Home Artikel Berpolitik Ala Yesus

Berpolitik Ala Yesus

133
0

Oleh Anthony Tonggo*

Analisa Politik :

NATAL bukanlah peristiwa agama, tapi peristiwa budaya, karena Natal berasal dari bahasa Latin (atau Portugis?) yang berarti kelahiran. Zaman Yesus, Natal belum ada. Natal baru ada pada 200 Masehi, artinya 200 tahun setelah Yesus lahir. Jika umur Yesus 30 tahun, maka Natal baru ada setelah 170 tahun Yesus wafat. Justru kebiasaan merayakan hari ulang tahun pada awalnya dari tradisi raja Fira’un dan Herodes (yang terakhir inilah yang memusuhi Yesus). Gereja Katolik sendiri mulai merayakan hari lahir Yesus dan diterima luas pada abad ke-5, kira-kira 470-an tahun sesudah Yesus wafat.

Jika Natal cuma sebuah perayaan ulang tahun, maka maknanya adalah pesta, makan-makan, minum mabuk, joget, dll. Itu adalah tradisi kaum bangsawan (raja) yang sudah ditiru para orang biasa, termasuk kita, saat ini. Ini adalah perayaan yang berusaha dimaknai, termasuk gereja memaknainya sebagai tanda “immanuel”, Allah beserta kita.

Jika kita telusuri (injili) motivasi Allah menghadirkan Yesus di muka bumi, maka sebenarnya kelahiran Yesus adalah peristiwa politik. Yesus datang untuk menggantikan ideologi kekuasaan para raja dan kaisar yang penuh dengan kelaliman harus diganti dengan ideologi “cinta”. Cinta itu lembut, murah hati, mudah memaafkan, dll. Jadi, Natal adalah peristiwa politik dimana ideologi cinta mulai digaungkan untuk melawan dan merobohkan seluruh kekuasaan yang lalim. Ini berarti Yesus pun dilahirkan untuk menjadi politisi.

Namun, apa kekuasaan Yesus selama hidup? Yesus bukanlah pemimpin yang punya kekuasaan. Yesus bukan Ketua RT hingga presiden. Yesus bukan DPD di desa hingga DPR/DPD/MPR. Dia bukan siapa-siapa, tetapi pengikutnya banyak hingga hari ini sudah mencapai sekitar 4 miliar orang di seluruh dunia. Ajaran cintanya sudah diterima hampir seluruh umat manusia, meskipun sulit untuk diterapkan (tapi tidak ada yang menolak).

Bagaimana Yesus berpolitik? Tanpa kekuasaan, tapi Yesus tetap diikuti orang banyak. Bahkan Yesus sudah wafat pun masih saja ada pengikutnya hingga hari ini. Di mana letak rahasianya? Ternyata ada di ideologi: cinta.

Bagaimana dengan dunia politik kita?
**

Politik Tanpa Ideologi

ANDA coba menyebut nama-nama wapres selama 73 tahun kita merdeka? Anda lupa, kan? Tidak semua Anda hafal, kan?

Coba Anda sebut nama-nama kapolri selama 73 tahun kita merdeka? Sebut nama-nama menhankam/pangab? Sebut nama-nama orang Indonesia yang pernah jadi menteri? Sebut nama-nama dirjen? Sebut nama-nama gubernur, wagub, bupati dan wabup di daerahmu? Sebut nama-nama mantan ketua parpol atau bahkan ketua parpol yang sedang menjabat? Sebutkan mantan dan anggota legislatif yang kita miliki dari pusat hingga daerah Anda?

Anda sulit sekali menyebut semua, kan? Jangankan menyebut semua, menyebut separuh saja pun Anda kesulitan. Saya pun kesulitan menyebut nama-nama mereka.

Namun, siapakah yang tidak tahu Soekarno, Soeharto, Gus Dur, Jenderal Polisi Hoegeng, Jenderal Soedirman, Ahok, Achmad Dahlan, Kiai Ashari, Kasimo, Frans Seda, dll.? Mengapa mereka ini lebih mudah dihafal orang ketimbang yang lainnya? Jawabnya adalah karena mereka ini berpolitik dengan menjalankan dan meninggalkan ideologi, terlepas dari apakah ideologi itu buruk atau baik. Yang ideologi buruk akan dikenal karena ideologi buruknya, seperti Soeharto dengan top-down dan otoriternya, Hittler dengan pembantaian lewat nazi-nya, Soekarno dengan proklamasi kemerdekaan dan Pancasilanya, dll.

Jadi, jutaan penguasa atau politikus lainnya tidak dihafal orang banyak itu karena berpolitik tanpa ideologi. Tanpa ada sistem, tanpa model yang bisa duacukan dan ditinggalkan jejaknya. Jadinya sedang berkuasa pun orang tidak hafal, begitu turun dari kekuasaan tambah lagi orang tidak hafal. Yang mudah dihafal orang kecuali kalau sudah diciduk KPK, karena hafal keburukannya.

Curi politikus yang tidak punya ideologi itu cenderung tanpa etika. Menghalalkan segala cara. Tidak mengakukan sistem atau model baru, tapi cenderung melakukan duplikasi yang sudah ada, asalkan rakyat masih senang memilihnya.

Ciri lain dari politikus tanpa ideologi, sistem, atau model adalah melayani apa pun peintaan masyarakat. Minta jembatan, bangun jembatan. Minta gedung, bangun gedung. Minta bola, belikan bola. Minta jalan, bangunkan jalan. Bahkan minta rokok, minta alkohol, minta beras, minta baju, termasuk atas nama subsidi, BLT, tunjangan, dll. pun dikasih.

Setelah semuanya dikasih, tetap saja angka Index Pembangunan Manusia (IPM) buruk. Hal ini karena antara sumber masalah dengan solusinya tidak tepat. Atau istilah mantan bupati Ende, Don Wangge, dalam debat pertama pilkada Ende 2018, dengan “sakit di kaki obat di kepala”.

Ketidaktepatan solusi itu sangat erat hubungannya dengan mutu seorang politikusnya. Politikus yang tidak punya ideologi akan cenderung sporadis asal suka-suka, tanpa landasan akademik yang jelas, tanpa landasan filsafat atau ideologi yang jelas.

Pertanyaannya: Bagaimana membangun ideologi?
**

Membangun Ideologi

JIKA Anda mau berpolitik yang mudah dikenal dan dikenang rakyat, meski sudah tidak berkuasa sekalipun, maka harus seperti Yesus, seperti Sidharta Gautama, seperti Gandhi, seperti Soekarno, seperti Ahok, seperti Lincoln, seperti Mandela, seperti Hoegeng, seperti Jenderal Soedirman, seperti Gus Dur, dll.; punya ideologi yang jelas. Punya model yang ditawarkan, punya sistem yang jelas sebagai pembaharuan. Jangan cuma modal niat berkuasa!

Ideologi (isme) itu filsafat. Sistem dan model itu metodologi. Jadi, kalau Anda mau berpolitik, Anda harus punya modal filsafat, punya metodologi. Kalau hanya punya modal teriak, poster, dan uang, maka meskipun sepanjang hidup Anda punya kekuasaan, tapi Anda tidak punya pengikut (kecuali para pemburu rokok-uang bensin-makan-proyek) dan mudah dilupakan orang.

Tapi kalau Anda punya filsafat dan metodologi, maka sudah tidak berkuasa sekalipun, tetap saja ada pengikutnya. Salah satu contoh orang-orang politik yang tidak punya ideologi dan metodologi adalah harus menampilkan nama dan gambar Soekarno, Soeharto, Gus Dur, Jokowi, dll. sebagai latar belakang poster dirinya. Kalau daya menjadi pemilih, saya tidak akan memilih caleg, capres, cagub, cabup, calur/cakades yang berlindung dibalik tokoh lain. Sudah jelas bahwa dirinya tidak punya ideologi dan metodologi. Akhirnya, selain tidak prestasi, sudah pakai nama dan gambar Soekarno, Gus Dur, Kiai Ashari, Kiai Achmad Dahlan, kok korupsi.

Dengan ideologi, sistem, dan model yang dimiliki maka sebuah fenomena akan digali hingga ke sumber masalahnya baru dibuatkan kebijakan. Dengan ideologi, sistem, dan model yang dia punyai, semua permintaan masyarakat tidak selamanya diayani, karena hanya yang berkorelasi positip dengan tujuan negara itulah yang dilayani.

Supaya punya ideologi dan metodologi, maka wawasan dan kecerdasan perlu diandalkan.

Sebentar lagi mau pileg dan pilpres. Sudah ada jutaan politikus yang siap menyodorkan dirinya untuk dipilih. Sudahkah Anda punya ideologi? Sudahkah Anda punya sistem dan model pembangunan yang ditawarkan? Sudahkah masyarakat memilah caleg/capres/cawapres yang berideogi, bersistem, dan bermodel?

Pengalaman membuktikan kita selalu salah memilih dan kita pun kesulitan menemukan calon yang mumpuni. Semoga musim pemilu kali ini kita bisa belajar dari yang lalu-lalu.

Jika Anda tidak punya ideologi, sistem, dan model sebagai modal dalam berpolitik serta Anda tidak peduli untuk memilih calon yang memiliki tiga modal tadi, maka sia-sialah Anda nerayakan Natal tahun 2018 ini. Padahal, hakikat politik dalam Natal adalah lahirnya politisi yang bermental baru, yang berideologi baru, yang bersistem dan model baru, termasuk lahirnya pemilih baru yang tidak lagi memilih berdasarkan uang, jabatan, suku yang sama, kelompok yang sama, agama yang sama, dll.

Jika pola politik dan memilih kita masih tetap buruk, maka Natal hanyalah sebuah pesta pora. Hari Ulang Tahun Yesus cuma disepertikan ulang tahun kita-kita ini. Samakah ulang tahun Yesus dengan hari ulang tahun kita-kita? Jawaban ada di tangan Anda, terutama yang mengaku dirinya sebagai pengikut Yesus!

Selamat Natal…!!! (**). *Anthony Tonggo, Alumnus FISIPOL UGM, tinggal di Yogyakarta.