Home Tulisan Lepas Kisah Kesetiaan Berlayar Menjembatani Kehidupan

Kisah Kesetiaan Berlayar Menjembatani Kehidupan

95
0
ASDP

Siang. Panas. Bau knalpot dan aroma laut. Bising suara mesin kapal dan mobil serta truk. Kadang, ayam dan babi pun jadi penumpang. Bertumpuk-tumpuk karung berisi pisang, kelapa dan mangga berjejer di belakang kapal, di antara genangan minyak dan oli kapal.  Penumpang memadati dek atas, dan yang sedikit berdompet tebal memilih kamar VIP, sebagian lagi menggelar tikar dan koran di dek kapal, terselip di antara ban mobil. Saat kapal tak menyisakan ruang lagi, penumpang rela berhimpitan di tangga kapal hingga ke anjungan sekedar menyandarkan tubuh dan kepala.

Situasi seperti ini menjadi pemandangan umum dalam kapal fery. Sejak beroperasi di NTT, termasuk di Larantuka sekitar tahun 1990-an, kapal fery telah menjadi urat nadi transportasi dan distribusi penduduk dan barang yang sangat penting perannya dalam kehidupan dan perekonomian masyarakat. Situasi dan kondisi dalam kapal Ferry sejak pertama kali dioperasikan oleh PT. ASDP. Banyak cerita dan pengalaman menjadi kisah tersendiri bagi setiap orang yang pernah memanfaatkan jenis transportasi ini.

Seiring berjalannya waktu, harga tiket kapal Ferry pun disesuaikan dengan harga yang tetap terjangkau oleh dompet masyarakat umum. Namun, tak semua penumpang ‘taat’ untuk membeli tiket. Di setiap pelayaran, masih ada saja penumpang yang membayar tiket dengan uang tunai di atas kapal dengan pertimbangan lebih murah daripada harga tiket meskipun sudah berulang kali ditegaskan untuk harus membeli tiket. Hal ini pastinya konyol karena jika terjadi kecelakaan, tentunya penumpang ini akan bermasalah dengan urusan asuransi.

Kapal Ferry itu seperti kampung besar di atas laut. Penumpangnya datang dari semua lapisan masyarakat; pengusaha, pejabat, petani, hingga mahasiswa. Ada yang bersepatu, namun ada yang bersendal jepit, ada yang berkemeja, namun ada juga berkaos oblong. Ketika kapal Ferry mulai berlayar, dan yang terdengar hanyalah bunyi deburan ombak, maka dengarlah percakapan orang-orang di atas kapal, pasti dapat ditebak asal mereka. Wajah-wajah penumpang adalah wajah kebanyakan pribumi yang lekat dengan kerja keras, totalitas dan kesederhanaan. Kapal Ferry adalah ruang bertukar cerita yang sangat menarik. Orang-orang tidak sekedar berbagi cemilan, kerupuk, buah jeruk atau air minum dengan penumpang di sebelah yang baru dikenal namun juga berbagi cerita dan pengalaman. Tak jarang, benih-benih perkenalan ini lalu tumbuh jadi benih cinta. So sweet! Namun kini, ketika ponsel sudah mengambil alih perhatian para penumpang, maka penumpang di sebelah seperti orang asing, padahal tanpa disadari, bila ada sesuatu yang terjadi dengan kapal ini, bisa saja penumpang di sebelah bisa jadi penolong loh!

Jangan berharap Anda dapat tidur dengan nyaman di atas kapal fery karena kapal fery tidak menyediakan fasilitas untuk tidur yang nyaman, mungkin karena kapal ini dirancang untuk pelayaran dengan jarak pelayaran yang pendek, bukan antar pulau yang jauh seperti kondisi geografis NTT umumnya. Untuk sekedar tidur, penumpang hanya mengandalkan kursi untuk merebahkan kepala. Di dek bawah, tikar dan koran dapat digelar untuk menghabiskan malam di atas kapal. Kalau ada yang mendengkur, ya anggap saja bonus. Brrr!

Bila seorang mahasiswa yang akan diwisuda di Kupang, biasanya keluarganya akan membawa seekor babi untuk menggelar pestanya, maka babipun ikut berlayar ke ibukota propinsi. Jadi, kapal Ferry itu seperti google, berisi apa saja; dari mobil ekspedisi, pick-up, mobil pribadi hingga sepeda motor; beras, kayu, aneka komoditas seperti ubi, jagung, mangga, asam, jambu mete, juga ternak seperti ayam, babi, hingga kambing. Jadi, sudah sangat terbiasa ketika penumpang harus berbagi tempat duduk atau bahkan tempat tidur dengan kambing yang ada di sebelah, atau saat sedang menikmati tidur malam yang nyenyak, Anda dikejutkan dengan suara babi yang tiba-tiba bangun karena kaget mendengar suara mesin kapal.

Saat pagi menyingsing, dan perlahan gunung Ile Mandiri menyembulkan kepalanya, kapal Ferry akan berlayar di antara pulau Solor dan Flores, lalu pulau Waibalun menyambut kapal Ferry sambil tersenyum genit. Segelas kopi panas di dalam bekas gelas mineral, menjadi teman yang tepat menuju pelabuhan Waibalun sembari menyiapkan barang bawaan. Leher yang kaku dan badan yang lumayan pegal akibat tidur yang tidak nyenyak terbayar sempurna dengan sebuah suasana pagi yang begitu hangat dan menarik. Laut yang tenang, debur kecil ombak mencium kapal, menyatu dalam keheningan pagi yang mengakrabkan. Namun, petualangan dan cerita belum berakhir. Kondektur angkutan dan bis yang kadang ‘nakal’ menginspeksi setiap penumpang, menjadi bagian tersendiri dari cerita di atas kapal Ferry. “Maumere, Ende! Maumere, Ende! Om, Ende om?”

Saat kaki melangkah keluar dari kapal, sejatinya sepotong pengalaman, cerita dan petualangan akan tetap tertinggal di dalam kapal fery, menunggu untuk dilanjutkan di suatu hari. Jalur penerbangan pesawat yang semakin gencar dibuka dan peningkatan kuantitas pelayaran setiap minggunya serta promosi potongan harga tiket pada hari-hari khusus tak pernah menjadi saingan untuk besi tua apung ini. Kapal Fery tetap akan jadi pilihan, saat dompet tak selalu tebal, saat tak dikejar waktu, saat pengalaman dan cerita yang terpotong menunggu untuk disambung, kapal Ferry akan tetap berlayar, menjadi jembatan yang setia untuk semua harapan, cita-cita dan kehidupan.