Home Berita Warga Ngada Tertipu Study Genteng Tapi Diantar Ke Tempat Produksi Jamu

Warga Ngada Tertipu Study Genteng Tapi Diantar Ke Tempat Produksi Jamu

619
0
Bencana Luapan Lumpur Panas di Ngada, Flores
Bencana Luapan Lumpur Panas di Ngada, Flores

Focus Indonesia News – Sejak beroperasinya proyek Pembangkit Listrik Panas Bumi di Desa Ulubelu Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur, hasilnya sampai saat ini masih diragukan akibat kekuatan daya listrik yang dihasilkan untuk suplay kebutuhan diduga belum sesuai standart maksimum.

Tidak hanya soal itu, kesaksian mengejutkan warga Desa Ulubelu (27/10/2018) yang terlibat sejak awal dalam pengerjaan proyek tersebut, mengungkapkan adanya program gadungan dibalik janji-janji manis yang disebar dari paketan pembangunan listrik yang memakan puluhan hektar lahan subur masyarakat setempat.

Kepada media ini (27/10) warga Desa Ulubelu, Bernadus Bate mengisahkan kesaksiannya tentang pelatihan pembuatan genteng di pulau Jawa.

Berikut petikan kesaksian warga, Bernadus Bate (27/10).

Dulu awal mula proyek pembangkit listrik ini dikerjakan, kami warga sekitar sini diberikan sosialisasi bahwa akan mendapat penerangan listrik. Lalu kami juga akan dibawa ke Jawa untuk mengikuti pelatihan cara membuat genteng.

Saya bersama beberapa warga direkrut dan diberangkatkan ke Pulau Jawa guna dilatih bagaimana membuat genteng. Pelatihan dibuat agar sekembalinya ke kampung, kami bisa olah usaha pembuatan genteng di daerah, lalu kalau atap rumah seng warga di kampung sini dan kampung radius terdekat rusak karena gas belerang dari polusi proyek ini, pada saat itu kami sudah mempunyai genteng yang dihasilkan sendiri dari pelatihan-pelatihan di Jawa.

Sungguh tidak kami sangka, setibanya di Jawa (nama kota nanti saya beritahu), kami tidak dibawa ke tempat study genteng tetapi dibawa ke tempat cara membuat jamu.

Saya dan kawan-kawan protes, tetapi mereka tidak hiraukan protes dari kami. Akhirnya kami mengalah karena sudah berada di daerah orang. Kawan-kawan saya pun akirnya mengikuti saja. Tetapi saya menolak. Saya tidak mau belajar membuat jamu karena kami datang untuk belajar buat genteng.

Saya lihat sekeliling tidak ada usaha genteng disitu, hanya ada produksi jamu. Kami benar-benar diantar ke tempat buat jamu.

Setelah proyek pemboran panas bumi ini dikerjakan, bukannya listrik yang kami terima, tetapi malah luapan lumpur panas, gas, belerang dan asap dari waktu ke waktu. Lahan pertanian kami habis disapu bencana lumpur yang muncul dimana-mana di kawasan pertanian warga.

Kami sungguh kecewa dan ditipu oleh proyek-proyek yang selalu beri mulut manis kepada masyarakat’, tegas Bernadus Bate. (red/)