Home Artikel Harus Ketahui Kata Kunci Terkait Bodoh Dan Miskin Tidak Masuk Surga

Harus Ketahui Kata Kunci Terkait Bodoh Dan Miskin Tidak Masuk Surga

355
0

Oleh: Aurelius Do’o

“Menurut Viktor, orang disebut kaya jika memiliki kekayaan spiritual, kaya intelektual, kaya networking dan kaya kesehatan”, demikian dilansir RANAKA NEWS, Rabu (28/11/2018) pagi”.

Kian menarik karena untuk menakar suatu pernyataan patut mendalami kata kunci, isi dan roh dari sebuah pesan yang hendak disampaikan.

Kali ini penulis mencoba lebih sederhana menulis cara pandang dengan mengutip penegasan atas pernyataan yang berangkat dari kata-kata kunci di balik sebuah pernyataan.

“Orang Miskin dan Bodoh Tidak Masuk Surga”, kata Gubernur NTT, Viktor Laiskodat. Selanjutnya, sejumlah kata kunci disampaikan Gubernur NTT, Viktor Laiskodat.

“Orang disebut kaya jika memiliki kekayaan spiritual, kaya intelektual, kaya networking dan kaya kesehatan.”

Menarik, sebab Gubernur NTT, Viktor Laiskodat menempatkan kata kunci Kekayaan Spiritual pada poin pertama. Sebuah kata kunci yang sesungguhnya tidak boleh dilewatkan agar pelayaran pencarian makna dapat bertolak lebih ke dalam, dan atau tidak terkesan bagai dongeng pemancing ikan yang meletakkan alat mancingnya di bibir pantai.

Penegasan kekayaan spiritual, sesungguhnya secara terang benderang mengutarakan pesan “miskin spritual memang tidak masuk surga”. Tidak keliru dan tepat sesuai penegasan kitab spiritual apapun yang ada di dunia ini.

Dilarang menginginkan hak milik orang lain, dilarang mencuri, dilarang bersaksi dusta, dilarang menipu dan seterusnya, adalah barisan pesan spiritual yang juga diyakini sebagai fondasi gerak dari kaum beriman di bumi Pancasila ini. Pesan-pesan itu harus menjadi peristiwa dan atau perbuatan. Belum lagi kita mengenal “iman tanpa perbuatan adalah mati”.

Terhadap penegasan kekayaan spiritual dalam aksi nyata misalnya, jika direnungkan dalam kaitan dengan NTT sebagaimana berulangkali ditegaskan, maka dapat dilihat ada benang merah dari pesan tulisan sebelumnya yang juga tidak sekedar berpendapat.

Sebelumnya penulis menyentil sedikit visi dan pergerakan perjuangan riil Gubernur NTT, Viktor Laiskodat dalam bingkai panggilan dan ketegasan untuk NTT era baru.

Kurang lebih seperti ini ulasan sebelumnya, diketahui subyek pemberi pernyataan juga adalah salah satu putera daerah asli NTT yang tengah bersuara lantang dan gigih mengajak seluruh elemen di Nusa Tenggara Timur untuk bersama-sama membawa NTT maju dalam era baru usai menerima estafet NTT untuk era kini.

Jika diamati sungguh-sungguh, parade pernyataan terbuka Viktor Laiskodat di hadapan publik rata-rata didominasi suara keberpihakan yang cukup tinggi dan atau bernafaskan pembelaan terhadap orang-orang kecil.

Selainitu juga mengajak bersama-sama keluar dari keterbelakangan dengan menciptakan terobosan-terobosan perubahan, baik melalui kebijakan maupun pola regulasi yang menguntungkan masyarakat.

Berikutnya perang melawan perdagangan manusia, memberhentikan aksi-aksi mafia, berteriak melawan korupsi, menjadikan NTT mampu keluar sebagai salah satu provinsi yang memiiliki brand image konstruktif atau juga mau menjadikan NTT sebagai salah satu role model yang membanggakan, dan seterusnya, maka dengan variable character terang benderang dan yang bisa ditafsir seperti ini, sesungguhnya tidak begitu sulit untuk menyerap pesan dari pernyataan miskin dan bodoh tidak masuk surga.

Jika demikian, logika paling sederhana adalah bukankah yang dimaksud miskin itu adalah miskin anti korupsi, miskin tekad dan tindak memberantas mafia perdagangan manusia, miskin pemerataan, miskin mempercepat pengentasan pemajuan NTT, miskin keberpihakan anggaran terhadap sektor-sektor kebutuhan manusia dan pembangunan berbagai scala prioritas unggul untuk NTT dan daerah-daerah, miskin ketegasan melawan korupsi, miskin kerja jujur, miskin bersuara lantang untuk perubahan, miskin kinerja perubahan dalam sektor-sektor real di daerah, miskin menjadi teladan, miskin mewujudkan tekad dan kepercayaan rakyat agar menjadikan NTT sebagai salah satu provinsi yang sesungguhnya merupakan provinsi terindah dan maju pesat diantara jejeran daerah di Indonesia, dan seterusnya.

Bukankah bodoh yang diserang itu juga bermakna bodoh menata harapan untuk NTT Bangkit, bodoh membela suara rakyat, bodoh menaikan progres pemajuan sejumlah sektor kekayaan alam NTT, bodoh menegakan keadilan dan kebenaran, bodoh melawan para koruptor dan mafia, bodoh bersuara kritis terbuka dan seterusnya?

Sebab, jika cerdas melawan korupsi, jika tidak miskin keberanian melawan perdagangan manusia, apabila tidak miskin menggerakan visi dan kerja nyata, ketika tidak bodoh membela kepentingan wong cilik di NTT, dan seterusnya, apakah teori surga keliru pada pernyataan itu? Tentu tidak, bahkan itulah ciri umat beriman dan pemimpin yang takut pada Allah.

Maka, bisa ditemukan jawaban, apabila NTT tidak bodoh dan miskin dalam bingkai penegasan perubahan, maka NTT tidak mungkin seperti hari ini. NTT bisa jauh lebih berkembang dan rakyat pun sepakat provinsi ini tidak layak dijuluk hanya menunggu nasib Nanti Tuhan Tolong.

Kembali ke kata kunci “Kekayaan Spiritual” sama dengan tidak boleh miskin spiritual, sebab miskin spiritual sama dengan tidak masuk surga. Penggalan kata spiritual sesungguhnya berasal dari kata spirit dan Spirit mengandung arti semangat, kehidupan, pengaruh, antusiasme.  Spirit sering diartikan sebagai ruh atau jiwa. Jadi arti kiasannya adalah semangat atau sikap yang mendasari tindakan manusia.

Jika dikonfrontir dengan ilmu agama dan ataupun refleksi iman, sesungguhnya korelasi masuk surga dalam penekanan kata kunci kekayaan spiritual memang sebuah keharusan yang mesti dipenuhi siapapun di muka bumi ini.

Bisa jadi Gubernur NTT tengah mengirim pesan untuk tidak miskin dalam perbuatan nyata, karena kita adalah kaum umat beriman. Sebaliknya miskin spiritual bukanlah ciri umat beriman, apalagi iman tanpa perbuatan yang adalah mati. Maka genaplah, hal masuk surga dan tidak masuk surga itu dalam keyakinan religi kaum Pancasilais.

Mengapa bodoh dan miskin yang dilontarkan oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur seolah-olah dipersempit ruang gerak makna dan bahkan bergejala dipelintir untuk dibenturkan dengan kitab-kitab? Atau karena adanya kata “Surga” dalam pernyataan tersebut? Namun jika pun ada kata surga, sesungguhnya bukan bencana, asalkan tidak keburu dimiskinkan dan ataupun dipagari kekayaan maknanya.

Harus Ketahui Kata Kunci Tentang Pernyataan Bodoh Dan Miskin. Jika tidak, maka bisa jadi masih cukup minim ketertarikan kita menjadi agen of change untuk NTT tercinta. Sebaliknya cenderung memperkuat pemiskinan, ketertinggalan menakar cara pandang dan sebuah tujuan besar dari agenda perubahan, bahkan bisa jadi potensial turut serta memenangkan kegelapan. Wassalam

Penulis: Aurelius Do’o, Wartawan. Tinggal di Flores-NTT