sanitasi modern, air dipenuhi dengan bakteri, virus dan segala macam kontaminasi lainnya. Hal yang sama juga terjadi di banyak dunia ketiga pada zaman sekarang ini. Akibatnya orang minum anggur (atau jus buah anggur) karena kecil kemungkinan untuk minuman itu terkontaminasi.

Dalam 1 Timotius 5:23 Paulus menasehati Timotius untuk berhenti minum air (yang barangkali menyebabkan dia sakit perut) dan minum anggur. Di dalam Alkitab, kata bahasa Yunani untuk anggur adalah kata yang umum dipakai sehari-hari. Pada waktu itu minuman anggur difermentasikan tapi tidak sampai ke taraf seperti yang dilakukan saat ini.

Sekali lagi Alkitab tidak melarang orang untuk minum bir, anggur atau minuman lain yang mengandung alkohol. Alkohol itu sendiri tidak dinodai oleh dosa. Yang harus hindari adalah kemabukan dan kecanduan alkohol (Efesus 5:18; 1 Korintus 6:12).

Konsumsi alkohol dengan takaran mencicip atau juga dalam jumlah terkendali adalah sebuah kebebasan juga. Kemabukan dan kecanduan adalah dosa. Terhadap itu, maka tidak sedikit manusia memilih berpantang dari kebiasaan meminum alkohol. Banyak juga yang berpantang secara total.

Guyonan Tentang Yesus Minum Arak

Agar pembaca tulisan ini bisa membandingkan, silahkan klik link berikut : http://www.floresa.co/2018/11/30/laiskodat-kalau-yesus-lahir-di-ntt-ia-pasti-minum-arak/. Perhatikan paragraf pertama kata terakhir “guyon”.  

Guyonan memiliki dua arti. Guyonan berasal dari kata dasar “guyon. Guyonan adalah sebuah homonim, karena arti-artinya memiliki ejaan dan pelafalan yang sama, tetapi maknanya berbeda.

Guyonan memiliki arti dalam kelas nomina atau kata benda sehingga guyonan dapat menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan dan verba atau kata kerja sehingga guyonan dapat menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya.

Guyonan adalah sebuah tindakan bercakap-cakap tidak dengan sungguh-sungguh.

Sejak awal gulirnya pemberitaan tentang “jika…..maka Yesus juga minum arak” – versi kabar pemberitaan, Media Online secara tegas dan sangat terang menulis berita tersebut dengan membubuhi kata guyon.

Terhadap kelakar seperti ini, pertama sebaiknya (lagi-lagi) jangan keburu menghilangkan penegasan kejadian yang sesungguhnya. Sebab, jika dipaksakan, justeru pemaksaan pendapat (tanpa batasan) sangat potensial menggiring pesan keluar dari konteks aslinya. Bisa jadi dengan itu melahirkan juga hoax, kampanye provokasi miring dan seterusnya. Bebas tafsir karena tidak membaca secara saksama.

Berikutnya dapat juga disebut sebagai aksi pendefinisian sepihak dengan modus menghilangkan batasan pernyataan dari lingkup fakta yang sesungguhnya.

Selanjutnya, membawa situasi lain seperti jebakan untuk bertengkar dengan diri sendiri, bukan bertengkar dengan pemberi pernyataan, apalagi bertengkar untuk membela Yesus dan menyebut sebut Alkitab.

Guyonan bisa saja sebagai pemicu, namun apabila guyonan menyebut itu sebagai pesan kitab-kitab dan atau sebagai bunyi ayat dan perikop. Jika tidak, berhentilah mencari-cari dan membentur kesana kemari, tetapi berpeganglah pada konteks agar tidak terbang kemana-mana tanpa kendali.

Kedua, kelakar jenis ini bisa juga dibalikan “jika Yesus lahir di NTT (guyon), kita semua tidak bisa memastikan Yesus tidak mencicipi moke, arak, tuak dan lain-lain, sebab itu bukan air tumbuhan haram dari ciptaan Tuhan.

Kembali kepada kitab, yang haram adalah cara manusia mencicipi arak hingga mabok dengan serakah meneguknya, lalu mabok dan akhirnya tidak lagi membedakan mana hal yang baik dan mana hal-hal buruk usai meneguk arak, moke, tuak, sopi dan lain-lain.

Dalam fenomena pernyataan Gubernur, lagi-lagi Gubernur NTT, Viktor Laiskodat tidak sekalipun menyebut bahwa guyonannya merupakan bunyi dari sebuah kitab dalam agama. Tidak ada penyebutan pasal dan ayat atau Alkitab dalam keterangan berita yang dilansir. Mengapa?. Karena sebuah guyonan. Berhenti disitu.

Kesalahan bisa terjadi jika itu diterangkan sebagai pesan alkitab. Gegabah dan fitnah bisa dilekatkan jika itu disebut sebagai bunyi sebuah perikop, sebab tidak ada alkitab yang menulis demikian dan tidak ada pula perikop yang menulis seperti viral NTT yang lalu ramai di-adu-adu degan kitab-kitab.

Maka harus kembali kepada logika pernyataan, bingkai guyonan. Pertanyaannya, apakah jenis guyonan demikian sama arti dengan menghina?. Tidak.

Dalam sebuah liputan drama kisah sengsara masa Paskah di Paroki San Joanne Baptista Mauponggo wilayah Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, kami awak media meliput jalannya drama kisah sengsara.

Usai peliputan kami diajak makan bersama para Pastor dan umat paroki setempat. Banyak sekali bahan diskusi dan permenungan disampaikan saat itu.

Lalu sempat memulai guyonan seperti ini : setelah berjalan keliling kemana-mana, hari ini saya sangat bahagia, sebab yang bernama Maria ternyata seorang Ibu Bidan yang sehari-hari bekerja di Puskesmas Mauponggo. Yang bernama Yesus ternyata bapak yang sehari-hari adalah seorang petani asal Nagekeo. Yang benama Veronica ternyata seorang Ibu Guru Honorer dengan gaji dibawah standar UMR. Do’a kan lah kami”, kata saya.

Walau beda dengan guyonan seorang Gubernur sebab saya dan kawan-kawan hanya bekerja dan berprofesi penulis berita (wartawan), walau beda konteks dan beda pula segala-galanya, tidak sama dengan guyonan seorang Gubernur, sebenarnya ada kesamaan jika dikaitkan dengan peristiwa penerjemahan pasca Gubernur NTT Viktor Laiskodat menyebut bisa saja Yesus minum moke.

Apa kesamaannya?.

Kesamaannya adalah jika sumbu pendek dan membenturkan guyonan itu dengan kitab-kitab, maka kerangka pikir hanya menjurus kepada satu hal yakni “itu adalah FITNAH. Sebab Kitab tidak menulis Yesus, Maria, Veronica dan lain-lain adalah warga Nagekeo, Bidan dan Guru Honorer.

Namun, sebaliknya, ketika guyonan tidak keburu di-campur adu-kan dengan berbagai bumbu liar, maka sesungguhnya sebuah guyonan tetap kokoh pada posisinya dan benar-benar tidak melecehkan apapun.

Guyonan selalu tidak memproklamirkan tubuh dan dirinya sebagai bunyi firman Tuhan, tidak pula diikuti klaim sebagai isi perikop atau pesan dari para rasul dan seterusnya.

 

Hilangkan Kebiasaan Membaca Judul Berita Tanpa Membaca Saksama Seluruh Isi Berita

Terhadap fenomena seperti ini, dengan menjunjung tinggi hak dewan pembaca terhormat, serta hak interpretasi, penulis menyarankan, pertama, jika membaca surat kabar dan berita koran online, bacalah seluruh isinya dengan saksama, mulai judul hingga akhir berita.

Kedua, sebagai Jurnalis atau wartawan, tulisan ini lagi-lagi tidak untuk membela namun sebagai bagian dari kekayaan pendapat warga NTT, sebab penulis adalah juga warga NTT.

Marilah memberi arti pada sebuah pernyataan dengan tidak keburu menghilangkan jati diri pernyataan itu sendiri dari konteksnya.

Dengan mengadu pernyataan guyonan vs kitab-kitab, bisa jadi ada kegagalan tersendiri dalam mengerti kelakar dan ataupun sebuah guyonan.

Terhadap konteks viral NTT, tentu, guyonan memiliki batasan, diantaranya tidak boleh diklaim sebagai bunyi alkitab, perikop, ayat-ayat. Sejauh ini tidak ada itu dalam fakta.

Selamat berpendapat):

Hal Alkohol Dalam Kristen Dan Kegagalan Mengerti Guyonan

Penulis : Aurelius Do’o, Wartawan, tinggal di Flores.