Home Artikel Tanpa Menulis, Agama Pun Tanpa Kitab

Tanpa Menulis, Agama Pun Tanpa Kitab

214
0

“Kepandaian setinggi langit tetapi tidak menulis, akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” kata Pramoedya Ananta Toer.

Salah satu cara dalam peradaban manusia menularkan keahlian bagi kelanjutan peradaban adalah dengan cara menulis.

Seluruh Kitab Iman dalam Agama-agama pun berbentuk tulisan-tulisan. Tanpa tulisan, maka agama pun bernasib Iman tanpa Kitab.

Barangkali demikian yang dimaksud Pramoedya Ananta Toer bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Dengan tulisan, manusia meneruskan segalanya kepada generasi selanjutnya dan dunia ini. Maka sangat disayangkan ketika akal sebagai hadiah Sang Ilahi tidak mengalir untuk peradaban melalui tulisan.

Bisa dibayangkan jika segala ilmu tidak diturunkan melalui tulisan.

Saya sendiri juga tidak mengenal secara langsung sejumlah nama manusia berikut ini: Plato, Albert Einstein, atau juga Soekarno dan kawan-kawan sebagai pendiri Bangsa ini, Pramoedya Ananta Toer, Ignas Kleden, Daniel Dakidae dan lain-lain. Mereka semua saya ketahui lewat karya-karya, tertulis, ditulis, tulisan-tulisan.

Mereka tidak mati sebab tulisan-tulisan itu selalu hidup, dikerjakan manusia dan dikembangkan.

Ataukah para tokoh tersebut bisa menulis karena mereka adalah orang-orang berbakat. Sebaiknya jangan berpikir terlalu tinggi-tinggi. Tulislah pemikiran atau perenungan walau cuma satu paragraf. Upayakan rajin membaca, diskusi ataupun merenung untuk mendapatkan pasokan gizi dan energi otak guna menulis.

Mengatakan “tidak tahu menulis” adalah bentuk penyangkalan yang sangat kasar terhadap gerakan pendidikan dan atau sekolah bagi manusia. Satu minggu pertama menjejakan kaki pada bangku Sekolah Dasar, di sana manusia sudah dilatih untuk menulis.

Menulis menjadi pekerjaan wajib sejak Kelas Satu Sekolah Dasar, bahkan mulai Kelompok Bermain diperkenalkan penulisan huruf, angka dan lain-lain.

Ambil buku catatan, sediakan pena, atau juga hidupkan komputer dan mulailah menulis. Tidak perlu terlalu tinggi-tinggi, mulailah belajar menuangkan gagasan, pemikiran dan hasil perenungan secara paragraf.

Tidak ada manusia yang langsung sukses. Kesempatan sangat banyak untuk memperbaikinya. Ala bisa karena biasa. Dari titik itu perlahan mengetahui bahwa ternyata anda juga sebenarnya seorang ahli dalam dunia menulis. Tinggal nanti dilihat anda ahli menulis sejarah, sastra, politik, agama, hukum, teknologi, berita atau menulis tentang masakan-masakan menu dapur, dst.

Lalu posting dan atau tayangkan tulisan pendek anda pada halaman buku tulis. Zaman sudah sangat maju pesat, bisa langsung dipautkan pada dinding akun facebook, WA dst, atau juga halaman grup agar ia bisa bermanfaat buat orang banyak dan abadi dibaca sesama.

Jangan sampai kepintaran luar biasa, tapi tidak satupun dituliskan bagi peradaban. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, Anda akan hilang dari sejarah dan masyarakat. 

Siapa Pramoedya Ananta Toer? Jujur saja, saya tidak sekalipun bertemu orang ini. Saya tidak tahu. Tetapi dengan menulis, Pramoedya Ananta Toer hidup di mana-mana, menjadi tamu agung dan salah satu penjasa bagi peradaban, hidup selamanya.

Pramoedya Ananta Toer adalah seorang sastrawan terbesar di Indonesia. Banyak karyanya sebagai sastrawan yang sangat produktif. Pramoedya Ananta Toer lahir pada tanggal 6 Februari 1925 di daerah Blora di Jawa Tengah. Ayahnya bernama Mastoer Imam Badjoeri yang berprofesi sebagai seorang guru di sebuah sekolah swasta dan ibunya bernama Saidah bekerja sebagai seorang penghulu di daerah Rembang.

Selamat Menulis*

Tanpa Menulis, Agama Pun Tanpa Kitab.
Penulis: Aurelius Do’o, Wartawan