Home Artikel Analisa Politik Edisi I: Mengapa Harus Jokowi?

Analisa Politik Edisi I: Mengapa Harus Jokowi?

614
0

Oleh: Anthony Tonggo

Adakah yang Lebih Bagus dari Jokowi?

MESKI tidak sedikit orang yang menolak Jokowi menjadi Presiden, namun kita bertanya: adakah yang lebih bagus dari Jokowi?

Saya akan menjawab pertanyaan ini bukan dari logika para Pendukung Jokowi, tetapi dari logika para Penolak Jokowi.

Kalau dari logika para Pendukung Jokowi ketika ditanya “Mengapa Harus Jokowi?”, maka mereka mudah menjawab dan bercuap sulit dihentikan. Sedangkan kalau dimulai dari logika para Penolak Jokowi, maka pertanyaannya: “Adakah yang lebih bagus dari Jokowi”?

Mari ikuti jawaban di bawah ini.

Kualitas Tokoh vs Masalah Bangsa

KALAU Anda memahami baik-baik tujuan negara ini yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 (Alinea Ke-4), maka apa yang ada selama ini (sejak 1945 hingga hari ini) masih terlalu amat jauh dari garis finish yang ingin kita raih. Bayangkan, negara ini bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, menciptakan perdamaian, mensejahterakan dan memakmurkan rakyat secara adil dan merata, serta ikut menjaga ketertiban dan memelihara perdamaian dunia. Kemiskinan, kebodohan, ketidaksehatan, dan kekacauan masih menjadi sahabat erat negeri ini.

Jika semua tujuan negara ini terwujud, maka negeri ini sudah seperti taman firdaus (bahkan surga) seperti dalam cerita agama. Hidup jadi enak dan indah.

Namun setiap kali Presiden yang sedang berkuasa mesti mendapat serangan habis-habisan dari orang-orang yang merasa diri jauh lebih hebat dari Presiden yang sedang berkuasa. Termasuk sekarang banyak orang menyerang Jokowi dengan tujuan agar Jokowi tidak boleh jadi Presiden lagi.

Pertanyaannya: Apakah kalau Jokowi tidak menjadi Presiden, lantas bangsa ini langsung bisa tiba di finish yang mirip taman firdaus dan surga itu? Atau, minimal, adakah tokoh yang bisa berkinerja lebih bagus dari Jokowi? Jika ada, maka mari kita memilih orang itu.

Tujuan negara yang masih terlalu amat jauh itu karena kita memiliki sejumlah masalah yang terlalu banyak dan parah.

Di lini kecerdasan, kondisi mutu SDM kita masih terlalu rendah. Mutu pendidikan kita masih terlalu rendah. Sebagian besar guru kita masih belum lulus Uji Kompetensi Guru (UKG). Batas Kelulusan Minimum (KKM) saja baru 6,5 pun masih amat banyak guru yang dapat nilai di bawah 5,0.

Bahkan banyak yang dapat 1-3. Sedikit yang bisa meraih 7,5 ke atas. Nilai 10 nyaris tidak ada. Kemendikbud terpaksa telaten untuk gelar diklat buat mereka. Adakah tokoh Indonesia yang bisa menyulap guru-guru kita langsung jadi hebat seketika di saat dirinya jadi Presiden?

Di sisi siswa, banyak sekali kondisi anak-anak kita yang kurang sehat. Tinggi dan beratnya saja sudah bermasakah; ada yang terlalu berat dan ada yang terlalu ringan. Di wilayah timur saja masih banyak orang yang tingginya di bawah standar (1,5 meter ke bawah). Belum lagi kalau kita harus bicara secara kualitatif, misalnya peredaran darah dan oxigennya, jumlah sel otaknya, dll. Siapakah tokoh yang bisa bikin anak-anak kita sehat seketika?. Padahal mutu kesehatan anak pun mempengaruhi efektvitas belajar mereka juga. Anak dengan mutu kesehatan buru akan sulit mencapai prestasi maksimum.

Di sisi kurikulum saja pendidikan kita masih menilai kompetensi dari jawab-menjawab di soal, belum sampai pada menjawab masalah hidup nyata siswa. Guru yang mengajar bahasa saja banyak yang tidak punya keterampilan berbahasa yang baik dan benar, tidak bisa menulis karangan, yang mengajar fisika/listrik saja kalau listrik di rumahnya mati pun masih pontang-panting panggil tukang listrik, dll.

Bahkan masih merasa bahwa makin banyak belajar semakin baik, bukan makin efektif belajarlah yang semakin baik, sehingga sebagian besar waktu anak dihabiskan di sekolah. Jadi, bukan kuantitasnya, tapi kualitasnya. Padahal jam belajar di negara dengan sistem terbaik oleh PBB saja cuma 4 jam per-hari, misalnya Finlandia, Irlandia, Nurwegia, dll.

Nah, semua ini tergantung dari mutu UU Sistem Pendidikan yang dihasilkan DPR. Nah, adakah tokoh yang bisa mengubah sistem pendidikan tanpa harus melalui UU oleh DPR? Adakah tokoh yang ketika jadi presiden dia bisa berbuat di luar UU yang dihasilkan DPR?

Di sisi kemiskinan, banyak faktor yang mempengaruhi. Misalnya, SDM kita lemah, sehingga mutu barang dan jasa kita pastilah rendah. Di saat bilateral dan pergaulan global dunia menuntut era pasar bebas, lalu siapakah tokoh Indonesia yang bisa melakukan proteksi sambil mengingkari perjanjian dunia, dimana Indonesia adalah anggota dari komunitas global itu?

Ketika mutu SDM kita rendah, maka ekonomi yang berasal dari dunia usaha menjadi amat sepi. Orang lebih senang menunggu jadi PNS, TNI, polisi, mengantri lamaran ke sedikit perusahaan yang ada, dan yang lebih suka buka usaha kontraktor untuk memperebutkan uang “jinak” dari APBD/APBN, maka adakah tokoh di negeri ini yang bisa mengubah seketika mutu SDM pencari kerja dan bisa mengerem mental tukang antri proyek APBD/APBN itu, sementara negara ini menjamin kebebasan memilih lapangan kerja?

Saya kira, tidak satu pun tokoh yang bisa menyulap semua itu dalam masa dirinya jadi presiden. Kalau ada yang bilang bisa, pasti dia sudah kebelet mau jadi presiden, sehingga dia mau membohongi rakyat yang tidak tahu masalahnya agar mau memilih dia.

Jika sudah tidak ada tokoh sesempurna itu, maka kita cuma bisa cari tokoh yang lebih baik dari yang ada. Nah, mari kita tengok ke wajah-wajah tokoh kita!

Ciri umum tokoh kita adalah tampil mewah, pencitraan, suka menghimbau tapi tidak menjadi teladan, suka iklankan diri hebat (misalnya isi spanduknya menulis prestasinya atau menyatakan diri sendiri cerdas, beriman, merakyat, dll.), suka menyerang, kalau sedang dituduh pada umumnya suka membela di luar pengadilan (bahkan menghindari proses hukum), aji mumpung (kalau sedang berkuasa maka semua istri-anak-cucu-saudara-tetangga dikasih kemudahan lewat KKN), cara mencari dukungan politik dengan suka mendirikan Ormas dan Parpol, dll.

Kebetulan, semua perilaku itu tidak ada di Jokowi. Jokowi dengan badan, pakaian, dan gaya hidupnya amat sederhana, seperti rakyat kebanyakan. Tidak punya ormas dan bukan pendiri/pimpinan parpol (tapi mampu dikerumuni banyak ormas dan parpol). Anak-istri-cucu Jokowi tidak ada yang terlibat dalam urusan negara dan proyek, bahkan anak putri Jokowi saja tidak lulus tes CPNS di Solo.

Jokowi nyaris tanpa iklan, kecuali para pendukungnya yang bikin iklan. Jokowi tidak pernah menguraikan dirinya cerdas, suci, amanah, dan relijius.

Jokowi tudak pernah nenyerang siapa pun, meskipun serangan untuk dirinya bertubi-tubi. Jokowi tidak pernah nenyerang balik orang yang menyerang dirinya. Jokowi cuma diam dan sibuk bekerja. Kematangan mental seorang Jokowi sudah teruji dan terlihat ketika dirinya diserang gubernur Jateng (Bibit Walyo) dengan menyatakan dirinya (maaf) “goblok” karena Jokowi berani menolak keputusan gubernur (atasannya) yang ingin mengubah bangunan cagar budaya di Solo menjadi mall. Jokowi cuma menjawab: “Oh, ya, aku sing goblok…!” Mental ini langka bagi kebanyakan tokoh kita; berani menolak keputusan atasan dan berani untuk tidak mau gontok-gontokan untuk membela diri. Keberpihakan publik justru makin besar buat Jokowi, sehingga Jokowi-lah yang meraih dukungan 90-an persen suara menuju periode kedua Wallikota Solo, sedangkan Bibit Walyo gagal mempertahankan menjadi gubernur Jateng periode kedua. Jokowi melaju ke DKI-1 dan RI-1, Bibit Walyo sudah senyap tak tahu di manakah rimbanya.

Ketika dalam suasana kemelut, Jokowi tetap tenang dan mengambil keputusan yang tepat. Jokowi cuma mengedepankan hukum, maka para perusuh pun diam. Cuma dengan hukum saja, Risyieq Syihab pergi umroh sudah tidak pulang-pulang. Semua lawan politik yang keterlaluan, Jokowi cuma menyodorkan hukum maka sudah tenang lagi. Jika Risieq bergerak lagi, maka pasti sejumlah masalah hukumnya akan mulai diproses lagi. Bayangkan, sekian banyak lawan politik Jokowi harus diam hanya dengan sandra hukum yang dilakukan Jokowi. Inilah mental negarawan yang mengedepankan hukum.

Andaikan Jokowi pun tidak mampu mewujudkan surga atau firdaus di negeri ini seperti presiden-presiden sebelumnya, tapi minimalnya publik sudah diuntungkan dengan belajar banyak nilai dari seorang Jokowi. Nilai kesederhanaan, rendah hati, ketenangan, tidak suka bertengkar, tidak sombong, tidak banyak bicara, teladan anti-KKN, dll.

Apakah ada tokoh lain di negeri ini yang bisa menawarkan nilai sebanyak itu? Saya yakin, jari telunjuk kita akan sulit menunjukkannya, kecuali cuma satu itu: JOKOWI.

Apakah semua modal kepribadian Jokowi tadi tidak yang membawa dampak positip bagi negara? Mari kita ikuti di bawah ini…!
**

Kerja, Kerja, Kerja

KARENA Jokowi anti-KKN, maka inilah presiden dengan prestasi pembangunan infrastruktur terbaik. Banyak uang yang bisa dipakai buat pembangunan ketimbang yang biasanya buat korupsi. Masyarakat di kampung-kampung pun bisa menikmati jalan, ada kapal yang melayani rute paling pojok sekalipun, bensin di Papua langsung bisa disamakan dengam di Jawa, perjanian dengan Freeport pun langsung bisa digelar dan jauh lebih menuntungkan Indonesia.

Ketangguhan ekonomi di tangan Jokowi pun langsung teruji ketika dollar Amerika melonjak hingga Rp.19.000-an, namun aktivitas ekonomi tetap normal; tidak ada yang menguras tabungannya di bank dan tidak ada perusahaan yang gulung tikar ramai-ramai seperti krisis 97. Ini berarti ketergantungan ekonomi pada AS semakin kecil dan dinamika ekonomi rakyat lokal semakin baik.

Jadi, bahwa kalau ada yang bilang Jokowi tidak boleh jadi Presiden karena bukan pimpin hebat, saya setuju itu. Tapi apakah ada yang lebih baik dari Jokowi? Saya yakin, jari telunjuk kita tetap mengarah ke Jokowi saja. Jokowi bukanlah tokoh terbaik untuk memimpin Indonesia untuk segera mencapai tujannya, tapi tidak ada tokoh yang lebih baik dari Jokowi lagi.

Oleh karena itu, untuk menunjukkan sikap tanggungjawab pada bangsa ini, kita jangan hanya menolak Jokowi untuk menjadi presiden, tapi tunjukkan manakah tokoh yang lebih hebat dari Jokowi? Kalau cuma asal teriak, maka dampak politisnya sangat kecil, kecuali dampak nasi bungkusnya saja yang besar. (*)

Penulis: Anthony Tonggo, Alumnus FISIPOL UGM, Bukan Pendukung Jokowi dan Prabowo, tinggal di Yogyakarta. Keterangan Foto : Anthony Tonggo.