Home Opini Workshop Mini Menuju Deklarasi Flotim Gempur Stunting

Workshop Mini Menuju Deklarasi Flotim Gempur Stunting

133
0
Flores Timur, Larantuka
Workshop Flores Timur Melawan Stunting

Bertempat di Aula Sekretaris Daerah Kabupaten Flores Timur, Jumad (9/11/2018), Forum Pangan dan Gizi Flores Timur dan Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial yang didukung SNV (Stichting Nederlandse Vrijwilligers) serta difasilitasi oleh Pemda Flores Timur melalui Dinas Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (DP4D) Kabupaten Flores Timur menggelar workshop mini. Worshop dimaksudkan sebagai persiapan Deklarasi Flores Timur Gempur Stunting. Dalam arahan pembukaannya, Kepala Dinas DP4D, Theodorus Hadjon, mengajak para peserta untuk menyatukan pemahaman dan tekad untuk melawan stunting. “Spirit gempur stunting menjadi spirit bersama dan gerakan para pihak serentak membangun sinergi untuk mengatasi masalah stunting,” tegas Theo. Baginya, upaya ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tiga pilar pembangunan dalam kempemimpinan politik Bupati Antonius Gege Hadjon yakni pendidikan, kesehatan dan pariwisata.

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama. Umumnya hal ini terjadi karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Menurut UNICEF, selain pertumbuhan terhambat, stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang buruk. Stunting dan kondisi lain terkait kurang gizi, juga dianggap sebagai salah satu faktor risiko diabetes, hipertensi, obesitas dan kematian akibat infeksi.

Workshop dipandu oleh Pastor Yansen Raring, Pr, dari Keuskupan Larantuka. Pastor Yansen tidak hanya memfasilitasi peserta untuk merumuskan naskah deklarasi melainkan berproses bersama peserta untuk membangun pemahaman-pemahaman bersama terkait stunting yang dalam konteks Flores Timur dipandang sebagai masalah yang tidak ringan. Peserta juga dihantar untuk melakukan kajian SOAR untuk menggali kekuatan, peluang, harapan dan hasil yang akan dicapai terkait aksi-aksi dan kegiatan menggempur stunting di Flores Timur. Bagi Pastor Yansen, masalah yang tidak ringan ini mesti dihadapi dengan gempuran yang sistematis, terstruktur dan masif.

Pastor Marianus Dewantoro Welan, salah satu peserta workshop menegaskan bahwa stunting di Flores Timur harus digempur dari pelbagai sudut oleh pelbagai pihak. “Semuanya demi masa depan Flores Timur, demi menyiapkan generasi emas di masa yang akan datang,” tegas Pastor Nus.

Menurut hasil riset 2018 Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Propinsi Nusa Tenggara Timur menduduki posisi tertinggi angka status gizi buruk dan gizi kurang dari seluruh propinsi di Indonesia. Direncanakan dalam waktu dekat, Kementerian Kesehatan akan merilis proporsi status gizi buruk dan gizi kurang perkabupaten.

Mini workshop diikuti oleh sejumlah stakeholder di Flores Timur di antaranya Dinas Kesehatan, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Pertanian dan Perkebunan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah; Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana; Dinas Sosial, BPBD, Delsos Keuskupan Larantuka, Yaspensel Keuskupan Larantuka, PSE Keuskupan Larantuka, Foranzi dan sejumlah LSM di Flores Timur. Dalam rencana panitia deklarasi, momen deklarasi akan digelar pada Nopember 2018 dengan menghadirkan tim dari Kementerian Kesehatan Republk Indonesia.

Anselmus D. Atasoge