Home Artikel Analisa Politik: Prabowo Dalam Kemelut Boyolali

Analisa Politik: Prabowo Dalam Kemelut Boyolali

346
0
Anthony Tonggo, Alumnus Fisipol UGM

Mengapa Terjadi dan Bagaimana ke Depan

PIDATO Prabowo di hadapan masyarakat Boyolali, Jateng, akhirnya berujung ribut. Masyarakat Boyolali protes karena tersinggung dengan pernyataan Prabowo.

“…tapi saya yakin kalian tidak pernah masuk hotel-hotel tersebut. Kalian kalau masuk, mungkin kalian diusir, karena tampang kalian tidak tampang orang kaya. Tampang-tampang kalian yang tampang Boyolali ini…”

Kini Prabowo harus menerima kenyataan diprotes, didemo, bahkan ada yang mau membawa ke proses hukum, hingga ajakan menghukum Prabowo secara politik dengan tidak memilih Prabowo di 2019. Ancaman politik ini tidak main-main, karena datang dari seorang Bupati Boyolali.

Pertanyaannya: Mengapa orang Boyolali marah? Jawabannya pasti mudah, ya karena Prabowo menghina orang Boyolali. Namun pertanyaan berikutnya: Apakah kalau Prabowo bukan capres, masihkah Prabowo dimarahi? Atau kalau itu keluar dari mulut Jokowi, masihkah ada kemarahan? Bahkan, kalau itu keluar dari orang biasa, termasuk sesama orang kecil Boyolali, masihkah ada kemarahan dari masyarakat Boyolali?

Untuk menjawab dengan pasti semua pertanyaan tadi memang membutuhkan penelitian klarifikasi di lapangan. Namun pertanyaan yang menariknya adalah: Apakah Prabowo berniat untuk menghina masyarakat Boyolali?
**

Tingkat Kesalahan Prabowo : Kontekstual dan Tekstual

ADA dua wilayah yang bisa dinilai, yaitu secara kontekstual dan tekstual. Kontesktual itu kalau dilihat dari keseluruhan isi pidato dan tujuan forum itu digelar serta seluruh kehidupan Prabowo saat ini. Sedangkan secara tekstual adalah pernyataan yang memang ada dan tertera (seperti kutipan saya di atas tadi).

Pertama, Kontekstual. Puluhan tahun terakhir ini Prabowo adalah pemain politik nasional. Secara khusus, Prabowo ingin menjadi Presiden RI, termasuk saat ini dia adalah salah satu CapresĀ  Pilpres 2019.

Langkah Prabowo menuju Boyolali pun hendak berkegiatan politiknya. Prabowo pun pasti tahu, bahwa Boyolali dan Jateng adalah “kandangnya” banteng moncong putih (PDI-P) sebagai partai pendukung utama Jokowi sebagai rivalnya.

Prabowo tentu membutuhkan dukungan suara dari semua masyarakat Boyolali, Jateng, dan Indonesia. Untuk itu, isi pidato Prabowo di sana adalah membeberkan fakta persoalan
bangsa saat ini (kesenjangan) dan menyatakan tekadnya untuk mensejahterakan rakyat secara adil dan merata. Ini sudah jadi rumus baku buat politisi untuk meraih dukungan.

Melihat itu, maka posisi Prabowo jadi tidak salah, karena niat awalnya Prabowo sudah suci. Nah, dimana kah yang membuat orang Boyolali marah?

Kedua, Tekstual. Pada kutipan paragraf di atas tadi itulah yang membuat orang Boyolali merasa malu. Mereka merasa terhina.

Sebenarnya, kesalahan seperti ini bisa tergolong kesalahan ringan. Cukup dengan minta maaf, harusnya selesai masalahnya. Mengapa jadi belum selesai?
**

Dilema Kampanye Prabowo

PRABOWO maupun Jokowi bukanlah tokoh sempurna bagi tujuan negara dan masalah kenegaraan kita. Namun karena Jokowi adalah tokoh yang memiliki kualitas di atas rata-rata semua tokoh yang ada, maka Prabowo jadi kesulitan menghadapi kepopularitasan seorang Jokowi. (Anthony Tonggo, Larantuka.com, 2/11/2018).

Di lini prestasi, Prabowo masih tertinggal jauh dari Jokowi. Dari sisi kepribadian, Jokowi unggul jauh.

Dari semua fakta itu, maka sangat dilema bagi Prabowo dalam berkampanye. Satu-satunya pintu halal bagi Prabowo untuk berkampanye melawan Jokowi adalah soal adu visi-missi-dan program. Kalau mau keluar dari itu, berarti akan masuk di jalan haram yang akan dijerat dengan sejumlah aturan dan perundang-undangan. Pernyataan yang diprotes masyarakat Boyolali dan hoaxnya Ratna Sarumpaet itulah contohnya.

Bagaimana kubu Prabowo harus menyikapinya?
**

Sikap Kubu Prabowo

SAAT ini, posisi Prabowo itu ibarat maju-kena, mundur pun kena. Hampir mayoritas pergerakan kubu Prabowo selalu menghasilkan lonjakan elektabilitas buat Jokowi. Artinya, hampir setiap kritikan dan dinamika di kubu Prabowo pada akhirnya jadi bumerang dan justru berlarinya massa ke Jokowi. Sebagian orang memilih Jokowi memang mengagumi kepribadian dan prestasinya, tapi ada juga yang pilih Jokowi karena sudah tidak suka dengan Prabowo.

Contoh paling baru dan telak adalah terbongkarnya hoax soal penganiayaan Ratna Sarumpaet. Kasus itu membuat Jokowi dapat limpahan gratis pendukung. Kasus Boyolali pun akan samakin larinya massa Prabowo ke arah Jokowi.

Untuk itu, dalam kasus Boyolali, jangan lagi ada pembelaan dan jangan mencari kambing hitamnya lagi (terutama ke kubu Jokowi).

Jika hal itu masih dilakukan kubu Prabowo, maka exodus pendukung Prabowo dan massa mengambang akan makin besar ke Jokowi. Sebaiknya DIAM dan MINTA MAAF.

Bagaimana agar tidak terulang kembali?
**

Pilpres 2019 : Lanjutan Pilkada DKI 2016

PRABOWO maupun Jokowi harus sadar, bahwa Pilpres 2019 ini cuma seri lanjutan dari Pilkada DKI 2016.

Di sana-sini isu dan formasi personilnya masih relatif sama. Oleh karena besar kemungkinan bahwa cara-caranya pun akan dilanjutkan ke pilpres 2019, yaitu menggunakan isu agama, PKI, khilafah, etnis, dll. masih sama, bahkan akan ada duplikasi cara.

Ingat, hingga hari ini, massa pendukung Ahok masih fanatik dengan Ahok dan saat ini mereka menjadi pendukung Jokowi. Bagi mereka, membantu Jokowi adalah sama dengan mereka masih membantu Ahok.

Bagi mereka, kubu Prabowo harus dipermalukan di Pilpres 2019. Mereka akan berjuang untuk mengalahkan Prabowo-Sandiaga. Salah satu cara mereka adalah melakukan duplikasi cara kubu Prabowo yang mengalahkan Ahok-Djarot di DKI lalu.

Bila pidato Prabowo di Boyolali itu diprotes dan terjadi gelombang penolakan Prabowo besar-besaran hingga akan membawa Prabowo ke pengadilan, maka ini adalah duplikasi cara kubu Prabowo yang pernah menjerat Ahok dengan pasal penghinaan agama di pilkada DKI lalu.

Jika Ahok tersandung penghinaan agama, maka kini Prabowo tersandung penghinaan suku. Kasus hoax yang dilakukan Ratna Sarumpaet pun duplikasinya juga; beberapa tokoh di kubu Prabowo pun terjerat hukum.

Jadi, kubu Prabowo tidak usah lagi menyalahkan pihak lain yang “menggoreng” peristiwa Boyolali ini, sebab itu sudah meniru gaya kubu tersebut mendepak Ahok dulu hingga masuk penjara.

Menyalahkan cara mereka hanya akan menambah kerugian di pihak Prabowo, karena orang akan membuka kembali lembaran hitam politik pilkada DKI 2016 dan itu akan lebih merugikan Prabowo. Jika saat ini mereka disalahkan, maka akan ketahuan bahwa kubu Prabowo memakai standar ganda yang akan semakin merugikan Prabowo.

Prabowo hanya punya dua pilihan kampanye : 1. Kampanye visi-missi-program (minus menyerang Jokowi) ; dan 2. Diam, sehingga biarkan timsesnya yang berbicara. Tirulah cara Jokowi; cuma diam dan biarkan para pendukung yang berbicara sendiri.

Jika kubu Prabowo tetap dengan gayanya selama ini, maka ibaratnya Prabowo adalah jurkam terbaiknya Jokowi dan timses Prabowo-Shandi adalah timses terbaiknya Jokowi-Ma’ruf.

Kepada semua pihak yang kontra-Prabowo, saran saya, tidak usah lagi melanjutkan Prabowo ke jalur hukum! Bahkan berhentilah protes! Cukuplah sudah protesnya.

Alsannya: 1. Biarlah hidup kita lebih tenang dan bisa berkonsentrasi untuk membangun yang lain, dan 2. Biarlah di luar kubu Prabowo bisa terima dan tenang, sabar, dan cool abis seperti Jokowi.

Semoga dinamika politik ke depan lebih kondusif, tenang, damai, tapi produktif (**)

Penulis: Anthony Tonggo, Alumnus Fisipol UGM, Bukan Pendukung Jokowi dan Prabowo, tinggal di Yogyakarta