Home Berita Warga Resah Pembiaran Luapan Lumpur Gas Belerang Ulubelu-Ngada Menjalar

Warga Resah Pembiaran Luapan Lumpur Gas Belerang Ulubelu-Ngada Menjalar

291
0

Focus Indonesia News – Pembiaran bertahun-tahun atas bencana luapan lumpur belerang panas di Desa Ulubelu Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada, Flores-NTT akibat kesalahan bor dari proyek  Pembangkit Listrik Panas Bumi di wilayah setempat, telah  mengakibatkan warga merasa sangat terancam keselamatannya. Warga resah, sebab penanganannya pun tak kunjung dilakukan.

Pantauan media ini (27/10) warga mengeluhkan sikap penanganan masalah yang terus menerus dibiarkan, sementara genangan lumpur pun kian bertambah, hingga mengancam badan jalan yang menghubungkan akses antar kampung. Sementara titik-titik luapan baru bermunculan di dalam lahan pertanian warga.

Belasan hektar lahan pertanian sudah tidak terpakai digerus lumpur, sementara tindakan ganti rugi pembebasan lahan pun tidak sepenuhnya diselesaikan, dipastikan masih banyak lahan pertanian milik warga atas korban dampak bencana, belum dibiayai ganti rugi.

Kepada media ini (27/10) para Ibu Rumah Tangga korban bencana lumpur dan polusi gas belerang, warga Desa  Ulubelu Kabupaten Ngada, Maria Ermelinda Ghomu, Regina Dhiu, Olivia Moi dan kawan-kawan mengeluhkan kekhawatiran ancaman keselamatan warga atas dampak lumpur di wilayah mereka, termasuk daftar panjang korban lahan pertanian warga yang mengalami kerusakan berat akibat gas belerang dari kepulan asap tebal yang terus menyembur dari waktu ke waktu selama bertahun-tahun bahkan menyebar bermunculan titik-titik luapan lumpur baru di wilayah mereka.

Sementara penanganan ganti rugi bagi warga yang terkena dampak langsung pun, kata mereka, hanya berupa bantuan atap seng rumah, namun itupun tidak semua rumah menerima bantuan sesuai kebutuhan.

Lebih ironisnya lagi, terdapat sejumlah rumah radius paling dekat dengan lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi, belum terlayani penerangan listrik atau masih menggunakan lampu pelita.

“Seperti yang sudah kami keluh kesahkan ini, kondisinya sangat mengkawatirkan dan penanganan pun hanya begitu-begitu saja”, tegas Maria Ermelinda Ghomu, Regina Dhiu, Olivia Moi dan kawan-kawan.

Pantauan media (27/10) poros luapan lumpur pada titik bekas bor pertama semakin menjalar, bahkan pagar pembatas jalan pun sudah tersapu bersih. Padahal ruas itu adalah jalan penghubung antar kampung yang dilalui warga dan anak-anak sekolah setiap hari. (Red/)