Home Artikel Mengapa Riuh Karena Menyebut Hal Bodoh Dan Miskin Tidak Masuk Surga

Mengapa Riuh Karena Menyebut Hal Bodoh Dan Miskin Tidak Masuk Surga

514
0

Oleh: Aurelius Do’o

Akhir-akhir ini publik NTT heboh dengan berbagai penafsiran terhadap pernyataan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Laiskodat, atau seperti dilansir Kompas Online, Orang Bodoh dan Miskin Tidak Masuk Surga.

Spontan reaksi pembaca menghiasi berbagai rubrik media sosial. Ada yang hanya membaca judul berita lalu komentar berapi-api, ada yang membaca judul dan isi berita lalu memberikan tanggapan dan ada juga yang hanya melihat postingan dari olahan screenshoot berseliweran, lalu gaduh.

Rasanya lumrah ketika publik menaruh mata, telinga, pikiran dan hati menukik kepada kolom pernyataan viral itu. Sebab pernyataan tersebut adalah pernyataan seorang Gubernur terpilih.

Namun apakah yang dimaksud oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Laiskodat dalam pernyataan tersebut merupakan bunyi dari Kitab-Kitab Spiritual atau Iman sebagaimana kesaksian tentang Allah?

Coba diikuti dulu pesan di balik pernyataan tersebut. Belum tentu menabrak makna yang sesungguhnya.

Baiknya jangan terburu-buru menciptakan benturan sebab keseluruhan formulasi pernyataan, atau sebagaimana diberitakan, juga tidak nampak satu pun pernyataan yang menerangkan itu bunyi ayat ini dan atau pasal itu.

Jika demikian, “masih perlu kah pernyataan tersebut dibenturkan dengan Kitab Iman ataukah tudingan pernyataan itu seperti mau membuat diri Tuhan dari NTT”?

Sungguh tidak perlu. Sebab pernyataan tersebut pun tidak menulis pesan dan ataupun klaim diri sebagai Tuhan dan seterusnya.

Mencermati siapa sesungguhnya pembuat pernyataan yang akhirnya viral dan mengundang begitu banyak reaksi lepas dari kalangan masyarakat, maka jawabannya adalah itu pernyataan Bung Viktor Laiskodat, Gubernur Nusa Tenggara Timur terpilih.

Tanpa bermaksud mengintervensi cara baca dan cara cerna, di sini secara independen, penulis coba mengajak membaca dari aspek subyek pemberi pernyataan, yakni Viktor Laiskodat yang juga diketahui kokoh dalam semangat juang untuk Nusa Tenggara Timur.

Bisa disederhanakan dengan cara melihat, membaca, menakar dan meresapi rangkaian pernyataan dengan mengulas visi besar salah satu putera daerah asal NTT di antara deretan putera daerah NTT era kini, yakni Viktor Laiskodat. Diketahui subyek pemberi pernyataan juga adalah salah satu putera daerah asli NTT yang tengah bersuara lantang dan gigih mengajak seluruh elemen di Nusa Tenggara Timur untuk bersama-sama membawa NTT maju dalam era baru usai menerima estafet NTT untuk era kini.

Jika diamati secara sungguh-sungguh, parade pernyataan terbuka Viktor Laiskodat di hadapan publik rata-rata didominasi suara keberpihakan yang cukup tinggi dan atau bernafaskan pembelaan terhadap orang-orang kecil, untuk bersama-sama keluar dari keterbelakangan, melawan perdagangan manusia, memberhentikan aksi-aksi mafia, berteriak melawan korupsi, menjadikan NTT mampu keluar sebagai salah satu provinsi yang memiiliki brand image konstruktif atau juga mau menjadikan NTT sebagai salah satu role model yang membanggakan, dan seterusnya, maka dengan variable character terang benderang dan yang bisa ditafsir seperti ini, sesungguhnya tidak begitu sulit untuk menyerap pesan dari pernyataan miskin dan bodoh tidak masuk surga.

Logika paling sederhananya adalah bukan kah yang dimaksud miskin itu adalah miskin anti korupsi, miskin memberantas mafia perdagangan manusia tanpa peri kemanusiaan dan keadilan, miskin pemerataan, miskin mempercepat pengentasan pemajuan NTT, miskin keberpihakan anggaran terhadap sektor-sektor kebutuhan manusia dan pembangunan berbagai scala prioritas unggul untuk NTT dan daerah-daerah, miskin ketegasan melawan korupsi, miskin kerja jujur, miskin bersuara lantang untuk perubahan, miskin kinerja perubahan dalam sektor-sektor real di daerah, miskin menjadi teladan, miskin mewujudkan tekad dan kepercayaan rakyat agar menjadikan NTT sebagai salah satu provinsi yang sesungguhnya merupakan provinsi terindah dan maju pesat diantara jejeran daerah di Indonesia, dan seterusnya?

Bukan kah bodoh yang diserang itu juga bermakna bodoh menata harapan untuk NTT Bangkit, bodoh membela suara rakyat, bodoh menaikan progres pemajuan sejumlah sektor kekayaan alam NTT, bodoh menegakan keadilan dan kebenaran, bodoh melawan para koruptor dan mafia, bodoh bersuara kritis terbuka dan seterusnya?

Mengapa bodoh dan miskin yang dilontarkan oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur seolah-olah dipersempit ruang gerak makna dan bahkan bergejala dipelintir untuk dibenturkan dengan kitab-kitab? Atau karena adanya kata “Surga” dalam pernyataan tersebut? Namun jika pun ada kata surga, sesungguhnya bukan bencana, asalkan tidak keburu dimiskinkan dan ataupun dipagari kekayaan maknanya.

Sebab, jika cerdas melawan korupsi, jika tidak miskin keberanian melawan perdagangan manusia, apabila tidak miskin menggerakan visi dan kerja nyata, ketika tidak bodoh membela kepentingan wong cilik di NTT, dan seterusnya, apakah teori surga keliru pada pernyataan itu? Tentu tidak, bahkan itulah ciri umat beriman dan pemimpin yang takut pada Allah.

Penulis bukan pembela pernyataan dan bukan juga sebagai juru bicara Gubernur Nusa Tenggara Timur. Tulisan sangat sederhana dengan sedikit pisau analisa ini hanya sebagai upaya berbagi pikiran dan cara pandang, agar NTT tidak keburu memagari makna dari kekayaan pesan yang terkandung dari sebuah pernyataan. Apalagi keburu membenturkan dengan ayat-ayat suci dan ataupun kitab-kitab kudus secara pragmatis dan bersifat kesimpulan dini.

Hingga tulisan ini diturunkan, Penulis belum sekalipun bertemu langsung atau juga bertatap muka apalagi mengirim pesan dan memiliki nomor kontak person dengan sang Gubernur Nusa Tenggara Timur, Vikktor Laiskodat.

Hanya mengajak membaca sebuah cara pandang.

Mengapa Riuh Karena Menyebut Hal Bodoh Dan Miskin Tidak Masuk Surga. Wassalam

Penulis: Aurelius Do’o. Wartawan. Tinggal di Flores-NTT