Home Artikel Tradisi Perkawinan Lamaholot; Antara Bibit, Ladang dan Panen

Tradisi Perkawinan Lamaholot; Antara Bibit, Ladang dan Panen

163
0
Perkawinan Lamaholot
Perkawinan Lamaholot

Masyarakat Flores Timur kaya akan tradisi dan budaya. Hampir di seluruh proses dan momen kehidupannya selalu ditandai dengan tradisi, entah kelahiran, proses kehidupan, perkawinan hingga kematian akan selalu berhadapan dengan tradisi.

Khusus dalam tradisi perkawinan, masyarakat adat Flores Timur yang sering juga disebut Lamaholot memliki beberapa rangkaian tradisi hingga menuju ke hari perkawinan bahkan masih ada tradisi yang dilakukan setelah pesta perkawinan. Proses Hantaran Sirih Pinang yang dalam bahasa Lamaholotnya disebut dengan Pana Hua Malu adalah proses menghantarkan segala bahan dan kebutuhan untuk perayaan pesta perkawinan oleh pihak keluarga calon mempelai pria kepada pihak keluarga calon pengantin wanita, pun kental dengan simbol dan makna yang tersirat dari berbagai barang hantaran yang dibawa dan juga ungkapan-ungkapan adatnya.

Beberapa idiom yang paling sering dipakai oleh penyampai pesan keluarga adalah kata ‘ere’ (bibit), ‘netak’ (lahan/ladang), ‘sikat’ (membersihkan lahan/ladang), dan ‘tubak’ (menanam). Kata-kata ini sangat erat kaitannya dengan urusan pertanian atau berladang. Pasangan calon mempelai dan pengantin diibaratkan sebagai bibit yang siap ditanam dan menghasilkan buah yang bernas dan bermutu. Layaknya bibit, keduanya akan secara resmi ‘ditanam atau disemai’ di gereja melalui proses penerimaan sakramen perkawinan, dan siap  memulai kehidupan perkawinan dan berumah tangga.

Penggunaan ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan persoalan agraris dapat dipahami karena dahulu masyarakat Flores Timur masih begitu bergantung pada hasil pertanian sebagai penghasil utama sumber makanan. Kedekatan masyarakat dengan alam menjadikan alam sebagai sebuah contoh ideal layaknya dalam perkawinan. Masyarakat Flores Timur percaya bahwa panen yang bernas datang dari bibit yang baik pula. Dan, bibit yang baik harus disemai atau ditanam pada waktu dan tempat yang benar dan baik pula.

Bibit yang baik yang melambangkan kedua calon pengantin akan secara resmi ‘ditanam atau disemai’ di ladang yang bersih yang disimbolkan oleh gereja yang selanjutnya terbentuk sebuah institusi keluarga, dengan harapan dapat tumbuh secara baik dan subur  dan menghasilkan panen berupa anak-anak yang bernas dan bermutu baik.

Pesan-pesan dari tradisi ini adalah sebuah pesan yang tetap relevan dan bernas bagi kehidupan perkawinan dan berumah tangga bagi generasi muda Lamaholot yang hendak menapaki kehidupan berumah tangga.