Home Artikel Mengapa Yusril Berbalik Arah Dukung Jokowi-MA?

Mengapa Yusril Berbalik Arah Dukung Jokowi-MA?

809
0

Ada pertanyaan menarik dari seorang perempuan di salah satu WAG yang ditujukan pada saya, kenapa Prof. Yusril yang awalnya mati-matian mencaci maki Jokowi kemudian berubah 180 derajat beralih mendukung dan menjadi tim pengacara Jokowi-MA?

Apakah karena Prof. Yusril takut kalah menghadapi tantangan debat dengan Mas SHE?

Hemmm.. Ini pertanyaan yang mengundang selera saya untuk kembali menulis dan mengupas analisa saya tentang perubahan sikap politik seseorang yang baru kemarin petantang-petenteng mencaci maki Jokowi tapi kemudian hari ini tiba-tiba berbalik mendukung Jokowi bahkan rela menjadi pengacara Jokowi tanpa dibayar.

Begini menurut pendapat saya, pertama, Prof. Yusril itu tiba-tiba berubah 180 derajat mendukung Jokowi-MA pastilah bukan karena takut menghadapi tantangan debat saya, memangnya saya ini siapa?

Saya hanyalah pencari ilmu biasa yang masih memiliki banyak kekurangannya. Masih banyak hal yang belum saya ketahui dari ilmu pengetahuan yang Tuhan tebarkan di bumi ini, kecuali hanya sedikit saja. Prof. Yusril berbalik mendukung Jokowi pasti karena ada alasan yang lebih tepat dari itu, yakni Prof. Yusril sudah tau kemana arah kemenangan dalam Pilpres 2019 nanti yaitu berada pada pihak Jokowi-MA.

Bagi Yusril yang merupakan petualang politik itu sangatlah mudah membaca peta politik, sebagaimana ia tahu bahwa partainya (PBB) akan kembali menjadi partai gurem di Pemilu 2019 hingga beliau harus mendapatkan kepastian untuk mendapatkan kekuasaan. Jadi menteri lagi kan lumayan.

Kedua, Yusril itu meskipun sudah profesor, akan tetapi beliau merupakan salah seorang tokoh politik yang telmi (telat mikir), karena beliau yang saya ikuti pemikirannya semenjak tahun 1994, sudah berkali-kali mendapatkan serangan pemikiran dari tokoh-tokoh intelektual hebat seperti (alm) Prof. Dr. Nurcholish Madjid, (alm) Gus Dur dll. tapi nampaknya Yusril masih saja tetap bertahan dengan argumentasinya yang rapuh, lemah sampai sekarang.

Dari dahulu Yusril selalu saja bertahan mendirikan partai politik sektarian, primordial yakni partai politik Islam. Yusril sepertinya masih tidak bisa mengerti apalagi memahami bahayanya menjadikan agama sebagai tunggangan meraih kekuasaannya, meskipun selalu berakhir kalah. Yusril seolah-olah tidak pernah puas menumpas para lawan-lawan politiknya jika Yusril belum menggunakan Islam sebagai tombak politiknya, padahal lawan-lawan politiknya juga beragama Islam.

Yusril seakan menganggap Islam itu yang hanya ada dalam pemikirannya, sedangkan pemikiran orang muslim lainnya dianggapnya sampah yang tidak sesuai dengan Islam. Yusril seolah melihat dunia ini begitu sempit dan yang ada hanyalah sosok Mohamad Natsir, tokoh Masyumi yang sangat diidolakannya, olehnya dari tahun ke tahun yang dijadikan pedoman politik Yusril ya sepertinya hanya pemikiran politik Mohamad Natsir dan yang lain-lainnya seakan tidak pernah mendapatkan tempat di pikirannya apalagi di hatinya.

Salahkah itu? Tidak, karena terlepas dari kekurangannya, Mohamad Natsir merupakan pemikir hebat di zamannya, dan tidak pernah membela koruptor. Meski demikian sangat nyata sejarah politik kenegaraan Indonesia telah “menginterupsi” pemikiran Mohamad Natsir dengan dibubarkannya Partai Masyumi yang didirikannya oleh Pemerintahan Soekarno, dan NU menyatakan keluar darinya dan membentuk partai politik sendiri di zaman Orde Lama. Haqul yakin Prof. Yusril sudah malang melintang membaca karya-karya monumental pemikir-pemikir politik, agama maupun hukum yang hebat seperti Soekarno hingga Mahatma Gandhi, KH. Hasyim Al Asy’ari hingga pemikir terkemuka Mesir Muhammad Abduh, Muhamad Yamin hingga Hans Kelsen, tetapi herannya mengapa Prof. Yusril lagi-lagi kembali ke Muhamad Natsir?

Belum tamatkah Prof. Yusril membaca polemik Prof. Dr. Nurcholish Madjid vs Muhamad Roem mengenai Ilusi Negara Islam? Belum tamatkah Prof. Yusril mengikuti dialektika politik Nasionalis vs Islam Politik antara Ir. Soekarno melawan Kartosuwiryo atau Abdul Kahar Muzakir? Belum tamatkah Prof. Yusril mengamati polemik pemikiran Islam antara Gus Dur vs Ridwan Saidi, Lukman Harun dan Ahmad Soemargono? Prof. Yusril sebenarnya sudah sangat tua untuk membahas hal itu, tetapi mungkin karena obsesinya yang terlalu besar untuk menjadi presiden dengan gemar melakukannya dengan segala cara yang tidak dibenarkan oleh hukum negara maupun agama, maka Tuhan merabunkan pikiran dan mata hatinya.

Ketiga, sudah terlalu banyak kemaksiatan politik yang sudah dilakukan oleh Prof. Yusril selama 4 tahun lebih Pak Jokowi menjabat presiden bahkan sebelum Pak Jokowi menjabat sebagai presiden. Ada puluhan arsip yang HARIMAU JOKOWI miliki untuk menjerat Prof. Yusril dalam perkara tindak pidana, khususnya yang berkenaan dengan fitnah, pencemaran nama baik pada Kepala Negara, serta pembelaannya pada Ormas terlarang yang ingin merebut kekuasaan negara secara tidak sah dan ingin mengganti Pancasila dan UUD 1945. Semua arsip yang kami miliki itu suatu saat dapat dijadikan bukti di persidangan jika saja kami benar-benar mau melaporkan Prof. Yusril pada Bareskrim Polri.

Namun sekarang tiba-tiba Prof. Yusril telah merapat ke Pak Jokowi-MA dan menjadi pengacaranya tanpa dibayar. Mungkin karena alasan-alasan yang saya sebutkan di atas itulah Prof. Yusril berbalik arah dukungan politiknya. Tapi ya sudahlah, kita sebagai hamba Tuhan yang pemaaf haruslah memaafkannya. Begitu saja agar kita kelak meninggalkan dunia tanpa beban dendam. Beres toh? Wallahu a’lam bissawab…(SHE).

Jakarta, 5 November 2018.

Penulis: Saiful Huda Ems (SHE). Advokat dan penulis yang menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Harimau Jokowi (HARJO).