Home Serba-serbi Aparat Desa Asal Kawalelo Tewas Gantung Diri

Aparat Desa Asal Kawalelo Tewas Gantung Diri

296
0
ilustrasi bunuh diri

Aparat Desa di Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong ditemukan tewas tergantung di Pohon sekitar pantai Dusun Likutuden, Rabu (26/12). Belum diketahui latar belakang warga Desa berinisial YK (38) nekat mengakhiri hidupnya. Sebelumnya korban sempat menelpon beberapa kali pada kerabat dan rekan kerjanya.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari keluarga dan kerabat, korban tak terlihat murung dan  tidak menunjukan  sikap aneh sejak malam hari. Pihak keluarga pun awalnya tak menaruh curiga. Hingga pagi hari, istri dan anak korban pergi ke Gereja untuk tanggungan kor di Bama pada perayaan Natal ke-2.

Setelah menerima telpon dari korban kurang lebih pukul 08.57 Wita, Ebi Watokola, kerabat korban, menaru  kecurigaan atas tindakan korban.  Eby yang juga rekan kerja korban bersama beberapa kerabat dari dusun teneden bergegas menujuh ke lokasi yang telah disebutkan korban melalui obrolan telpon. Mereka berusaha mencari lokasi tersebut untuk melihat kondisi korban dengan berjalan menyusuri pantai. Saat itulah didapati korban sudah dalam kondisi tergantung pada seutas tali yang diikat pada sebuah  pohon sekitar area Pantai Likutuden.

“saya melihat korban sudah dalam keadaan leher terikat dengan seutas tali nilon berukuran 6 Mili. Posisi korban menghadap ke laut, lalu saya berteriak histeris untuk memanggil rekan-rekan yang lain untuk datang membantu” katanya

Saat diturunkan, korban sudah dalam kondisi meninggal dunia. Pihak keluarga sudah menerima kejadian tersebut, dan korban dimakamkan hari itu juga di makam Desa setempat.

“Sementara untuk penyebab aksi nekat korban, masih didalami. Sebelumnya korban sudah dua kali melakukan percobaan bunu diri.   Pihak keluarga korban juga belum tahu permasalahan apa yang dialami korban” pungkasnya.

Pandangan Dan Sikap Masyarakat Terhadap Bunuh Diri

Adat  juga menjadi titik tolak perlakuan masyarakat terhadap pelaku tindakan bunuh diri. Hal ini tentunya menjadi kesulitan tersendiri bagi masyarakat Desa Kawalelo. Peristiwa bunuh diri merupakan kejadian pertama yang dialami masyarakat setempat.

Menurut Kepala Desa Kawalelo Paulus Ike Kola ketika menghadapi kematian tidak wajar yang dilakukan oleh salah satu warganya berlaku kebiasaan bahwa tubuh orang yang mati bunuh diri langsung dikuburkan dan tidak boleh dibawa ke Gereja. Bahkan, ada juga larangan bahwa tubuh orang yang bunuh diri dikuburkan terpisa di makam Gereja.  Begitu pula dengan ritual adat yang dijalankan sama sekali tidak dilakukan sesuai kebiasaan pada umumnya.

“ Hari ini kita langsung menguburkan almahrum dan setelah itu kita melangsungkan spidi alma/nebo.  Kematian seperti ini adalah kali pertama yang terjadi di sini. Tidak ada tenda duka dan doa arwah ataupun pelayanan doa sebagaimana biasanya. Saya berharap kita semua termasuk keluarga menerima dan memaklumi kejadian ini”  

Tindakan bunuh diri memberikan gambaran bahwa hidup seakan sudah tidak berarti lagi bagi sebagian orang di masa ini. Begitu mudahnya seseorang mengakhiri hidupnya oleh karena berbagai masalah yang dihadapinya. Seakan-akan, tidak ada lagi jalan keluar yang dapat diambil selain mengakhiri hidup. Bunuh diri menjadi satu-satunya jalan keluar yang dapat diambil; bunuh diri tiba-tiba menjadi solusi ketika masalah kian menumpuk dan menekan kehidupan seseorang.

mengutip KATEKISMUS GEREJA KATOLIK yang dikeluarkan Vatikan tahun 1993 dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia tahun 1995 oleh Propinsi Gerejani Ende Flores. Tentang “bunuh diri” :

“2280 Tiap orang bertanggung jawab atas kehidupannya. Allah memberikan hidup kepadanya. Allah ada dan tetap merupakan Tuhan kehidupan yang tertinggi. Kita berkewajiban untuk berterima kasih karena itu dan mempertahankan hidup demi kehormatan-Nya dan demi keselamatan jiwa kita. Kita hanya pengurus, bukan pemilik kehidupan, dan Allah mempercayakannya itu kepada kita. Kita tidak mempunyai kuasa apa pun atasnya.”

Gereja katolik tidak merestui bunuh diri dengan alasan pertama yang sangat masuk akal. Ini alasan adikodrati dalam kaitannya manusia dengan penciptanya. Hidup yang mengalir di diri kita ini bukanlah milik kita sendiri, tetapi hanya titipan dari Tuhan sang pencipta dan pemilik sejati. Oleh karenanya manusia, tidak berhak untuk memusnahkannya. Bunuh diri sama beratnya dengan membunuh orang lain.

    “2281 Bunuh diri bertentangan dengan kecondongan kodrati manusia supaya memelihara dan mempertahankan kehidupan. Itu adalah pelanggaran berat terhadap cinta diri yang benar. Bunuh diri juga melanggar cinta kepada sesama, karena merusak ikatan solidaritas dengan keluarga, dengan bangsa dan dengan umat manusia, kepada siapa kita selalu mempunyai kewajiban. Akhirnya bunuh diri bertentangan dengan cinta kepada Allah yang hidup..”

Alasan kedua bersifat: kodrati, alamiah, dan sosial. Bunuh diri melawan dorongan kodrat “mempertahankan hidup” dan melanggar hukum cinta kepada diri sendiri dan sesama. Dorongan naluriah setiap orang adalah agar terus hidup (dorongan ini asli, terbawa sejak lahir, ada pada setiap pribadi, … mestinya ditanam oleh Tuhan sendiri). Orang normal  akan sekuat tenaga mempertahankan hidup. Sakit diobati, kalau ada bahaya menghindar atau membela diri.  bunuh diri jelas-jelas mengabaikan keinginan itu.

Secara social bunuh diri mempunyai akibat lanjutan yang tidak baik bagi orang-orang lain di sekitarnya terutama keluarga. Ingatlah, keluarga selain berduka juga akan menanggung malu. Entah Bagaimana pun Gereja berdoa untuk mereka yang bunuh diri. Tidak seperti jaman dulu. Ketika itu yang terpikir bunuh diri adalah dosa besar dengan alasan  di atas. Karena itu, orang yang bunuh diri tidak boleh didoakan secara katolik. Kini pandangan dan ajaran itu sudah dikoreksi … Walau begitu,  bunuh diri tetap tidak dibenarkan. Lantas Apakah pelaku dan keluarga akan mendapat pelayanan kedukaan yang berbeda dengan biasanya atau sama saja dengan yang lainnya, atau bahkan tidak??