Home Artikel Tata Ruang Kota Larantuka dalam Upaya Penyelamatan Orang Muda

Tata Ruang Kota Larantuka dalam Upaya Penyelamatan Orang Muda

72
0
Focus Discussion Group - Simpasio Institut (Foto: Annie Hallan)

Simpasio Institut kembali menggelar sebuah lokakarya peduli tata ruang kota Larantuka. Bertolak dari Visi pemerintahan Kabupaten Flores Timur dalam kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati periode 2017-2022 yakni Desa Membangun Kota Menata. Berkaitan dengan penataan kota dapat dipahami sebagai upaya pengadaan ruang dan peluang bagi warganya untuk melakukan aktivitas sesuai kebutuhan. Maka kota menata tidak hanya dimaknai dalam artian penataan dan pembangunan fisik. Sehingga ada konektivitas antara ruang secara fisik dan aktivitas hidup masyarakat.

Salah satu Misi dari Visi tersebut adalah Penyelamatan orang muda. Hal ini berarti bahwa kota menata hendaknya memberi ruang dan peluang bagi orang muda untuk pengembangan diri dan aktualusasi potensi. Sejauh mana kondisi kota Larantuka saat ini telah menjawabi kebutuhan orang muda yang dimaksud dan bagaimana perencanaan tata ruang kota Larantuka ke depannya yang mengakomodir kebutuhan orang muda? Hal ini yang memotivasi Simpasio Institut untuk menyelenggarakan Lokakarya Tata Ruang Kota Larantuka dalam upaya penyelamatan orang muda.

Tujuan dari kegiatan ini adalah mengidentifikasi kondisi tata ruang kota Larantuka saat ini dalam kaitan dengan kebutuhan pengembangan diri dan aktualisasi potensi orang muda, dan menggagaskan tata ruang kota Larantuka yang ideal bagi upaya penyelamatan orang muda.

Peserta Kegiatan ini terdiri dari lima Sekolah di Kota Larantuka, yakni SMAK Frateran Podor, SMA Negeri 1 Larantuka, SMAK St. Fransiskus Asisi, SMAK St. Darius dan SMK Suradewa dengan jumalh peserta 12 orang pelajar se-Kota Larantuka. Kegiatan ini sudah berlangsung sejak tanggal 14 Oktober 2018. Di mana peserta dibekali dengan beberapa materi seperti: Materi Teori Kota oleh Tim Planologi, Materi Metode Penelitian oleh Ansel Atasoge, Materi Penulisan Karya ilmiah oleh Bernard Tukan dan Materi Dasar-dasar Fotografi oleh Mariatmo Lein. Kegiatan ini berlangsung di Simpasio Institut dan berlanjut di Pantai Kota Sau.

Setelah dibekali dengan materi yang ada, peserta dibagi dalam dua kelompok dan dibimbing oleh para mentor untuk turun ke lokasi yang dipilih. Kelompok pertama memilih melihat lebih dalam tentang Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada Taman Kota Felix Fernandez dan Taman Pantai Besar. Untuk kelompok kedua lebih memfokuskan diri pada aktivitas orang muda dalam memenuhi tata ruang kota. Sebulan lebih mereka berada di lapangan dan pada Sabtu 17 November 2018 mereka melaporkan hasil temuan mereka dan hasil wawancara mereka dengan instansi terkait serta masyarakat yang mereka jumpai dalam Focus Group Discussion (FGD).

FGD dihadiri oleh beberapa pemerhati tata ruang baik dalam kalangan “orang tua” maupun anak muda. Diskusi ini sangat sederhana dan sangat bermanfaat bagi semua kalangan yang hadir. Diskusi yang berlangsung di RM. Lopo Palo Sarotari tengah ini terasa begitu berkesan. Sesilia Awe salah satu tamu undangan mengucapkan sangat bahagia menghadiri diskusi ini. Ini kali pertama Ia menghadiri acara yang digelar Simpasio Institut dan Ia mengatakan jarang sekali ada komunitas anak muda dan peduli kota dengan cara seperti ini, mau mengajak dan berbagi dengan banyak orang. Sesilia memberikan beberapa masukan demi kesempurnaan kegiatan lanjutan dan menyarankan hasilnya bisa direkomendasikan ke pemerintah. Zaeni Boli, guru SMK Suradewa ini juga mendukung sekali kegiatan ini dengan memberi beberapa masukan yang bermakna dalam diskusi ini.

Sementara itu, Randy Diaz, seorang Arsitek dan salah satu anak muda peduli tata ruang kota Larantuka mengungkapkan rasa syukurnya karena bisa mengikuti diskusi ini walau sempat terhalang hujan. Randy membagikan pengetahuan mengenai Skripsinya yang berkaitan dengan tata ruang kota Larantuka dalam hal ini kawasan wisata rohani Semana Santa dan berbagi ilmu yang diperoleh selama ini.

Ada juga Mans Tukan salah satu pemerhati tata ruang kota Larantuka, Beliau mengungkapkan bahwa ruang itu bersifat dinamis, kapan saja bisa berubah. Dan pemerintah sulit memenuhi ruang untuk masyarakat karena keadaan yang dinamis sepanjang waktu. Beliau menjelaskan tentang Kota, Ruang, pemanfaatan dan beberapa pertimbangan tertentu apabila pemerintah tidak membangun suatu ruang yang diharapkan. Mans menyarankan jika mau kota hidup maka hidupkan dunia malam seperti aktivitas anak muda yang kreatif, sehingga kota terlihat lebih ramai.

Suasana Diskusi FGD Simpasio Institut – (Foto: Annie Hallan)

Bernard Tukan selaku direktur Simpasio Institut juga memberikan beberapa pujiaan kepada peserta kegiatan serta membacakan puisi bertajuk cinta yang dituliskan beberapa menit sebelumnya. Bernard sangat bangga atas hasil yang sudah dicapai serta proses yang selama ini dilalui. Beliau menyarankan beberapa hal demi penyempurnaan kegiatan selanjutnya.

Dan Pada akhirnya Aristian Tolan mengungkapkan bahwa sebenarnya semua yang ada itu tanggung jawab kita bersama, bukan pemerintah atau kalangan tertentu saja.

Setelah selesai berdiskusi semua peserta merencanakan tindak lanjut kegiatan setelah FGD dan diputuskan akan ada kelas menulis karya ilmiah, kembali turun ke lapangan memastikan beberapa data, Lomba inovasi kota dan seminar terbuka. Setelah itu dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat bagi semua peserta kegiatan oleh Direktur Simpasio Institut Bernard Tukan.

Annie Hallan ketua pelaksana mengungkapkan suksesnya kegiatan ini karena kerja keras Tim Kreatif Simpasio Institut yang tidak kenal lelah menyukseskan acara ini. Ia sangat bersyukur kegiatan ini bisa berlangsung dengan baik walau sempat resah karena hujan. Mari torang ato kota bua torang jadi Noka. Annie juga menghaturkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam menyukseskan kegiatan ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, Kepada peserta kegiatan dan Sekolah yang sudah mempercayakan anaknya terlibat dalam kegiatan ini, Kepada instansi yang bersedia diwawancarai, Kepada para pemerhati tata ruang kota Larantuka. Akhir kata Annie mengajak semua orang untuk peduli terhadap Tata ruang kota Larantuka karena ini merupakan tanggung jawab bersama.